Bensin Makin Mahal, Skema Sewa EV VinFast Cara Lebih Mudah Menambah Penghasilan
- account_circle Magoh
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

Cara Lebih Mudah Menambah Penghasilan, Model Sewa VinFast Ubah Cara Kerja Mitra Pengemudi di Indonesia
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Cara Lebih Mudah Menambah Penghasilan, Model Sewa VinFast Ubah Cara Kerja Mitra Pengemudi di Indonesia
OTOExpo.com , Jakarta – Tekanan biaya operasional yang semakin tinggi membuat para mitra pengemudi ride-hailing di Indonesia mulai mencari solusi yang lebih rasional dan berkelanjutan. Di tengah fluktuasi harga bahan bakar yang sulit diprediksi, muncul pendekatan baru yang kini mulai dilirik serius: skema sewa kendaraan listrik.
Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Di kota-kota padat seperti Jakarta, Surabaya, hingga Bandung, pengemudi harus menghadapi kombinasi kemacetan ekstrem dan jam kerja panjang. Dalam kondisi tersebut, konsumsi bahan bakar menjadi faktor krusial yang langsung memengaruhi pendapatan harian.
Seorang pengemudi ride-hailing di Jakarta yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan realitas yang dihadapi di lapangan.
“Kalau lagi ramai, pendapatan memang naik. Tapi begitu bensin naik atau macet parah, biaya langsung membengkak. Kadang kita kerja seharian, tapi margin tipis banget,” ujarnya.
Perubahan mulai terasa ketika VinFast menghadirkan model bisnis berbasis sewa kendaraan listrik yang ditujukan khusus untuk mitra pengemudi. Skema ini memungkinkan driver menggunakan mobil listrik tanpa harus membeli unit secara langsung—sebuah pendekatan yang menghilangkan hambatan terbesar dalam adopsi EV: biaya awal.

VinFast Resmi Membuka Pemesanan VF MPV 7 di Indonesia
Dengan tarif mulai dari sekitar Rp312.500 per hari, pengemudi bisa langsung beroperasi tanpa beban investasi besar. Secara teknis, model ini menggeser struktur biaya dari capital expenditure (CapEx) menjadi operational expenditure (OpEx), yang jauh lebih fleksibel untuk pekerja sektor informal seperti driver ride-hailing.
“Buat kami, yang penting bukan punya mobilnya, tapi bisa jalan dan dapat order. Kalau biaya harian bisa diprediksi, itu sudah sangat membantu,” tambah pengemudi tersebut.
Efisiensi Energi Jadi Kunci
Dari sisi teknis, kendaraan listrik menawarkan efisiensi energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar internal combustion engine (ICE). Rasio konversi energi listrik ke roda bisa mencapai lebih dari 85%, sementara mesin bensin rata-rata hanya berada di kisaran 25–30%.
Model seperti VinFast Herio Green mampu menempuh lebih dari 300 kilometer dalam satu kali pengisian daya penuh. Angka ini cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional harian driver di wilayah urban dengan intensitas tinggi.
Selain itu, sistem fast charging memungkinkan pengisian dari 10% ke 70% dalam waktu sekitar 30 menit. Dalam praktiknya, waktu tersebut dapat dimanfaatkan saat jeda makan atau istirahat, sehingga tidak mengganggu produktivitas harian.
Perbandingan Biaya: EV vs BBM
Jika dihitung secara matematis, selisih biaya operasional antara kendaraan listrik dan bensin menjadi signifikan, terutama untuk penggunaan intensif. Untuk jarak tempuh harian 200–300 km, biaya bahan bakar kendaraan konvensional bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari, tergantung konsumsi dan kondisi lalu lintas.
Sebaliknya, biaya pengisian daya kendaraan listrik dapat ditekan jauh lebih rendah, bahkan dalam beberapa skema promosi mendekati nol rupiah. Ini berarti margin keuntungan yang sebelumnya tergerus oleh BBM kini bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan.
Langkah VinFast tidak berdiri sendiri. Perusahaan ini juga mengembangkan ekosistem pendukung, termasuk jaringan pengisian daya yang terus diperluas di berbagai kota besar di Indonesia. Hal ini menjadi faktor penting dalam mengurangi kekhawatiran pengemudi terhadap keterbatasan infrastruktur EV.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai aktif mendorong adopsi kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan insentif. Kombinasi antara dukungan industri dan regulasi ini menciptakan momentum yang semakin mempercepat transisi.

VinFast VF 3 SUV Listrik Mini Yang Bikin Heboh di IIMS 2025
Perubahan pola kerja ini perlahan menggeser cara pandang para driver terhadap kendaraan operasional. Jika sebelumnya kepemilikan menjadi prioritas, kini efisiensi dan fleksibilitas justru menjadi faktor utama.
“Kalau dihitung-hitung, lebih masuk akal pakai listrik. Pengeluaran lebih jelas, tidak tergantung harga bensin lagi,” kata pengemudi lainnya di wilayah Jabodetabek.
Dengan tekanan ekonomi yang terus berubah, model sewa kendaraan listrik mulai dipandang bukan sekadar alternatif, melainkan strategi bertahan yang lebih cerdas. Dalam jangka panjang, efisiensi biaya operasional bisa menjadi pembeda utama antara pengemudi yang mampu berkembang dan yang tertinggal.
Transformasi ini masih berada di tahap awal, namun arahnya sudah jelas. Ketika teknologi, kebutuhan pasar, dan tekanan ekonomi bertemu di satu titik, perubahan bukan lagi pilihan melainkan keharusan.***
- Penulis: Magoh
- Editor: Dimas Lombardi

Saat ini belum ada komentar