Pertamina Coba Uji Coba B30 di Terminal BBM
- account_circle Magoh
- calendar_month Sab, 23 Nov 2019
- visibility 87

Pertamina Coba Uji Coba B30 di Terminal BBM
Pertamina Uji Coba B30 di Terminal BBM, Langkah Nyata Menuju Energi Lebih Ramah Lingkungan
OTOExpo.com – Langkah menuju era bahan bakar yang lebih ramah lingkungan kembali dipertegas oleh PT Pertamina (Persero). Perusahaan energi milik negara ini resmi memulai uji coba bahan bakar B30 di sejumlah Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) sebagai bagian dari persiapan implementasi penuh program biodiesel nasional.
Uji coba yang dimulai Kamis, 21 November 2019, menjadi fase krusial sebelum B30 diterapkan secara menyeluruh di seluruh jaringan distribusi Pertamina. Lebih dari sekadar eksperimen teknis, langkah ini menandai komitmen serius Pertamina dalam mendukung kebijakan energi berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil murni.
Dalam tahap awal, Pertamina menunjuk sejumlah TBBM sebagai pilot project pencampuran FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dengan Solar. Terminal-terminal ini akan menjadi pusat pengujian kesiapan infrastruktur, sistem distribusi, serta kualitas produk sebelum B30 benar-benar digunakan secara nasional.
Fajriyah Usman, VP Corporate Communication Pertamina, menjelaskan bahwa proses uji coba ini dilakukan secara bertahap dan terukur.
“Uji coba ini akan dilakukan secara bertahap sebelum akhirnya diterapkan secara menyeluruh. Pada 21 November 2019, pencampuran B30 mulai diterapkan di dua Terminal BBM, yaitu Boyolali dan Rewulu,” jelas Fajriyah.
Langkah bertahap ini dinilai penting untuk memastikan bahwa seluruh rantai pasok—dari pencampuran, penyimpanan, hingga distribusi—siap menghadapi skala operasional yang lebih besar.
Tak berhenti di dua lokasi awal, Pertamina telah menyiapkan peta jalan implementasi B30 yang cukup agresif. Pada akhir November 2019, uji coba akan diperluas ke TBBM Balikpapan. Kemudian, memasuki Desember 2019, giliran TBBM Medan Group, Jakarta Group, TBBM Panjang, RU III Plaju, dan RU VII Kasim yang akan menjalankan proses serupa.
Dengan skema tersebut, Pertamina menargetkan bahwa pada Januari 2020, sedikitnya delapan titik utama sudah siap melakukan pencampuran B30 secara mandiri.
“Sehingga pada Januari 2020, sebanyak delapan titik Pertamina sudah siap melakukan pencampuran B30,” tambah Fajriyah.
Langkah ini menunjukkan keseriusan Pertamina dalam memastikan transisi berjalan mulus tanpa mengganggu pasokan energi nasional.
Berlandaskan Regulasi, Bukan Sekadar Uji Coba
Pelaksanaan uji coba B30 ini tidak dilakukan secara sembarangan. Seluruh proses mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 227 Tahun 2019, yang menjadi payung hukum implementasi biodiesel B30 di Indonesia.
Artinya, selain aspek teknis, Pertamina juga memastikan kepatuhan terhadap regulasi, standar mutu, serta aspek keselamatan operasional. Pendekatan ini penting untuk menjaga kepercayaan konsumen sekaligus memastikan bahwa B30 benar-benar layak digunakan secara luas, termasuk untuk kendaraan bermotor dan sektor industri.
Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi penyerapan FAME oleh Pertamina menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Data ini menjadi indikator kuat bahwa ekosistem biodiesel di Indonesia terus berkembang dan semakin matang.
Pada tahun 2017, penyerapan FAME tercatat sebesar 2,51 juta kiloliter. Angka tersebut meningkat menjadi 3,2 juta kiloliter pada 2018. Tren positif ini berlanjut pada 2019.
“Dan hingga Oktober 2019, total penyerapan FAME oleh Pertamina sudah mencapai 4,493 juta kiloliter,” ungkap Fajriyah.
Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kapasitas produksi biodiesel nasional, sekaligus kesiapan infrastruktur dan pasar dalam menyerap bahan bakar berbasis energi terbarukan.
B30 bukan sekadar campuran antara solar dan biodiesel. Program ini memiliki dampak strategis yang luas, mulai dari pengurangan emisi gas buang, peningkatan ketahanan energi nasional, hingga penyerapan hasil sawit domestik.
Bagi sektor otomotif dan transportasi, B30 diharapkan mampu menjadi jembatan transisi menuju bahan bakar yang lebih bersih tanpa harus menunggu adopsi kendaraan listrik secara masif. Dengan karakteristik yang relatif kompatibel dengan mesin diesel modern, B30 menawarkan solusi realistis dalam jangka menengah.
Lebih jauh, Fajriyah menegaskan bahwa dukungan Pertamina terhadap B30 merupakan bagian dari visi besar perusahaan dalam menghadapi transisi energi global.
“Ini menunjukkan bahwa kami berperan aktif dalam pengembangan energi alternatif. Karena kami melihat ke depannya akan terjadi transisi energi yang cukup masif, dan kami percaya Pertamina siap menghadapinya,” ujarnya.
Selain B30, Pertamina juga aktif mengembangkan energi baru dan terbarukan lainnya, seperti panas bumi (geothermal), panel surya, hingga penyediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), salah satunya di kawasan Kuningan, Jakarta.
Uji coba B30 di Terminal BBM menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak hanya berbicara soal energi hijau, tetapi juga mulai mengimplementasikannya secara konkret. Dengan pendekatan bertahap, berbasis data, dan didukung regulasi yang jelas, Pertamina menempatkan diri sebagai motor penggerak utama transformasi energi nasional.
Bagi konsumen dan pelaku industri otomotif, langkah ini membuka babak baru penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan—tanpa mengorbankan keandalan dan ketersediaan energi.
Jika semua berjalan sesuai rencana, B30 bukan lagi sekadar wacana, melainkan fondasi nyata menuju masa depan energi Indonesia yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan..****
- Penulis: Magoh




