VinFast Bawa Pulang 4 Penghargaan di IIMS Surabaya 2025, Tapi Apa Cukup Buat Mencuri Hati Konsumen Indonesia?
- account_circle dimas
- calendar_month Rab, 4 Jun 2025
- visibility 157

VinFast Bawa Pulang 4 Penghargaan di IIMS Surabaya 2025, Tapi Apa Cukup Buat Mencuri Hati Konsumen Indonesia?
OTOExpo.com., Surabaya – VinFast lagi-lagi bikin gebrakan. Kali ini bukan karena launching produk baru atau strategi harga agresif mereka, tapi karena berhasil menyabet empat penghargaan sekaligus di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) Surabaya 2025.
Sebuah pencapaian yang cukup mengejutkan bahkan bisa dibilang agak “terlalu manis untuk jadi kebetulan”, terutama jika melihat seberapa baru VinFast bermain di pasar Indonesia.
Kariyanto Hardjosoemarto, CEO VinFast Indonesia, mengatakan: “Memenangkan empat penghargaan di IIMS Surabaya 2025 merupakan pencapaian yang sangat membanggakan bagi VinFast. Kami yakin bahwa kami berada di jalur yang tepat dalam mempercepat transisi hijau di Indonesia.”
Salah satu penghargaan paling mencolok tentu adalah gelar “Best EV City Car” untuk VF 3. Ini bukan penghargaan ecek-ecek, karena dinilai oleh juri independen dan suara pengunjung yang mencapai puluhan ribu.
VinFast mengklaim VF 3 mendapat 89% suara, mengalahkan kompetitor dari Jepang dan Tiongkok yang jelas-jelas sudah punya pijakan kuat di pasar Indonesia. Tapi pertanyaannya: apakah VF 3 memang benar-benar yang terbaik?
Desain Lucu, Tapi Bukan Selera Semua Orang
VF 3 memang mencuri perhatian. Desainnya yang boxy dan kompak, lengkap dengan warna-warna ngejreng, membuatnya tampil beda.
Cocok buat mereka yang mau tampil “unik” di tengah lalu lintas kota yang monoton. Tapi jujur saja, desain seperti ini bukan selera semua orang.
Ada yang bilang VF 3 terlihat seperti mainan, ada juga yang membandingkannya dengan mobil kei car Jepang era 90-an.
Apakah ini city car yang ideal? Mungkin. Tapi “ideal” itu relatif. Ukuran kecil memang pas untuk parkir sempit dan lalu lintas padat, tapi bagaimana dengan kenyamanan jangka panjang atau performa di luar kota?
Belum banyak data lapangan yang bisa dijadikan referensi karena model ini masih sangat baru di Indonesia.
Harga Terjangkau, Tapi…
Satu hal yang membuat VF 3 mencolok tentu adalah harga jualnya yang terjangkau, terutama jika dibandingkan dengan EV buatan Jepang atau Korea.
Tapi kalau kita bicara soal value for money, belum tentu murah itu selalu menguntungkan. Misalnya, bagaimana soal durabilitas, layanan purna jual, dan nilai jual kembali?
VinFast memang menggandeng Otoklix dan BOS untuk bikin 500 bengkel resmi sampai akhir 2025, tapi itu masih rencana.
Faktanya sekarang, infrastruktur layanan purna jual VinFast belum bisa menandingi pemain lama. Kalau ada masalah teknis, apakah konsumen bakal semudah itu dapat solusi? Ini hal yang penting untuk EV, apalagi yang belum punya rekam jejak panjang.

VF 6 dan Booth Megah: Marketing Ciamik, Produk Belum Terbukti
Selain VF 3, VinFast juga dapat penghargaan untuk VF 6 sebagai “Favorite New Car Launch”. Satu hal yang patut diapresiasi adalah bagaimana VinFast sangat serius dalam menghadirkan pengalaman booth yang futuristik dan interaktif di IIMS Surabaya.
Bahkan mereka juga menang kategori “Best Booth Car”. Tapi di sinilah opini kritis mulai muncul.
Sebagus apapun booth dan acara peluncuran, produk tetap harus membuktikan diri di jalanan. VF 6 memang terlihat menjanjikan dari spesifikasi, tapi bagaimana performanya dalam penggunaan harian?
Bagaimana efisiensi baterai di kondisi panas dan lalu lintas macet Indonesia? Apakah software dan user interface-nya sehalus klaimnya? Ini semua masih butuh waktu untuk dibuktikan.
Pujian yang Layak, Tapi Jangan Lupa Realita
VinFast jelas tahu cara menarik perhatian. Mereka bawa budaya Vietnam lewat kostum Ao Dai, menang “Best Costume” pula. Ini strategi branding yang pintar bermain di ranah emosional dan cultural, bukan sekadar jualan teknologi.
Tapi kalau kita tarik ke ranah industri otomotif, tetap saja kuncinya adalah produk yang terbukti tahan banting di pasar.
Penghargaan sah-sah saja dan memang bisa jadi penguat brand awareness, tapi jangan sampai pencapaian ini bikin publik menganggap VinFast sudah sejajar dengan raksasa industri lain. Perjalanan masih panjang.
Ekspansi Cepat, Tapi Jangan Lupakan Kualitas
Satu tahun di Indonesia, empat model diluncurkan, dan jaringan dealer mulai merambah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bali. VinFast memang lari kencang.
Mereka juga menggandeng GSM dan V-GREEN untuk infrastruktur charging dan layanan transportasi EV. Tapi ekspansi yang terlalu cepat tanpa kontrol kualitas bisa jadi bumerang.
Pasar Indonesia itu tricky harga murah memang menggoda, tapi kalau servis susah, suku cadang lama datang, atau aplikasi penuh bug, konsumen bisa cepat kabur.
Dan sayangnya, pengalaman buruk dari konsumen pertama bisa menyebar lebih cepat daripada review positif.
Optimis Tapi Tetap Waspada
VinFast menunjukkan bahwa mereka bukan pemain sembarangan. Dengan marketing agresif, desain berani, dan strategi harga yang tepat sasaran, mereka berhasil mencuri perhatian publik dan industri.
Tapi dalam dunia otomotif, branding cuma separuh cerita. Separuh lagi ada pada daya tahan, kemudahan servis, dan kepuasan pelanggan jangka panjang.
Kita berharap pencapaian di IIMS Surabaya 2025 ini bukan sekadar gimmick sesaat, tapi jadi pijakan awal dari kompetitor serius yang bisa menantang dominasi merek Jepang dan Korea.
Tapi tetap saja, sebagai konsumen, kita harus cermat: jangan sampai tergoda “warna-warni” dan diskon, lalu lupa soal keandalan jangka panjang.
Kalau kamu tertarik dengan EV dan mempertimbangkan VinFast, pastikan kamu bukan cuma jatuh cinta karena tampilannya yang lucu atau booth-nya yang keren.
Cek layanan, cek testimoni, dan tunggu hasil nyata dari pengguna awal. Karena dalam dunia otomotif, yang tahan lama bukan cuma yang cepat viral tapi yang bisa diandalkan setiap hari.****
.
.
.
.
.
- Penulis: dimas
