Berita
light_mode
Beranda » Kendaraan » VinFast perpanjang charging gratis hingga 2029 di Indonesia

VinFast perpanjang charging gratis hingga 2029 di Indonesia

  • account_circle dimas
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • visibility 1
  • comment 0 komentar
  • print Cetak
VinFast Perpanjang Program Pengisian Daya Gratis Kendaraan Listrik di India, Filipina, dan Indonesia 

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Langkah agresif kembali ditempuh VinFast dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara. Kali ini bukan sekadar gimmick pemasaran, melainkan strategi yang cukup radikal: memperpanjang program pengisian daya gratis hingga 31 Maret 2029 di Indonesia, India, dan Filipina.

Secara teknis, kebijakan ini menghapus salah satu komponen biaya operasional terbesar kendaraan listrik, yakni konsumsi energi. Jika dihitung, rata-rata pengguna mobil listrik di Indonesia mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp300–Rp500 per km.

Dengan skema ini, angka tersebut bisa ditekan mendekati nol. Artinya, total cost of ownership (TCO) EV bisa turun drastis hingga 30–40% dalam tiga tahun pertama penggunaan.

Namun di balik headline “gratis charging”, ada detail teknis yang perlu dicermati. Program ini hanya berlaku di jaringan pengisian daya milik V-Green, entitas yang juga berada dalam ekosistem grup VinFast.

Artinya, efektivitas program sangat bergantung pada seberapa luas dan cepat jaringan charging tersebut berkembang.

Saat ini, salah satu tantangan utama EV di Indonesia bukan sekadar harga kendaraan, melainkan ketersediaan infrastruktur. Tanpa distribusi charging station yang merata, insentif gratis sekalipun berpotensi menjadi terbatas secara praktis, terutama bagi pengguna di luar kota besar.

Di sisi lain, VinFast juga menjalankan strategi bundling yang cukup agresif. Selain charging gratis, mereka tetap mempertahankan pendekatan seperti subscription baterai, garansi panjang, hingga program trade-in bertajuk “Trade Gas for Electric” dengan potongan tambahan hingga 5%. Ini menciptakan paket insentif yang secara teori sulit ditandingi kompetitor dalam jangka pendek.

Pendekatan ini jelas berbeda dibanding pemain lain yang cenderung fokus pada efisiensi produk atau ekosistem charging terbuka. VinFast justru mengunci pengguna ke dalam ekosistemnya sendiri—mulai dari kendaraan, baterai, hingga charging.

Di sinilah muncul dua sisi yang patut dikritisi.

Dari sisi positif, strategi ini bisa menjadi katalis percepatan adopsi EV. Konsumen yang sebelumnya ragu karena biaya operasional kini punya alasan kuat untuk beralih. Bahkan untuk segmen fleet dan taksi online, skema ini bisa langsung berdampak pada margin operasional harian.

Namun dari sisi lain, muncul pertanyaan soal keberlanjutan model bisnis. Menggratiskan energi selama tiga tahun bukanlah keputusan kecil. Ini berarti VinFast harus menyerap biaya listrik, investasi infrastruktur, serta operasional jaringan charging dalam skala besar.

Jika ekspansi pengguna tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, skema ini berpotensi menjadi beban finansial jangka panjang. Apalagi industri EV global saat ini sedang berada dalam fase pengetatan margin dan efisiensi biaya.

Selain itu, ketergantungan pada jaringan V-Green juga bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi menciptakan ekosistem terintegrasi, namun di sisi lain berisiko membatasi fleksibilitas pengguna dibanding sistem charging terbuka seperti yang mulai diadopsi beberapa kompetitor global.

VinFast Borong Dua Penghargaan di GIIAS 2025

vinfast booth at GIIAS

Menariknya, VinFast juga menyasar sektor mobilitas publik melalui Green SM, layanan taksi listrik yang turut mendapat insentif tambahan. Strategi ini memperlihatkan bahwa target mereka bukan sekadar retail consumer, melainkan dominasi ekosistem mobilitas secara menyeluruh.

“Ketika biaya operasional kendaraan bisa ditekan hingga mendekati nol, konsumen akan lebih percaya diri untuk beralih ke EV,” ujar Duong Thi Thu Trang, Deputy CEO Global Sales VinFast.

Pernyataan ini tidak sepenuhnya keliru. Dalam konteks pasar Indonesia yang sensitif terhadap biaya, pendekatan ini bisa menjadi game changer. Namun tetap ada satu variabel krusial: eksekusi di lapangan.

Jika jaringan charging tidak tumbuh secepat janji insentif, maka strategi ini berpotensi kehilangan daya tariknya. Sebaliknya, jika berhasil, VinFast bisa menjadi pemain yang bukan hanya menjual mobil listrik, tetapi juga mengontrol ekosistemnya secara penuh.

Kesimpulannya, langkah VinFast ini bukan sekadar promosi, melainkan taruhan besar. Antara menjadi disruptor yang mempercepat revolusi EV di ASEAN, atau justru strategi mahal yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.***

  • Penulis: dimas
  • Editor: RM.Dimas Wirawan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Baca Juga

expand_less