EV Lebih Kotor dari Hybrid? Akio Toyoda Tantang Narasi Ramah Lingkungan Mobil Listrik
- account_circle Pandito
- calendar_month Sab, 14 Jun 2025
- visibility 105

EV Lebih Kotor dari Hybrid? Akio Toyoda Tantang Narasi Ramah Lingkungan Mobil Listrik
OTOExpo.com , Jakarta – EV Lebih Kotor dari Hybrid? Akio Toyoda Tantang Narasi Ramah Lingkungan Mobil Listrik
Di tengah gelombang elektrifikasi otomotif global, Akio Toyoda mantan CEO sekaligus Chairman Toyota Motor Corporation kembali muncul membawa pernyataan yang bikin heboh: mobil listrik (EV) justru lebih mencemari lingkungan ketimbang mobil hybrid.
Pernyataan ini dilontarkannya dalam wawancara dengan Bloomberg, dan tentu saja langsung memantik perdebatan sengit.
Toyoda bahkan menyebut, “satu mobil listrik bisa mencemari lingkungan setara dengan tiga hybrid,” terutama jika pengisiannya masih mengandalkan listrik dari energi fosil, seperti yang terjadi di Jepang.

Bukan Sekadar Gertakan Ada Data di Baliknya
Sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di industri otomotif global, Toyoda bukan sosok yang asal bicara.
Ia mendasari argumennya pada life cycle assessment yakni jejak karbon dari hulu ke hilir. Ini termasuk:
- Emisi saat memproduksi baterai besar di EV atau mobil listrik,
- Sumber listrik untuk charging (yang di banyak negara masih dari batu bara/gas alam),
- Dan jejak karbon operasional selama masa pakai kendaraan.
Sementara hybrid, menurut Toyoda, lebih efisien karena:
- Menggunakan baterai lebih kecil,
- Tidak tergantung pada charging eksternal,
- Dan tetap bisa menekan emisi secara konsisten dalam berbagai kondisi.
Buktinya? Toyota mengklaim bahwa sejak Prius pertama diluncurkan pada 1997, mereka sudah menjual lebih dari 27 juta unit hybrid secara global.
Itu berarti jutaan ton CO₂ yang berhasil ditekan tanpa menunggu kesiapan infrastruktur EV atau kendaraan listrik di seluruh dunia.
EV: Solusi Masa Depan atau Ilusi Ramah Lingkungan?
Saat dunia sedang getol mengejar target netral karbon, EV dianggap sebagai kunci. Tapi Toyoda mempertanyakan pendekatan itu.
Ia bilang, kalau 1 juta EV diproduksi dengan energi fosil, maka itu bisa menimbulkan lebih banyak emisi daripada 3 juta hybrid. Apalagi di negara-negara yang belum 100% pakai energi terbarukan.
Dan ya, meski Tesla, BYD, Hyundai, dan bahkan merek China lain terus memompa lini EV, Toyoda percaya bahwa:
“Pasar EV tak akan pernah melebihi 30% dari total kendaraan global.”
Mengapa Toyota Terlihat Lambat Masuk EV?
Toyota sering dikritik karena dianggap lamban dalam menyambut revolusi EV. Tapi nyatanya, mereka bukan tak bergerak. Toyota sudah:
- Merilis lini bZ series,
- Menyematkan teknologi EV di Lexus, dan
- Mengembangkan platform e-TNGA.
Namun, mereka tidak mengejar kuantitas. Toyota tetap menekankan strategi multi-pathway: gabungan dari ICE (mesin bensin), hybrid, EV, dan hidrogen.
Dan soal hidrogen? Jangan anggap main-main. Toyota bahkan menggandeng BMW untuk mengembangkan kendaraan berbahan bakar hidrogen yang rencananya mulai diproduksi pada 2028.
Mempertahankan Pekerjaan, Bukan Sekadar Jual Mobil
Selain soal lingkungan, Toyoda juga menyinggung dampak sosial-ekonomi dari peralihan masif ke EV. Menurutnya:
- Produksi EV lebih sederhana, sehingga bisa mengurangi kebutuhan tenaga kerja secara drastis.
- Industri suku cadang (yang menopang jutaan pekerja) bisa kolaps kalau semua orang buru-buru beralih ke EV.
“Kita harus selamatkan planet, tapi juga harus selamatkan lapangan kerja,” tegas Toyoda.
Ini menjadi peringatan serius bahwa transisi energi bersih harus mempertimbangkan aspek ekonomi dan sosial, bukan cuma euforia teknologi.
Apa Reaksi Dunia?
Banyak pihak menilai Toyoda terlalu konservatif, bahkan protektif terhadap model bisnis lama Toyota. Tapi tak sedikit juga yang mengapresiasi keberaniannya melawan narasi dominan.
Beberapa analis menilai:
- Apa yang disampaikan Toyoda bisa menjadi wake-up call agar industri tidak terburu-buru mendewakan EV,
- Mendorong diskusi lebih dalam soal energi bersih yang benar-benar berkelanjutan, bukan hanya berpindah dari satu masalah ke masalah lain.
Toyota: Bukan Anti-EV, Tapi Pro-Realita
Dengan tetap memproduksi EV dan hybrid secara paralel, Toyota jelas bukan anti-EV. Mereka hanya ingin membawa pendekatan yang lebih realistis dan inklusif.
Tak semua negara siap dengan EV, tak semua konsumen bisa membeli atau mengakses infrastruktur charging.
Itulah kenapa hybrid, ICE efisien, dan hidrogen tetap jadi bagian dari strategi mereka.
Apakah Toyoda Salah? Tidak Juga.
Toyoda tidak anti kemajuan. Tapi ia menolak narasi tunggal yang menganggap EV adalah satu-satunya solusi.
Dan memang, di beberapa negara, EV bisa jadi lebih kotor ketimbang hybrid, kalau dihitung secara total jejak karbon.
Namun bukan berarti hybrid adalah jawaban mutlak. Teknologi terus berkembang, dan kombinasi dari EV, hybrid, dan hidrogen bisa jadi jalan tengah terbaik saat ini.
Jadi, siapa bilang hanya ada satu cara menyelamatkan bumi? ****(Dms)
.
.
.
.
.
.
.
- Penulis: Pandito

