Berita
light_mode
Beranda » Pilihan » Apakah Alasan Kendaraan Listrik China Laris di Indonesia?

Apakah Alasan Kendaraan Listrik China Laris di Indonesia?

  • account_circle dimas
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 139
  • print Cetak

Mengapa Mobil dan Motor Listrik China Lebih Mudah Diterima di Indonesia, Sementara Motor Konvensionalnya Masih Diragukan

Kendaraan listrik buatan China mudah diterima masyarakat Indonesia berkat inovasi, dukungan pemerintah, dan strategi pemasaran modern.

OTOExpo.com , Jakarta –  Dalam lanskap otomotif Indonesia yang terus bergerak dinamis, ada satu fenomena menarik yang sulit diabaikan.

Mobil dan motor listrik buatan China kini semakin mudah diterima oleh masyarakat, bahkan kerap menjadi pilihan utama bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan ramah lingkungan.

Nama-nama seperti Wuling, DFSK, hingga Yadea tak lagi terdengar asing, melainkan justru identik dengan teknologi modern dan masa depan mobilitas.

Ironisnya, penerimaan positif ini berbanding terbalik dengan stigma yang masih melekat pada motor konvensional asal China. Padahal, secara kualitas dan teknologi, banyak produsen motor China saat ini telah naik kelas dan bersaing di level global. Lantas, mengapa persepsi masyarakat bisa berbeda sejauh ini?

MForce Indonesia Luncurkan WMoto Velora 150 Di Pantai Indah Kapuk

MForce Indonesia Luncurkan WMoto Velora 150 Di Pantai Indah Kapuk

Jawabannya tidak sesederhana soal mesin atau spesifikasi, melainkan berkaitan dengan sejarah, strategi, momentum, dan perubahan pola pikir konsumen Indonesia.

Pada awal tahun 2000-an, pasar roda dua Indonesia sempat dibanjiri motor konvensional buatan China dengan harga yang sangat murah. Sayangnya, sebagian produk tersebut hadir dengan kualitas yang belum konsisten, material seadanya, serta jaringan purna jual yang minim. Pengalaman tersebut membekas cukup dalam di benak konsumen.

Sejak saat itu, terbentuklah persepsi kolektif bahwa motor China identik dengan “murah tapi cepat rusak”. Stigma ini melekat kuat dan sulit dihapus, bahkan ketika pabrikan China mulai melakukan pembenahan besar-besaran di sektor kualitas dan teknologi.

Padahal, jika melihat kondisi saat ini, produsen seperti QJMOTOR dan CFMOTO telah menjelma menjadi pemain global dengan portofolio motor sport, touring, hingga adventure berstandar internasional.

Bahkan, merek seperti Kymco dan SYM — yang berasal dari Taiwan — telah lama membuktikan diri sebagai produsen motor konvensional berkualitas tinggi dengan reputasi solid di berbagai negara.

Namun, persepsi publik sering kali berjalan lebih lambat dibandingkan perkembangan industri itu sendiri.

QJMotor Masuk Indonesia Langsung Perkenalkan 4 Motor Andalannya

SRV 250 AMT

Berbeda dengan motor konvensional, kendaraan listrik buatan China hadir di Indonesia dengan membawa cerita yang sama sekali baru. Mobil dan motor listrik tidak datang sebagai “produk murah pengganti Jepang”, melainkan sebagai simbol inovasi, efisiensi, dan masa depan transportasi.

China dikenal sebagai pemimpin global dalam pengembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik. Narasi ini secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa produk listrik asal China adalah hasil dari riset serius, bukan sekadar produk alternatif berbiaya rendah.

Kehadiran kendaraan listrik juga tidak dibebani memori buruk masa lalu. Bagi konsumen, motor dan mobil listrik adalah kategori baru, sehingga tidak ada trauma kolektif yang perlu dilawan.

Faktor penting lainnya adalah dukungan kebijakan pemerintah Indonesia. Kendaraan listrik mendapat perlakuan istimewa berupa subsidi, insentif pajak, serta pembangunan infrastruktur pengisian daya dan penukaran baterai.

Ketika pemerintah secara terbuka mendorong elektrifikasi kendaraan, masyarakat pun merasa lebih aman dan percaya diri untuk mengadopsi teknologi baru. Dalam konteks ini, merek asal China ikut terdorong naik citranya karena dianggap sejalan dengan agenda nasional menuju mobilitas hijau.

Tanpa disadari, kebijakan ini juga menjadi semacam “jaminan moral” bahwa kendaraan listrik, termasuk buatan China, adalah pilihan yang tepat dan berorientasi masa depan.

Berbeda dengan era motor konvensional China di masa lalu, produsen kendaraan listrik China kini tampil dengan strategi pemasaran yang jauh lebih agresif dan terstruktur. Mereka aktif di media sosial, menggandeng influencer otomotif, hingga bekerja sama dengan institusi pemerintah dan perusahaan transportasi.

MForce WMOTO Letbe Island Meluncur di Jakarta Fair , Skuter 160cc yang Siap Bersaing

letbe island Mforce

Tidak hanya menjual produk, mereka juga menjual gaya hidup dan solusi mobilitas. Efisiensi biaya operasional, kemudahan perawatan, hingga kontribusi terhadap lingkungan menjadi narasi utama yang terus digaungkan.

Di sisi lain, layanan purna jual kini menjadi prioritas. Garansi baterai, jaringan servis luas, serta skema kepemilikan fleksibel membuat konsumen merasa lebih terlindungi dibandingkan pengalaman masa lalu dengan motor konvensional China.

Perubahan besar juga datang dari pergeseran demografi konsumen. Generasi milenial dan Gen Z di Indonesia cenderung lebih terbuka terhadap inovasi dan tidak terlalu terikat pada stigma lama. Bagi mereka, asal negara bukan lagi faktor utama, selama produk tersebut fungsional, modern, dan relevan.

Kesadaran akan isu lingkungan, efisiensi energi, serta integrasi teknologi digital membuat kendaraan listrik tampil lebih menarik di mata generasi muda. Dalam konteks ini, China justru dipandang sebagai negara yang berada di garis depan inovasi, bukan sekadar produsen massal.

mforce CFMOTO 675SR-R Resmi Meluncur Motor Sport 3 Silinder Di Jakarta Fair

Pada akhirnya, perbedaan penerimaan masyarakat Indonesia terhadap produk otomotif asal China tidak sepenuhnya soal kualitas teknis. Persepsi, momentum, dan cara bercerita memegang peranan yang jauh lebih besar.

Motor konvensional China masih harus berjuang melawan bayang-bayang masa lalu, meskipun kualitasnya kini sudah setara bahkan unggul di beberapa segmen.

Sementara itu, kendaraan listrik China berhasil melesat karena hadir di waktu yang tepat, membawa narasi baru, serta didukung kebijakan dan perubahan pola pikir konsumen.

Fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi industri otomotif: di era modern, siapa yang mampu mengelola persepsi dan membaca arah zaman, dialah yang akan memimpin pasar.****

  • Penulis: dimas
  • Editor: RM.Dimas Wirawan

Artikel Menarik Lainnya

expand_less