VIN TALKS IIMS 2026 “Bongkar” Ancaman Fiscal Cliff 2025-2026 Industri Otomotif RI Bisa Tersendat Kalau Insentif EV Menghilang
- account_circle dimas
- calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
- visibility 58
- print Cetak

VIN TALKS IIMS 2026, Fiscal Cliff & Masa Depan Industri Otomotif Indonesia di Era EV
VIN TALKS: Menyikapi Tantangan dan Peluang Industri Otomotif Indonesia di Tengah Ketidakpastian Fiskal dan Transisi EV
OTOExpo.com , Jakarta – Industri otomotif Indonesia saat ini seperti sedang melaju di jalan tol, tetapi dengan lampu kabut menyala penuh. Permintaan pasar melambat, tekanan ekonomi belum sepenuhnya reda, dan yang paling krusial: arah kebijakan fiskal serta insentif kendaraan listrik (EV) masih menjadi tanda tanya besar.
Situasi ini membuat banyak pelaku industri menahan napas. Sebab, di balik gemerlap transisi elektrifikasi, ada ancaman yang mulai sering disebut di lingkaran ekonom dan industri: potensi “fiscal cliff” pada periode 2025–2026.
Jika kebijakan insentif EV dievaluasi terlalu cepat di tengah pengetatan anggaran negara, efeknya bisa terasa seperti rem mendadak—bukan hanya bagi produsen kendaraan listrik, tetapi juga bagi ekosistem otomotif secara keseluruhan.
Merespons kondisi tersebut, VinFast Indonesia kembali menggelar VIN TALKS di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026. Mengusung tema besar “Navigating Uncertainty: The Future of Indonesia’s Automotive Industry Amid Policy Shifts and Electrification”, forum ini menghadirkan diskusi yang lebih tajam dari sekadar sesi panggung formal.
Dua figur utama hadir sebagai pembicara: Josua Pardede, ekonom nasional, serta Kariyanto Hardjosoemarto, CEO VinFast Indonesia.

VIN TALKS IIMS 2026, Fiscal Cliff & Masa Depan Industri Otomotif Indonesia di Era EV
Awal 2026 seharusnya menjadi momentum akselerasi elektrifikasi. Namun faktanya, banyak produsen EV dan pemain industri justru berada dalam mode wait-and-see.
Alasannya sederhana: ketidakjelasan kelanjutan insentif kendaraan listrik membuat pasar seperti “menggantung”. Konsumen menunda pembelian, produsen menahan peluncuran produk, dan dealer pun tidak bisa membangun strategi jangka panjang secara solid.
Kondisi ini berbahaya, karena transisi EV tidak bisa berjalan hanya dengan semangat kampanye hijau. Ia butuh fondasi nyata: insentif yang konsisten, kebijakan fiskal yang stabil, serta roadmap yang tidak berubah-ubah.
Jika tidak, target pemerintah menuju emisi nol bersih bisa kehilangan momentum sebelum benar-benar mencapai kecepatan jelajah.
Dalam diskusi VIN TALKS, Josua Pardede menegaskan bahwa tekanan industri otomotif bukan hanya bersifat siklus permintaan, tetapi sudah masuk ke level struktural.
Pergeseran dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) menuju kendaraan listrik menuntut transformasi besar: investasi modal tinggi, perubahan rantai pasok, dan pembangunan infrastruktur yang belum merata.
Dengan kata lain, industri bukan hanya diminta menjual produk baru, tapi juga membangun ulang “mesin ekonomi”-nya.
“Tahun ini akan menjadi fase yang menantang bagi industri otomotif, terutama jika kepastian insentif dan kebijakan fiskal belum sepenuhnya jelas,” ujar Josua Pardede.
“Namun secara struktural, Indonesia tetap memiliki fondasi yang kuat—ditopang oleh pasar domestik yang besar, bonus demografi, serta roadmap elektrifikasi nasional.”
Menurutnya, Indonesia tetap punya modal besar untuk menjadi pemain penting di era EV. Namun, modal tersebut hanya akan bekerja jika pelaku industri merasa aman untuk menanam investasi jangka panjang.
“Ke depan, kesinambungan kebijakan dan dukungan pemerintah, khususnya terkait insentif, menjadi kunci agar pelaku industri dan konsumen tetap percaya diri untuk berinvestasi dan bertransisi ke kendaraan listrik.”
Pernyataan itu terdengar seperti peringatan halus: tanpa kepastian regulasi, transisi EV bisa berubah menjadi proyek mahal yang tidak pernah benar-benar matang.
Di tengah ketidakpastian tersebut, VinFast mencoba mengambil posisi berbeda. Mereka tidak sekadar bicara produk, melainkan membangun narasi jangka panjang: EV harus hadir sebagai ekosistem, bukan hanya kendaraan.
VinFast menegaskan komitmennya melalui pembangunan infrastruktur pengisian daya, jaringan ritel, dan layanan purna jual. Fokusnya jelas: menciptakan rasa aman bagi konsumen yang masih ragu terhadap EV.
Kariyanto Hardjosoemarto menegaskan visi besar VinFast di Indonesia.
“Visi kami adalah menjadikan Indonesia sebagai hub EV regional sekaligus memastikan konsumen memiliki akses dan kepercayaan penuh terhadap kendaraan listrik. Ini bagian dari strategi jangka panjang kami di tengah transisi industri otomotif,” ujar Kariyanto.
Pernyataan itu bukan sekadar jargon. Karena dalam industri EV, persoalan terbesar bukan lagi desain atau performa—tetapi kepercayaan konsumen terhadap kesiapan layanan dan infrastruktur.
Sebagai bukti konkret, VinFast mengawali 2026 dengan peluncuran Limo Green, MPV listrik tujuh penumpang yang dirancang untuk pasar Indonesia.
Model ini bukan tipe EV yang hanya cocok diparkir di mal elit. Targetnya lebih realistis dan lebih “Indonesia”: keluarga besar, mobil operasional, armada taksi, hingga ride-hailing.
“Langkah ini menunjukkan komitmen kami untuk terus berinvestasi dan bertumbuh secara berkelanjutan, selaras dengan agenda industrialisasi dan transisi energi nasional,” tambah Kariyanto.
Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, strategi ini terasa seperti pesan langsung: VinFast tidak ingin sekadar numpang lewat.
VIN TALKS di IIMS 2026 pada akhirnya menggarisbawahi satu kenyataan yang sering dihindari industri: elektrifikasi bukan hanya isu teknologi, tetapi isu kebijakan.

Indonesia punya pasar besar, punya kebutuhan mobilitas yang masif, dan punya peluang menjadi pusat EV regional. Namun peluang itu bisa hilang jika industri terus berjalan di atas ketidakjelasan fiskal.
Di titik ini, VIN TALKS bukan hanya forum diskusi. Ia menjadi semacam alarm: bahwa masa depan otomotif Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat meluncurkan EV, tetapi siapa yang mampu bertahan menghadapi perubahan regulasi—dan siapa yang berani membangun ekosistem sebelum pasar benar-benar matang.
Karena di era EV, yang paling mahal bukan baterai. Yang paling mahal adalah ketidakpastian.*****
- Penulis: dimas
- Editor: RM.Dimas Wirawan
