Kolaborasi Hino dan Nestlé Prioritaskan Keselamatan Logistik di Indonesia
- account_circle dimas
- calendar_month Senin, 29 Sep 2025
- visibility 172
- print Cetak

Kolaborasi Hino dan Nestlé Prioritaskan Keselamatan Logistik di Indonesia
Kolaborasi Hino dan Nestlé Prioritaskan Keselamatan Logistik di Indonesia
OTOExpo.com , Purwakarta – Di antara hiruk pikuk truk logistik dan ritme distribusi yang tak pernah berhenti, keselamatan sering kali terlupakan.
Namun, Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) bersama Nestlé Indonesia memilih jalur berbeda: mereka mengubah keselamatan menjadi poros utama perjalanan.
Pada 29 September 2025, Purwakarta menjadi saksi kemitraan dua raksasa industri ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi sebuah gerakan untuk menyulam jalan raya menjadi ruang aman bagi pengemudi dan masyarakat.
Hino Total Support Customer Center: Laboratorium Keselamatan Nyata
HTSCC di Purwakarta berdiri bukan hanya sebagai fasilitas pelatihan biasa, melainkan laboratorium nyata bagi pengemudi truk.
Sirkuit seluas 10.000 m² lengkap dengan simulasi blind spot, safety brake, hingga parallel parking menghadirkan skenario realistis tentang jalanan Indonesia.
Di sinilah para pengemudi transporter Nestlé diasah keterampilannya agar mampu membaca situasi di lapangan, menguasai teknik pengereman defensif, hingga memahami inspeksi kendaraan harian yang sering diabaikan.
Berdasarkan data internal Hino, sejak 2023 lebih dari 87 pengemudi transporter Nestlé tersertifikasi profesional.
Artinya, program ini bukan sekadar formalitas; ia menanamkan mindset keselamatan yang terukur hasilnya.
Keselamatan Bukan Slogan
Stephanie Pullings Hart, EVP & COO Nestlé S.A., menegaskan keselamatan sebagai nilai inti yang tak bisa ditawar.
Dengan ribuan pengemudi membawa produk Nestlé setiap hari, risiko selalu mengintai. Tetapi melalui kemitraan dengan Hino, Nestlé menegaskan bahwa keselamatan adalah investasi jangka panjang: menjaga nyawa, menjaga reputasi, menjaga rantai pasok.
Di sisi lain, Tomoki Hattori, Direktur HMSI, menyatakan keselamatan bukan hanya tanggung jawab pengemudi.
Ini adalah ekosistem yang melibatkan pabrikan kendaraan, operator logistik, bahkan konsumen.
Pesan ini terdengar kritis karena menantang praktik lama di sektor logistik Indonesia yang cenderung mengedepankan target distribusi ketimbang keselamatan.
Teknologi dan Data: Memindai Risiko, Memperbaiki Perilaku
Tak hanya pelatihan fisik, Nestlé mewajibkan penggunaan telematika dan kamera kabin berbasis AI di seluruh truknya.
Sistem ini dapat mendeteksi tanda kantuk, distraksi, hingga perilaku berisiko pengemudi secara real-time.
Data yang dikumpulkan kemudian dipakai untuk memperkuat pelatihan, sehingga modul pelatihan lebih presisi terhadap kondisi jalan Indonesia.
Di sinilah inovasi bertemu dengan edukasi: Hino menyediakan platform pelatihan, Nestlé menghadirkan data lapangan, hasilnya adalah peningkatan kompetensi yang lebih tajam dan terarah.
Dalam konteks industri logistik, pendekatan berbasis data ini relatif baru di Indonesia dan berpotensi menjadi standar baru keselamatan jalan raya.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski program ini terdengar menjanjikan, tantangannya bukan tanpa hambatan.
Pertama, budaya keselamatan di Indonesia masih lemah; banyak operator lebih fokus pada kecepatan distribusi ketimbang disiplin keselamatan.
Kedua, adopsi teknologi seperti telematika dan AI memerlukan biaya dan infrastruktur pendukung, yang mungkin memberatkan pelaku usaha logistik skala menengah-ke-bawah.
Ketiga, evaluasi berkelanjutan diperlukan agar pelatihan tidak berhenti hanya pada sertifikasi, tetapi benar-benar membentuk perilaku jangka panjang.
Namun di balik tantangan itu, langkah Hino dan Nestlé adalah contoh konkret bagaimana perusahaan besar bisa memimpin perubahan.
Kritik ini sekaligus menjadi pemacu bagi sektor logistik lain untuk mengejar standar yang sama.
Mengangkat Derajat Pengemudi: Dari Operator Menjadi Profesional Jalan Raya
Program pelatihan ini juga mengubah cara pandang terhadap profesi pengemudi. Mereka bukan lagi sekadar operator kendaraan, melainkan profesional jalan raya yang memikul tanggung jawab besar.
Dengan mindset ini, pengemudi merasa lebih dihargai, lebih disiplin, dan lebih peduli pada keselamatan dirinya maupun pengguna jalan lain.
Langkah Menuju Industri Logistik yang Lebih Berkelanjutan
Kehadiran HTSCC, program pelatihan Hino, serta kebijakan Nestlé tentang telematika adalah bukti nyata bahwa keselamatan bisa sejalan dengan keberlanjutan.
Kendaraan niaga yang lebih efisien, pengemudi yang lebih disiplin, dan teknologi yang proaktif dapat mengurangi kecelakaan, emisi, hingga kerugian ekonomi akibat gangguan distribusi.

Kolaborasi Hino dan Nestlé Prioritaskan Keselamatan Logistik di Indonesia
Dari Kolaborasi Menjadi Inspirasi
Kolaborasi Hino dan Nestlé ini lebih dari sekadar CSR atau gimmick pemasaran. Ini adalah upaya serius menciptakan budaya keselamatan yang bisa menjadi benchmark industri logistik Indonesia.
Di tengah iklim bisnis yang kompetitif, langkah ini mengirim pesan tegas: keselamatan bukan cost center, melainkan core value yang menentukan keberlangsungan bisnis jangka panjang.
Bagi perusahaan lain di sektor logistik, program ini adalah undangan terbuka. Jika Hino dan Nestlé bisa memulai perubahan, mengapa yang lain tidak?***
.
.
- Penulis: dimas
