Indonesia Jadi Incaran BYD Untuk Basis Produksinya
- account_circle Magoh
- calendar_month Senin, 29 Jul 2019
- visibility 151
- comment 0 komentar
- print Cetak

Indonesia Jadi Incaran BYD Untuk Basis Produksinya, Foto. Istimewa
Indonesia Jadi Incaran BYD Untuk Basis Produksinya
Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, melirik Indonesia sebagai basis produksi regional. Lokasi strategis dan peluang ekspor ke Australia jadi daya tarik utama.
OTOExpo.com – Indonesia kembali masuk radar produsen kendaraan listrik global. Salah satu raksasa otomotif asal China, BYD (Build Your Dreams), dikabarkan tengah mengincar Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik untuk pasar regional dan ekspor.
Informasi ini disampaikan oleh Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), di sela-sela penutupan pameran otomotif GIIAS 2019 yang berlangsung di Tangerang. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis bagi BYD, khususnya untuk menjangkau pasar Australia.
Indonesia Dinilai Strategis untuk Ekspor
Nangoi menjelaskan bahwa kedekatan Indonesia dengan Australia menjadi salah satu faktor utama yang membuat BYD serius melirik Tanah Air. Pasar otomotif Australia dinilai sangat potensial karena memiliki volume penjualan yang besar, namun tidak memiliki fasilitas produksi kendaraan di dalam negeri.
“Mobil dari China, khususnya BYD, sangat berpotensi karena mereka melihat peluang besar di Indonesia. Lokasi Indonesia dekat dengan Australia, sementara pasar Australia mencapai sekitar 1,2 juta unit per tahun tanpa memiliki pabrik mobil,” ujar Nangoi, dikutip dari Kompas.com.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai ideal sebagai hub produksi sekaligus ekspor kendaraan listrik ke kawasan Australia dan Asia Pasifik.
Minat BYD terhadap Indonesia juga tak lepas dari langkah strategis perusahaan dalam memperkuat bisnis kendaraan listrik secara global. Belum lama ini, BYD menjalin kerja sama dengan Toyota Motor Corporation (TMC) untuk pengembangan kendaraan listrik dan produksi baterai, yang ditargetkan untuk pasar otomotif global dalam lima tahun ke depan.
Kolaborasi ini mempertegas posisi BYD sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem kendaraan listrik, tidak hanya sebagai produsen mobil, tetapi juga sebagai penyedia teknologi baterai.
Meski demikian, Nangoi mengaku belum dapat memastikan jenis kendaraan apa yang akan diproduksi BYD jika benar berinvestasi di Indonesia.
“Harusnya mobil, karena BYD sangat kuat di mobil listrik. Tapi kita lihat saja nanti,” ujarnya.
Selain mobil penumpang, BYD juga dikenal memiliki portofolio kuat di segmen kendaraan komersial dan transportasi publik berbasis listrik. Beberapa waktu lalu, BYD sempat menunjukkan ketertarikannya untuk terlibat dalam pengadaan bus listrik TransJakarta, serta bekerja sama dengan sejumlah operator bus di Indonesia.
Hal ini membuka kemungkinan bahwa investasi BYD di Indonesia tidak hanya terbatas pada mobil penumpang, tetapi juga mencakup kendaraan listrik untuk transportasi massal.
Terkait kerja sama dengan Toyota, Nangoi menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian apakah BYD akan langsung bermitra dengan Toyota Indonesia atau berjalan sendiri.
“Saya juga belum tahu. Tapi kalau ini jadi, tentu Toyota berpotensi ikut investasi mobil listrik dan teknologi pendukung lainnya. Kita lihat saja ke depan,” jelasnya.
Yang pasti, pemerintah Indonesia disebut sangat terbuka dan mendukung penuh rencana investasi kendaraan listrik. Berbagai regulasi seperti Peraturan Presiden (Perpres) dan Peraturan Pemerintah (PP) terkait percepatan kendaraan bermotor listrik telah disiapkan untuk menarik investasi global.
Ketertarikan BYD menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dinilai sebagai sinyal positif bagi industri otomotif nasional. Selain membuka peluang ekspor, investasi ini juga berpotensi memperkuat ekosistem kendaraan listrik, menciptakan lapangan kerja, serta mempercepat transfer teknologi.
Jika rencana ini terealisasi, Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga pemain penting dalam rantai pasok global EV, khususnya untuk kawasan Asia Pasifik.****
- Penulis: Magoh
- Editor: Dimas Lombardi

