Berita
light_mode
Beranda » Business » Sen Kanan Tapi Belok Kiri Itu Fakta atau Cuma Stigma

Sen Kanan Tapi Belok Kiri Itu Fakta atau Cuma Stigma

  • account_circle Magoh
  • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
  • visibility 239
  • print Cetak

Sen Kanan Belok Kiri Itu Fakta atau Cuma Stigma

 

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Kamu pasti pernah dengar celetukan “sen kiri belok kanan”, yang sering dijadikan guyonan untuk menyindir pengemudi perempuan.

Meme lucu, konten komedi, bahkan candaan di tongkrongan semua kerap menargetkan stereotype ini.

Tapi, tunggu dulu… benarkah pengemudi perempuan memang lebih sering bikin kesalahan fatal di jalan?

Atau ini cuma warisan stigma sosial yang nggak pernah dibuktikan secara data dan ilmiah?

Siapa Lebih Sering Kecelakaan?

Mari kita mulai dari angka. Di Amerika Serikat, National Household Travel Survey (NHTS) tahun 2021 mencatat bahwa 74% kecelakaan fatal melibatkan pengemudi pria.

Tren ini konsisten selama 25 tahun terakhir. Bahkan dalam periode 2011–2021, lonjakan kecelakaan fatal pria naik 38%, sedangkan wanita “hanya” 34%.

Lebih mengejutkan lagi, jumlah pengemudi perempuan berlisensi di AS lebih banyak dari laki-laki. Tapi kok tetap aja pria yang lebih sering kecelakaan?

Salah satu penjelasannya adalah gaya mengemudi pria yang cenderung agresif. Misalnya:

  • 52% pria melanggar batas kecepatan (15 mph di atas limit)
  • 37,8% suka “nempel” kendaraan di depan (tailgating)
  • 32,2% nerobos lampu merah
  • 35,4% menunjukkan gestur kasar atau agresif (klakson berlebihan, misalnya)

Ini berdasarkan studi AAA Foundation for Traffic Safety tahun 2019. Di sisi lain, wanita tetap melakukan pelanggaran tapi dalam angka yang lebih kecil.

Sen Kanan Belok Kiri Itu Fakta atau Cuma Stigma

Mengemudi dan Alkohol? Pria Juga Juara

Data tahun 2022 dari AS menunjukkan 4.709 pengemudi pria tewas akibat kecelakaan yang melibatkan alkohol. Angka ini 3,5 kali lebih tinggi dibandingkan korban wanita (1.328 orang).

Jadi jelas, meskipun pria cenderung lebih fokus saat berkendara, kecenderungan mereka untuk mengambil risiko, overconfidence, dan mengemudi di bawah pengaruh alkohol bikin peluang kecelakaan lebih tinggi.

Bagaimana dengan Indonesia? Data dari Roojai Buka-bukaan

Sekarang kita lihat ke Indonesia. Menurut data dari Roojai Indonesia perusahaan insurtech yang fokus pada asuransi mobil jumlah klaim asuransi dari pengemudi wanita memang sedikit lebih tinggi (23%) dibanding pria (22%).

Tapi, nilai rata-rata klaimnya 4% lebih rendah dibanding pria. Artinya? Kalau pun terjadi kecelakaan, dampaknya lebih kecil.

Jadi nggak ada bukti nyata yang menyatakan perempuan itu lebih “berbahaya” saat menyetir.

Bruce Y Kelana, Claim Manager di Roojai, bilang begini:

“Risiko berkendara gak bisa disederhanakan cuma dari jenis kelamin. Banyak faktor lain yang lebih penting: pengalaman, kondisi kendaraan, hingga perilaku di jalan.”

Otak Multitasking vs Fokus Tunggal: Siapa Lebih Aman?

Nah, ini menarik. Menurut teori yang dikutip dari Kumparan, otak pria bekerja seperti perpustakaan yang rapi, fokus satu topik dalam satu waktu.

Sedangkan otak perempuan? Lebih kayak pusat komando digital bisa multitasking.

Sisi baiknya, wanita bisa menangani banyak hal sekaligus. Tapi di jalan? Kadang multitasking ini jadi bumerang. Instruktur dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Palubuhu, bilang bahwa kebiasaan multitasking perempuan saat menyetir seperti berhias, ngemil, atau menelepon bisa mengganggu fokus dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Jadi? Keduanya punya “PR” masing-masing. Pria rawan karena terlalu berani. Wanita kadang kurang fokus karena terlalu banyak hal di kepala.

Apakah Gender Mempengaruhi Premi Asuransi?

Di beberapa negara, gender masih dipakai sebagai variabel dalam menentukan premi asuransi. Tapi Roojai memilih pendekatan yang lebih modern dan adil: berbasis data & perilaku.

Jadi yang dinilai bukan kamu laki-laki atau perempuan, tapi:

  • Apakah kamu punya catatan berkendara bersih?
  • Seberapa sering kamu klaim asuransi?
  • Bagaimana perilaku kamu di jalan?

Pengemudi yang tertib dan disiplin bakal dikasih premi lebih ringan. Yang sering nabrak atau klaim, ya wajar kalau premi naik.

Jadi, Apa Jawabannya? Apakah Perempuan Lebih Rawan Kecelakaan?

Jawaban singkatnya: tidak juga.

Data global menunjukkan pria justru lebih sering terlibat kecelakaan fatal.

Di Indonesia, berdasarkan klaim asuransi, perbedaan frekuensinya tipis dan nilai klaim wanita malah lebih rendah. Artinya? Stigma “sen kiri belok kanan” itu gak punya dasar kuat di dunia nyata.

Yang lebih penting dari gender adalah:

  1. Gaya mengemudi
  2. Kedewasaan dalam mengambil keputusan di jalan
  3. Pengalaman dan kesiapan kendaraan
  4. Proteksi diri melalui asuransi mobil yang tepat

Jalanan Butuh Pengemudi Cerdas, Bukan Maskulin atau Feminin

Pada akhirnya, semua pengemudi baik pria maupun wanita punya potensi celaka kalau tidak mengemudi dengan bijak. Jadi yuk, mulai dari diri sendiri:

  • Fokus saat berkendara
  • Hindari multitasking dan pelanggaran
  • Gunakan seatbelt dan taati rambu
  • Lindungi diri lewat asuransi mobil yang transparan dan adil

Kalau kamu pengin perlindungan tanpa diskriminasi, pilih asuransi seperti Roojai yang menilai pengemudi berdasarkan data dan perilaku, bukan stereotip.

Karena di jalan raya, yang penting bukan siapa kamu—tapi bagaimana kamu mengemudi.***

  • Penulis: Magoh

Artikel Menarik Lainnya

expand_less