Survei Praxis: Ternyata Bukan Harga Murah, Ini yang Bikin Orang Indonesia Pilih Mobil Listrik
- account_circle dimas
- calendar_month Sabtu, 16 Agt 2025
- visibility 207
- comment 0 komentar
- print Cetak

Survei Praxis: Ternyata Bukan Harga Murah, Ini yang Bikin Orang Indonesia Pilih Mobil Listrik
OTOExpo.com , Jakarta – Kalau dulu banyak orang mikir mobil listrik itu cuma buat yang mau “hemat di depan” alias cari harga paling miring, sekarang ceritanya sudah berubah.
Sebuah riset terbaru dari Praxis, agensi PR & public affairs yang cukup sering bikin studi soal tren industri, baru saja merilis hasil survei yang memotret perilaku dan prioritas 1.200 pengguna mobil listrik di 12 kota besar Indonesia.
Menariknya, ternyata mayoritas pengguna EV di sini udah nggak gampang tergoda sekadar diskon.
Ada faktor lain yang jauh lebih mereka hargai dan ini bisa jadi “wake up call” buat produsen maupun pemerintah.

Harga Bukan Segalanya: Daya Tahan Baterai Jadi Raja
Hasil survei menunjukkan, 35,17% responden menilai daya tahan baterai sebagai faktor paling krusial saat memilih mobil listrik.
Angka ini mengungguli pertimbangan harga beli yang “cuma” 21,33% dan reputasi merek di 18,5%.
Logikanya sederhana: baterai adalah “nyawa” mobil listrik. Kalau awet, biaya perawatan jangka panjang jadi lebih ringan, performa tetap stabil, dan nilai jual kembali nggak langsung jeblok.
Bahkan, saat ditanya soal promosi yang paling menarik, 52% responden lebih memilih garansi baterai panjang dibandingkan potongan harga besar-besaran.
Diskon harga beli ada di urutan kedua (30%), lalu bonus bundling wall charger (10%).
Infrastruktur Jadi PR Bersama
Bukan cuma soal mobilnya, pengguna EV juga peduli banget sama ekosistem pendukungnya. Hampir 46% responden menempatkan ketersediaan infrastruktur seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan bengkel resmi sebagai kebijakan prioritas yang harus digarap serius.
Di lapangan, PT PLN (Persero) sudah mengklaim punya lebih dari 4.000 SPKLU tersebar di Indonesia, termasuk model tiang dan fast charging.
Vice President Teknologi & Inkubasi Produk Niaga PT PLN (Persero), Nuraida Puspitasari, “PLN
telah menyediakan lebih dari 4.000 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh
Indonesia sesuai amanat Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 Tahun 2019, termasuk SPKLU tiang yang
dikembangkan secara mandiri.”
“Untuk mengatasi keterbatasan lahan, PLN bermitra dengan berbagai pihak melalui skema bagi hasil (revenue sharing). Saat ini, rasio SPKLU terhadap jumlah kendaraan listrik di Indonesia berada di kisaran 1:25, dan PLN menargetkan peningkatan menjadi 1:17. Untuk mencapainya, PLN terus mencari metode paling efektif dalam memperluas jaringan, meningkatkan keamanan, dan mempercepat pembangunan melalui kolaborasi dengan pihak swasta.”” terangnya.
Tapi, tantangannya tetap ada, mulai dari keterbatasan lahan di kota besar sampai rendahnya penetrasi kendaraan listrik di daerah.
PLN sendiri menargetkan rasio SPKLU terhadap kendaraan listrik bisa turun dari 1:25 menjadi 1:17, yang artinya jumlah SPKLU harus terus digenjot.
Pengalaman Berkendara Sudah Oke, Tapi…
Survei ini juga mengungkap bahwa 79% pengguna merasa pengalaman berkendara dengan mobil listrik lebih baik dibandingkan mobil bensin atau diesel.
Mereka suka akselerasi instan, kabin yang senyap, dan biaya operasional yang lebih rendah.
