Berita
light_mode
Beranda » National » Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Kereta Cepat Solusi Last-Mile Rendah Emisi di Tengah Kepadatan Jakarta

Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Kereta Cepat Solusi Last-Mile Rendah Emisi di Tengah Kepadatan Jakarta

  • account_circle Magoh
  • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
  • visibility 134
  • print Cetak

Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Kereta Cepat Solusi Last-Mile Rendah Emisi di Tengah Kepadatan Jakarta

Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Perjalanan Kereta Cepat

 

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Hadirnya kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) telah mengubah wajah perjalanan antarkota di Indonesia. Waktu tempuh yang singkat, kabin yang senyap, serta sistem yang sepenuhnya bertenaga listrik menghadirkan pengalaman perjalanan yang efisien sekaligus ramah lingkungan. Namun, bagi banyak penumpang, perjalanan sesungguhnya belum benar-benar berakhir saat kereta berhenti di stasiun.

Begitu keluar dari area stasiun, penumpang kembali dihadapkan pada realitas mobilitas perkotaan Jakarta: kemacetan, kebisingan, dan emisi kendaraan bermotor. Tahap akhir perjalanan—yang kerap disebut last mile—sering kali menjadi bagian paling melelahkan, sekaligus mengurangi kenyamanan dan manfaat lingkungan yang sudah dirasakan selama berada di atas kereta cepat.

Fenomena ini mencerminkan tantangan besar transportasi perkotaan. Di satu sisi, sistem transportasi antarkota terus bertransformasi menjadi lebih bersih dan efisien. Namun di sisi lain, konektivitas awal dan akhir perjalanan masih sangat bergantung pada kendaraan berbahan bakar fosil.

Data inventarisasi emisi Jakarta menunjukkan bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 46% dari total emisi kota, dengan kendaraan jalan raya sebagai kontributor utama. Studi lain mengungkap bahwa transportasi jalan raya bertanggung jawab atas sekitar 67% polusi PM2.5 dan 84% emisi black carbon di Jakarta dua polutan yang sangat berkaitan dengan kemacetan dan aktivitas kendaraan di kawasan padat seperti stasiun dan pusat bisnis.

Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Perjalanan Kereta Cepat

Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Perjalanan Kereta Cepat

Ketika perjalanan jarak dekat Jakarta–Bandung semakin sering dilakukan untuk urusan bisnis, liburan singkat, atau akhir pekan, tantangan ini menjadi semakin relevan. Tanpa solusi yang tepat, manfaat lingkungan dari kereta cepat berisiko tereduksi pada tahap akhir perjalanan.

Menjawab kebutuhan tersebut, mobilitas listrik mulai mengambil peran nyata di Stasiun KCIC Halim, terminal Jakarta untuk kereta cepat Whoosh. Mulai 18 Desember 2025, Green SM resmi beroperasi di stasiun ini, menghadirkan layanan taksi listrik penuh bagi penumpang yang bepergian dari dan menuju stasiun.

Layanan ini tersedia di area penjemputan khusus di dalam kawasan stasiun, memungkinkan transisi perjalanan yang lebih praktis, tertib, dan minim repot. Dengan kehadiran Green SM, penumpang tidak perlu lagi bergantung pada kendaraan konvensional yang menghasilkan emisi dan kebisingan tinggi.

Selain aspek lingkungan, efektivitas layanan first-mile dan last-mile juga sangat dipengaruhi oleh faktor operasional. Armada Green SM yang melayani Stasiun Whoosh Halim tidak terdampak kebijakan ganjil-genap Jakarta, sehingga memberikan kepastian waktu tempuh, terutama pada jam-jam sibuk.

Di tengah lalu lintas ibu kota yang sulit diprediksi, faktor ini menjadi nilai tambah signifikan bagi penumpang yang mengutamakan ketepatan waktu dan kenyamanan perjalanan.

Kehadiran Green SM selaras dengan karakter kereta cepat Whoosh yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik. Jika elektrifikasi kereta mampu menekan emisi secara signifikan pada perjalanan antarkota, maka penggunaan kendaraan listrik pada tahap lanjutan memastikan pengalaman rendah emisi tetap berlanjut setelah penumpang meninggalkan stasiun.

Dengan pendekatan ini, perjalanan tidak lagi terfragmentasi antara moda bersih dan moda konvensional. Sebaliknya, penumpang dapat menikmati perjalanan yang konsisten lebih tenang, lebih bersih, dan lebih nyaman—dari awal hingga tujuan akhir.

Managing Director Green SM Indonesia, Deny Tjia, menegaskan bahwa kehadiran layanan ini berangkat dari kebutuhan penumpang modern yang mengutamakan efisiensi waktu, kenyamanan, dan tanggung jawab lingkungan.

“Seiring perjalanan kereta yang semakin cepat dan efisien, perhatian juga perlu diberikan pada pengalaman penumpang setelah turun dari kereta. Melalui kolaborasi dengan Stasiun Whoosh Halim, kami ingin mendukung perjalanan yang lebih mulus sejak tiba hingga mencapai tujuan akhir,” ujar Deny.

Sementara itu, General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, menegaskan bahwa pengembangan kereta cepat tidak dapat dipisahkan dari penguatan konektivitas yang berkelanjutan.

“Kolaborasi dengan Green SM menjadi bagian dari komitmen KCIC dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang konsisten, ramah lingkungan, dan nyaman dari stasiun hingga tujuan akhir,” jelas Eva.

Seluruh armada Green SM menggunakan 100% mobil listrik VinFast, yang menghasilkan nol emisi knalpot serta tingkat kebisingan jauh lebih rendah dibanding kendaraan konvensional. Didukung standar kondisi armada yang terjaga dan pengelolaan mitra pengemudi secara profesional, layanan ini menghadirkan pengalaman perjalanan yang bersih, stabil, dan dapat diprediksi.

Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Perjalanan Kereta Cepat

Melanjutkan Mobilitas Bersih Setelah Perjalanan Kereta Cepat

Sistem tarif transparan berbasis aplikasi serta alur layanan yang jelas menjadikan Green SM sebagai pilihan mobilitas perkotaan yang praktis, andal, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Sebagai bagian dari peluncuran layanan di Stasiun Whoosh Halim, Green SM menghadirkan promo diskon 15% hingga Rp50.000 untuk perjalanan menuju dan dari stasiun. Pengguna baru juga berkesempatan menikmati total potongan hingga Rp150.000, sebagai upaya mendorong adopsi transportasi ramah lingkungan yang lebih luas.

Seiring Jakarta terus berinvestasi dalam sistem transportasi yang lebih bersih, fokus pembangunan mobilitas kini tidak lagi semata mempercepat perpindahan antarkota. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap tahap perjalanan dari awal hingga akhir—memiliki standar efisiensi, kenyamanan, dan tanggung jawab lingkungan yang sama.

Dengan integrasi kereta cepat dan mobilitas listrik, masa depan perjalanan perkotaan Indonesia mulai terbentuk: lebih senyap, lebih bersih, dan lebih manusiawi.****

  • Penulis: Magoh
  • Editor: Dimas Lombardi

Artikel Menarik Lainnya

expand_less