Berita
light_mode
Beranda » Uncategorized » inDrive dan Konsep Harga Adil Solusi Nyata atau Gimmick Ride-Hailing?

inDrive dan Konsep Harga Adil Solusi Nyata atau Gimmick Ride-Hailing?

  • account_circle Pandito
  • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
  • visibility 238
  • print Cetak

inDrive dan Konsep Harga Adil: Solusi Nyata atau Gimmick Ride-Hailing?

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Jujur aja, siapa sih yang nggak pernah kesel gara-gara tarif ojek online melonjak gila-gilaan cuma karena hujan turun dikit atau jam pulang kantor?

Belum lagi ketika harga naik tapi pengemudinya tetap susah dicari. Di tengah kekisruhan dunia transportasi online seperti ini, muncullah inDrive dengan jargon yang terdengar segar: Harga Adil.

Tapi pertanyaannya: apakah konsep “harga adil” ini benar-benar adil? Atau sekadar gimmick pemasaran buat menarik simpati pengguna yang mulai muak dengan algoritma?

Konsep yang Bikin “Wah!” di Atas Kertas

Secara konsep, inDrive memang terdengar revolusioner. Harga ditentukan bukan oleh algoritma, tapi lewat negosiasi langsung antara penumpang dan pengemudi.

Jadi, nggak ada lagi ceritanya harga naik cuma karena baterai HP tinggal 5%, atau karena kamu buka aplikasi pas jam 5 sore di Sudirman.

Pengguna bisa kasih penawaran tarif, lalu pengemudi bisa setuju, menolak, atau menawarkan harga lain. Semua dilakukan secara langsung dalam aplikasi.

Gaya peer-to-peer begini membuat pengguna merasa punya kuasa atas harga, bukan jadi korban dari sistem algoritmik yang nggak transparan.

Tapi ya… tentu saja, teori selalu lebih indah dari kenyataan.

Di Lapangan, Nggak Semua Suka Nego

Kenyataannya, banyak juga pengguna yang justru ngerasa ribet dengan sistem negosiasi ini.

Apalagi kalau lagi buru-buru atau lagi capek pulang kerja, masa iya harus mikir dulu mau nawar berapa? Ini bukan pasar tradisional, Bro!

inDrive dan Konsep Harga Adil: Solusi Nyata atau Gimmick Ride-Hailing?

Belum lagi kalau nawar terlalu rendah, nanti dibilang nggak punya empati. Tapi kalau kasih harga tinggi, jadinya sama aja kayak platform sebelah yang udah pakai algoritma. Jadi serba salah.

Pengemudi pun kadang ogah buang waktu buat nego berkali-kali. Mereka lebih suka sistem yang langsung kasih harga pasti, tinggal klik, langsung jalan.

Ujung-ujungnya, negosiasi jadi formalitas aja kamu nawar Rp20.000, ditawar balik Rp25.000, ya udah ngalah deh daripada ribet.

Tapi… inDrive Bukan Sekadar Soal Harga

Meski begitu, harus diakui, inDrive tetap menawarkan sesuatu yang layak diperhitungkan. Mereka nggak cuma datang dengan model bisnis baru, tapi juga narasi yang kuat soal keadilan dan transparansi.

Sesuatu yang udah lama hilang dari dunia ride-hailing yang makin dikendalikan oleh algoritma tanpa hati.

Bahkan, inDrive jadi aplikasi ride-hailing nomor dua paling banyak diunduh di dunia, lho. Ini bukti bahwa banyak orang nggak cuma di Indonesia juga mulai bosan dengan sistem yang terkesan manipulatif.

inDrive juga lebih ringan komisinya. Kalau platform besar bisa potong 20–30% dari pendapatan pengemudi, inDrive mengklaim potongannya lebih kecil.

Artinya, driver bisa bawa pulang lebih banyak, tanpa harus memaksa penumpang bayar lebih mahal.

Masalah Lama yang Masih Muncul

Namun sayangnya, konsep sebaik apapun kalau pelaksanaannya belum matang, tetap terasa kurang greget. Misalnya:

  • Sistem keamanan: Memang ada fitur penilaian dua arah, tapi perlindungan penumpang dan driver saat terjadi konflik di lapangan masih butuh diperkuat.
  • Ketersediaan driver: Di kota-kota besar mungkin inDrive sudah lumayan aktif, tapi di kota sekunder atau pinggiran, kadang aplikasinya sepi pengemudi. Ujungnya? Ya balik lagi ke aplikasi sebelah.
  • Edukasi pengguna: Masih banyak yang belum paham cara negosiasi atau justru bingung saat ditawar balik oleh driver. Akhirnya, nggak sedikit yang frustrasi dan pindah platform lagi.

inDrive Bisa Jadi Alternatif Sehat, Asal Konsisten

Meski masih ada kekurangan, gue pribadi melihat inDrive ini sebagai angin segar. Setidaknya, mereka berani hadir dengan pendekatan berbeda dan mencoba mengembalikan nilai-nilai kesetaraan antara pengguna dan mitra pengemudi.

Di saat platform besar makin terasa “korporat” dan kurang manusiawi, pendekatan inDrive terasa lebih membumi.

Yang jadi PR besar adalah, bagaimana inDrive bisa menjaga idealismenya sekaligus bersaing secara realistis di pasar Indonesia.

Jangan sampai karena ingin tampil beda, mereka jadi lupa soal kepraktisan dan kenyamanan pengguna sehari-hari.

Inovasi Butuh Edukasi dan Konsistensi

Apakah model “Harga Adil” inDrive adalah solusi? Bisa iya, bisa belum. Konsepnya bagus dan menjanjikan.

Tapi untuk bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pengguna dan pengemudi, butuh edukasi, adaptasi, dan pembenahan teknis di lapangan.

Setidaknya, mereka sudah memantik obrolan penting: masihkah kita mau dikendalikan algoritma tanpa suara, atau kita ingin punya kontrol atas pilihan kita sendiri?

inDrive mungkin belum sempurna, tapi mereka berani mencoba. Dan di dunia ride-hailing yang kaku dan penuh drama ini, itu saja sudah jadi langkah maju.

Kalau kamu pengguna transportasi online yang mulai jenuh dengan sistem lama, mungkin sudah waktunya coba sesuatu yang baru. Siapa tahu, harga adil versi kamu dan driver memang bisa ketemu di tengah jalan.

Aman dan Manusiawi

Tentu saja, negosiasi tarif bukan berarti abai terhadap keamanan. inDrive tetap mengedepankan sistem penilaian dua arah, fitur keamanan dalam aplikasi, dan tanggung jawab bersama antara pengguna, pengemudi, dan platform. Artinya, baik dari sisi layanan maupun kenyamanan, keamanan tetap jadi prioritas utama.

Poin menarik lain: tidak ada diskriminasi berdasarkan spesifikasi ponsel atau lokasi. Semua pengguna punya hak yang sama untuk mendapat tarif yang adil, tidak peduli pakai HP flagship atau HP entry-level. **

inDrive vs Platform Konvensional: Siapa Unggul?

Fitur inDrive Platform Lain
Penentuan Tarif Negosiasi langsung Algoritma otomatis
Surge Pricing Tidak ada Sering terjadi
Komisi Pengemudi Relatif lebih rendah Bisa tinggi hingga 20–30%
Transparansi Harga Tinggi Tergantung algoritma
Keadilan Teknologi Tidak memandang perangkat Terkadang berdampak signifikan
Pilihan Pengemudi & Kendaraan Ya Terbatas

.

.

.

.

 

  • Penulis: Pandito

Artikel Menarik Lainnya

expand_less