Berita
light_mode
Beranda » Komunitas » Hyundai Motorstudio Jakarta: Edukasi Mobil Listrik Tapi Cuma Buat Gaya?

Hyundai Motorstudio Jakarta: Edukasi Mobil Listrik Tapi Cuma Buat Gaya?

  • account_circle dimas
  • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
  • visibility 178
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Hyundai Motorstudio Jakarta: Edukasi Mobil Listrik Tapi Cuma Buat Gaya?

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Hyundai Motorstudio Jakarta di Senayan Park bisa dibilang jadi tempat nongkrong kekinian buat yang penasaran sama mobil listrik.

Tempatnya Instagrammable, ada kopi enak, dan tentu saja: mobil-mobil listrik yang keren kayak IONIQ 5 atau all-new KONA Electric.

Tapi pertanyaannya, apa semua ini benar-benar berdampak ke perubahan nyata, atau cuma buat konten sosial media?

Program Sustainable City Tour yang katanya ajak peserta keliling Jakarta sambil test drive EV, awalnya terdengar menarik.

Kamu bisa ngerasain mobil listrik, belajar soal green building, dan katanya sih ikut bantu promosi gaya hidup berkelanjutan. Tapi setelah dilihat lebih dekat, justru muncul banyak pertanyaan.

Hyundai Motorstudio Jakarta: Edukasi Mobil Listrik Tapi Cuma Buat Gaya?

Sekilas Menarik, Tapi Cuma Permukaan

Pertama-tama, ya memang sih ide Sustainable City Tour itu unik. Siapa yang nggak mau test drive mobil mahal kayak IONIQ 5 sambil diajak keliling kota dan belajar soal gedung-gedung ramah lingkungan?

Tapi kenyataannya, tur ini lebih terasa kayak ajang “experience” buat branding Hyundai ketimbang edukasi yang betul-betul berdampak.

Informasi soal green building dan keberlanjutan yang dibagikan juga minim, lebih mirip presentasi kilat yang dilupakan begitu keluar dari mobil.

Apalagi, durasinya pendek dan tempat yang dikunjungi pun nggak terlalu mendalam penjelasannya.

Mobil Listrik Tapi Asal Dipakai?

Satu hal yang cukup ironis, banyak peserta datang bukan karena peduli lingkungan, tapi karena pengin coba mobil listrik mewah tanpa bayar.

Bahkan beberapa peserta malah sibuk bikin konten TikTok atau Instagram selama tur berlangsung. Yang tadinya diharapkan jadi momen edukatif, malah jadi tempat foto-foto narsis.

Kalau niatnya edukasi soal mobilitas berkelanjutan, kenapa nggak ada pendekatan yang lebih meaningful?

Misalnya, bikin sesi diskusi bareng komunitas, workshop soal efisiensi energi, atau edukasi soal pentingnya infrastruktur EV yang real? Sayangnya, semua ini nggak kelihatan dari tur ini.

“Green” Tapi Bisa Jadi Greenwashing?

Nah, ini bagian yang paling nyebelin: kesan greenwashing. Hyundai lewat Motorstudio kelihatan banget pengin tampil hijau, padahal kontribusi riil terhadap lingkungan Indonesia masih bisa diperdebatkan.

Pabrik EV Hyundai memang ada di Indonesia, tapi berapa banyak masyarakat kita yang bisa beli IONIQ 5 seharga setengah miliar lebih itu?

Apalagi, EV yang digunakan dalam Sustainable City Tour masih didukung oleh listrik dari grid PLN yang mayoritas masih pakai batubara.

Jadi ya, mau sebersih apapun kendaraanmu, kalau listriknya dari energi kotor, tetap aja karbonnya tinggi.

Ditambah lagi, Hyundai di Indonesia belum punya jaringan pengisian daya umum yang luas. Jadi meski kamu kepincut beli KONA Electric, ujung-ujungnya bakal pusing cari charging station.

Edukasi Setengah Hati?

Program seperti Sustainable City Tour seharusnya bisa jadi jembatan untuk benar-benar mengenalkan publik pada transisi energi dan pentingnya transportasi bersih.

Tapi kenyataannya, edukasi yang diberikan sangat minimalis. Tidak ada pembahasan soal limbah baterai, total cost of ownership EV, atau bahkan isu subsidi EV yang sedang ramai diperdebatkan di Indonesia.

Semua terlihat rapi dan cantik di permukaan, tapi kosong di dalam. Hyundai harusnya bisa lebih dari sekadar mengajak test drive dan selfie.

Targetnya Siapa, Sebenarnya?

Dilihat dari lokasi dan gaya promosinya, Sustainable City Tour lebih menyasar kalangan Gen Z dan milenial urban yang melek digital dan peduli tren gaya hidup.

Tapi mereka juga yang paling kritis kalau brand kelihatan cuma “setengah-setengah”. Nah, Hyundai seharusnya hati-hati, karena generasi ini bisa cepat bosan dan lebih cepat membongkar “kebohongan hijau”.

Kalau tujuannya hanya menjual mimpi mobil listrik kepada kalangan elit kota, ya program ini bisa dibilang berhasil.

Tapi kalau tujuannya adalah menyebarkan wawasan soal keberlanjutan dan perubahan nyata, Hyundai masih punya PR besar.

Niat Baik, Eksekusi Kurang

Kita harus akui, Hyundai lewat Motorstudio udah ambil langkah penting dalam mempopulerkan EV di Indonesia. Tapi langkah itu masih terasa sebagai aksi marketing, bukan aksi transformasi.

Sustainable City Tour lebih cocok disebut sebagai alat promosi fancy, bukan gerakan edukatif soal krisis iklim dan masa depan mobilitas.

Buat sebagian orang, ini bisa jadi pengalaman seru. Tapi buat yang lebih kritis, ini hanyalah contoh lain dari kampanye “hijau-hijauan” yang belum menyentuh akar masalah.

Hyundai Motorstudio Jakarta memang terlihat keren, apalagi dengan program seperti Sustainable City Tour.

Tapi di balik kemasan cantik itu, masih ada banyak kekosongan yang harus diisi dari sisi edukasi, komitmen nyata terhadap keberlanjutan, sampai konsistensi membangun ekosistem kendaraan listrik yang benar-benar bisa diakses masyarakat luas.

Kalau Hyundai mau benar-benar jadi pionir mobilitas masa depan, saatnya upgrade bukan cuma mobilnya, tapi juga pendekatan komunikasinya.****

.

.

.

.

  • Penulis: dimas

Baca Juga

expand_less