Berita
light_mode
Beranda » Business » Kia Siap Bangun EV Ecosystem Indonesia, Fokus Teknologi dan MPV Listrik

Kia Siap Bangun EV Ecosystem Indonesia, Fokus Teknologi dan MPV Listrik

  • account_circle dimas
  • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
  • visibility 91
  • print Cetak

Kia Tak Sekadar Janji, Fondasi EV Indonesia Disiapkan Diam-Diam, dari MPV sampai Teknologi Global

Kia Tegaskan Kesiapan Teknologi EV di Indonesia, Perkuat Fondasi EV Ecosystem Secara Bertahap

OTOExpo.com , Jakarta –  Di tengah derasnya narasi mobil listrik yang kerap terdengar bombastis, Kia memilih jalur yang lebih senyap—namun terukur. Bukan sekadar mengejar tren atau euforia elektrifikasi, Kia Sales Indonesia justru menegaskan satu hal penting: EV bukan lomba sprint, melainkan maraton panjang yang butuh fondasi kuat.

Pada 21 Januari 2026, Kia secara terbuka menyampaikan kesiapan teknologinya untuk membangun EV Ecosystem di Indonesia. Sebuah pernyataan yang terdengar tenang, tetapi sarat makna. Sebab di baliknya, ada strategi global, pendekatan teknis, dan pembacaan pasar yang tidak dibuat tergesa-gesa.

“Indonesia merupakan pasar yang penting bagi Kia. Dalam menghadirkan kendaraan listrik, kami ingin memastikan bahwa kesiapan teknologi, kualitas produk, dan pengalaman kepemilikan berjalan seiring,” ujar Bayu Riyanto, Managing Director Kia Sales Indonesia.

Kalimat itu mungkin terdengar diplomatis. Namun jika dibaca lebih dalam, Kia sedang menyampaikan pesan tegas: elektrifikasi harus masuk akal bagi konsumen, bukan sekadar headline.

Kia Tegaskan Kesiapan Teknologi EV di Indonesia, Perkuat Fondasi EV Ecosystem Secara Bertahap

Kia Tegaskan Kesiapan Teknologi EV di Indonesia, Perkuat Fondasi EV Ecosystem Secara Bertahap

Berbeda dengan pendekatan instan, Kia melihat EV Ecosystem sebagai ekosistem utuh. Mulai dari teknologi kendaraan, kesiapan produk, relevansi segmen, hingga kemampuan pasar dalam mengadopsinya secara berkelanjutan.

Itulah mengapa Kia tidak hanya bicara soal EV sebagai produk, tetapi juga sebagai sistem mobilitas. Pendekatan ini membuat pengembangan dilakukan bertahap, bukan agresif tanpa kontrol.

Di Indonesia—pasar dengan karakter unik, dominasi kendaraan keluarga, dan infrastruktur yang terus berkembang—Kia menyadari bahwa EV harus relevan secara fungsi, bukan hanya futuristik secara desain. Segmen MPV pun masuk dalam radar elektrifikasi, sesuatu yang jarang dibicarakan merek global secara terbuka.

Di balik kesiapan tersebut, Kia berdiri di atas fondasi teknologi global bernama Electric-Global Modular Platform (E-GMP). Ini bukan sekadar platform, melainkan arsitektur kendaraan listrik yang sejak awal dirancang khusus untuk era baterai.

Platform E-GMP memungkinkan penempatan baterai yang optimal, distribusi bobot yang seimbang, serta fleksibilitas pengembangan berbagai segmen—mulai dari crossover, SUV, hingga kendaraan keluarga.

Secara teknis, E-GMP memberi Kia ruang untuk menyesuaikan produk dengan karakter tiap pasar. Di Indonesia, ini berarti kendaraan listrik yang nyaman di jalan harian, stabil di kecepatan rendah, dan efisien untuk penggunaan jangka panjang—bukan sekadar cepat di atas kertas.

Pendekatan ini pula yang membuat Kia tidak terburu-buru melempar semua model EV globalnya ke pasar lokal. Setiap produk harus melewati proses adaptasi, baik dari sisi teknis maupun kebiasaan berkendara masyarakat.

Seluruh strategi elektrifikasi Kia berakar pada Plan S, kerangka transformasi bisnis global yang menempatkan kendaraan listrik dan solusi mobilitas masa depan sebagai poros utama.

Namun menariknya, Plan S tidak dijalankan dengan satu pola seragam di seluruh dunia. Di Indonesia, Kia memilih pendekatan adaptif. Pasar dipelajari, konsumen dipahami, dan ekosistem dibaca secara realistis.

Dengan kata lain, Plan S bukan cetakan, melainkan kompas.

Melalui strategi ini, Kia menempatkan elektrifikasi sebagai perjalanan jangka panjang. Tidak semua harus terjadi sekarang, tetapi setiap langkah harus tepat. Filosofi ini membuat pengembangan EV Kia di Indonesia terasa lebih membumi, jauh dari kesan “memaksakan teknologi”.

Salah satu sinyal paling menarik dari pernyataan Kia adalah keterbukaan terhadap segmen MPV dalam elektrifikasi. Di pasar seperti Indonesia, MPV bukan sekadar kendaraan, melainkan alat mobilitas keluarga, kerja, dan kehidupan sehari-hari.

Dengan menyebut MPV sebagai bagian dari strategi EV ke depan, Kia seakan menyentil pasar: elektrifikasi tidak harus eksklusif atau mahal, tapi harus relevan.

Kia Tegaskan Kesiapan Teknologi EV di Indonesia, Perkuat Fondasi EV Ecosystem Secara Bertahap

Ini sekaligus menunjukkan bahwa Kia tidak hanya menyiapkan EV untuk ceruk tertentu, tetapi juga memikirkan skenario penggunaan massal ketika ekosistem sudah matang dan konsumen siap.

“Kami melihat elektrifikasi sebagai perjalanan jangka panjang. Kia berada pada posisi yang siap secara teknologi dan strategi global,” tutup Bayu Riyanto.

Pernyataan itu merangkum seluruh pendekatan Kia: tidak terburu-buru, tidak ragu, dan tidak latah.

Di tengah pasar yang sering bising oleh janji elektrifikasi, Kia memilih membangun fondasi lebih dulu. Teknologi sudah siap, platform sudah ada, dan arah global sudah jelas. Tinggal menunggu waktu yang tepat—saat ekosistem, pasar, dan konsumen bergerak seirama.

Karena dalam dunia kendaraan listrik, yang bertahan bukan yang paling cepat meluncur, tetapi yang paling siap berjalan jauh.****

  • Penulis: dimas
  • Editor: RM.Dimas Wirawan

Artikel Menarik Lainnya

expand_less