Tekanan Angin Ban Kurang Dapat Menyebabkan Ban Bisa Meledak di Jalan
- account_circle Abimanyu
- calendar_month 44 menit yang lalu
- visibility 11

Tekanan Angin Ban Kurang Dapat Menyebabkan Ban Bisa Meledak di Jalan
Pecah ban sering terjadi bukan karena kualitas ban, tapi tekanan angin yang salah. Ini penjelasan teknis dan tips aman dari Auto2000 agar terhindar dari risiko fatal.
OTOExpo.com, Jakarta – Insiden pecah ban di jalan kerap terjadi tanpa aba-aba. Mobil yang tadinya melaju normal, tiba-tiba oleng, disusul suara dentuman yang membuat jantung berhenti berdetak sepersekian detik. Banyak orang langsung menuding kualitas ban sebagai biang kerok. Padahal, akar masalahnya sering kali jauh lebih sederhana dan kerap diabaikan.
Tekanan angin ban yang kurang menjadi salah satu penyebab utama pecah ban yang berujung pada kecelakaan serius.
“Ban adalah komponen vital yang harus dirawat secara berkala. Hal paling sederhana tapi paling krusial adalah memastikan tekanan udara ban sesuai rekomendasi pabrikan,” ungkap Indra, seorang mekanik di Astraotoparts.
Secara teknis, tekanan udara bukan sekadar angka di alat ukur. Ia berperan besar dalam menjaga bidang kontak telapak ban tetap ideal, memastikan daya cengkeram optimal, serta menopang bobot kendaraan secara merata.
Saat tekanannya tepat, ban mampu bekerja sebagaimana mestinya menyerap getaran, menjaga stabilitas, dan merespons perintah kemudi dengan presisi.

Tekanan Angin Ban Kurang Dapat Menyebabkan Ban Bisa Meledak di Jalan
Masalah muncul ketika ban dibiarkan kurang angin. Dalam kondisi ini, bentuk ban berubah tanpa disadari pengemudi. Telapak ban tidak lagi menapak sempurna, dan beban kendaraan tidak tersebar merata. Efeknya bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyentuh aspek keselamatan paling mendasar.
Indra menjelaskan, ada sejumlah dampak serius yang mengintai ketika tekanan angin ban berada di bawah standar.
Pertama, bidang kontak ban menjadi berlebihan dan tidak seimbang. Ban kempis membuat bagian pinggir telapak sisi luar dan dalam bekerja lebih keras dibanding bagian tengah.
Akibatnya, keausan terjadi lebih cepat dan tidak merata. Stabilitas kendaraan pun menurun karena grip ke aspal tidak konsisten, terutama saat menikung atau mengerem.
Kedua, dinding ban bergerak terlalu ekstrem. Tekanan udara yang rendah membuat sidewall ban bekerja di luar batas normal. Dinding ban terus naik-turun mengikuti putaran roda, menciptakan panas berlebih. Di balik kemudi, pengemudi akan merasakan setir terasa berat, mobil kurang responsif, dan cenderung menarik ke satu sisi.
“Dalam kondisi seperti ini, pengendalian kendaraan jelas menurun. Risiko kehilangan kontrol meningkat, apalagi saat mobil dipacu di kecepatan tinggi,” jelas Indra.
Dampak paling berbahaya muncul pada tahap ketiga: risiko ban pecah atau terlepas dari pelek. Saat dinding ban terlalu lentur, struktur anyaman kawat baja di dalamnya bisa rusak.
Pada kondisi ekstrem seperti membawa muatan penuh, melaju jauh, atau menghantam lubang bibir pelek dapat menyayat dinding ban hingga akhirnya pecah tanpa peringatan.
Yang membuat situasi ini semakin berbahaya adalah fakta bahwa banyak pengemudi tidak menyadari ban mereka kekurangan tekanan. Posisi duduk yang empuk dan suspensi modern sering kali menipu indera, membuat gejala awal luput dari perhatian.
Untuk mencegah kejadian fatal tersebut, Indra membagikan beberapa langkah preventif yang seharusnya menjadi kebiasaan rutin pemilik kendaraan.
Langkah pertama tentu saja menjaga tekanan udara ban sesuai spesifikasi pabrikan. Informasi ini dapat ditemukan pada stiker di pilar B sisi pengemudi atau di buku manual kendaraan.
Pemeriksaan idealnya dilakukan saat ban masih dingin, biasanya di pagi hari, agar hasilnya akurat. Pengecekan minimal dilakukan satu kali dalam seminggu.
Langkah kedua, perhatikan kondisi fisik ban secara menyeluruh. Pastikan ketebalan telapak masih di atas batas Tire Wear Indicator (TWI), tidak terdapat benjolan, sobekan, atau retakan pada dinding ban. Detail kecil seperti tutup pentil pun penting karena berfungsi menjaga tekanan udara tetap stabil.
Langkah berikutnya adalah mengemudi dengan lebih bijak. Gaya berkendara agresif akselerasi mendadak, pengereman keras, atau menerjang lubang dan polisi tidur dengan kecepatan tinggi akan mempercepat kerusakan ban, bahkan pada ban dengan kondisi awal yang baik.

Tekanan Angin Ban Kurang Dapat Menyebabkan Ban Bisa Meledak di JalanYoung woman is stressing because of the flat tire while training to fix it.
Terakhir, gunakan ban sesuai spesifikasi standar pabrikan. Ukuran, profil, dan indeks beban ban sudah dirancang sesuai karakter kendaraan. Mengganti ban di luar spesifikasi bukan hanya memengaruhi kenyamanan, tetapi juga berpotensi menurunkan tingkat keselamatan.
Pada akhirnya, pecah ban bukanlah takdir. Ia sering kali lahir dari kelalaian kecil yang dianggap sepele. Menjaga tekanan angin ban mungkin terdengar sederhana, namun justru menjadi garis tipis antara perjalanan aman dan insiden yang tak diinginkan.****
- Penulis: Abimanyu
- Editor: RM.Dimas Wirawan