Namun, ada satu keluhan yang cukup sering muncul: lama ngecas. Sebanyak 78% pengguna bilang waktu pengisian rata-rata 6 jam itu terlalu lama, dan durasi ideal menurut mereka hanya 1-2 jam atau bahkan kurang. Ini jadi PR untuk produsen, penyedia infrastruktur, dan pihak terkait untuk memperluas opsi fast charging.
Media Sosial Jadi Sumber Informasi Utama
Satu fakta menarik lagi: meski pameran otomotif seperti GIIAS selalu ramai, ternyata 51% pengguna mobil listrik lebih banyak dapat info dari media sosial.
YouTube, Instagram, dan TikTok jadi rujukan utama buat belajar teknologi EV, review kendaraan, sampai tips perawatan.
Pameran otomotif masih punya tempat (22%), tapi untuk generasi digital, influencer otomotif dan konten kreator lebih cepat membentuk persepsi.
Peluang Bisnis Masih Terbuka Lebar
Menurut HIPMI Otomotif, target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai hub supply chain kendaraan listrik membuka peluang besar.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Otomotif, Hasstriansyah, Berdasarkan data Kemenko Perekonomian, kapasitas produksi sekitar 25 ribu unit, sedangkan penjualan mencapai 43–60 ribu unit. Ini menunjukkan peluang besar bagi pengusaha untuk masuk dalam rantai pasok, termasuk memenuhi kewajiban TKDN 40%.”
“Peluang tersebut tidak hanya pada produksi mobil listrik, tetapi juga sektor pendukung seperti komponen SPKLU, aplikasi, hingga aksesoris.” ungkapnya.
Memang, sebagian besar komponen EV masih impor, tapi produksi baterai sudah mulai dilakukan di dalam negeri.
Dengan kapasitas produksi sekitar 25 ribu unit per tahun dan penjualan mencapai 43–60 ribu unit, ada gap yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha.
Selain produksi mobilnya, sektor pendukung seperti komponen SPKLU, aplikasi, software kendaraan, hingga aksesoris EV punya potensi tumbuh pesat. Apalagi dengan aturan TKDN 40% yang wajib dipenuhi.
Edukasi, Kunci Adopsi Lebih Cepat
Praxis juga menekankan pentingnya edukasi yang realistis. Nggak cuma bicara soal manfaat mobil listrik, tapi juga risiko dan cara penanganannya.
Banyak orang masih percaya mitos seperti “kalau baterai rusak harus ganti total dan harganya ratusan juta”, padahal nggak selalu begitu.
Konten edukasi dari kreator seperti Malvin Nathaniel (Bestindocars) membantu meluruskan persepsi. Saat publik tahu fakta sebenarnya, rasa percaya diri untuk pindah ke EV pun meningkat.
Director of Public Relations Praxis, Stephanie Sicilia, “Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, industri, praktisi komunikasi, serta para early adopter untuk memberikan edukasi kepada pengguna dan calon pengguna, sehingga adopsi mobil listrik dapat berlangsung lebih cepat dan luas.”
“Mengingat adanya target pemerintah seperti net zero emission, seluruh pelaku dalam ekosistem kendaraan listrik harus saling mendukung untuk mempercepat transisi.” pungkasnya.

Pasar EV Indonesia Sudah Makin Dewasa
Dari survei ini, ada beberapa poin yang jelas:
- Pengguna makin rasional — bukan cuma cari harga miring, tapi mikir soal umur pakai dan keandalan teknologi.
- Infrastruktur jadi kunci — tanpa SPKLU yang memadai, adopsi EV bisa terhambat.
- Edukasi harus diperluas — biar publik nggak terjebak mitos dan informasi setengah-setengah.
Dengan antusiasme tinggi dan dukungan ekosistem yang makin matang, Indonesia ada di jalur yang tepat untuk mempercepat transisi ke mobil listrik.
Tinggal bagaimana produsen, pemerintah, dan sektor swasta mengeksekusi strategi dengan tepat. ***
.
.
- Penulis: dimas
