Pasar Truk Heavy Duty Lesu 2025, UD Trucks Ungkap Tantangan Dan Peluang Pemulihan
- account_circle dimas
- calendar_month Sel, 16 Des 2025
- visibility 97

Pasar Truk Heavy Duty Lesu 2025, UD Trucks Ungkap Tantangan Dan Peluang Pemulihan
Pasar truk heavy duty Indonesia turun hingga 16% pada 2025
OTOExpo.com , Jakarta – Dunia kendaraan niaga kerap bergerak dalam irama yang berbeda dibanding mobil penumpang. Ia tidak selalu hingar-bingar, namun denyutnya langsung terasa di nadi perekonomian. Ketika truk berhenti melaju, kita tahu ada sesuatu yang sedang melambat. Tahun 2025 menjadi salah satu fase itu, dan pasar truk heavy duty di Indonesia kini sedang berada di persimpangan jalan.
Data terbaru menunjukkan pasar truk niaga berat nasional mengalami koreksi cukup dalam. Hingga menjelang tutup tahun, penjualan segmen heavy duty baru menyentuh kisaran 15.268 unit, dan diperkirakan hanya akan menutup 2025 di angka sekitar 16.500 unit. Angka tersebut bukan sekadar statistik ia merefleksikan tekanan ekonomi, penundaan proyek, dan sikap wait and see pelaku industri.
Menurut Handi Lim, Vice President Director Marketing and After Sales Service Director UD Trucks Indonesia, penurunan ini menjadi cerminan kondisi pasar otomotif nasional secara keseluruhan.
“Sepanjang 2025, pasar otomotif, baik kendaraan penumpang maupun komersial, mengalami koreksi cukup dalam. Untuk segmen truk heavy duty, penjualan hingga saat ini baru mencapai 15.268 unit,” ujar Handi dalam sebuah media gathering di Jakarta.
Nada pernyataannya tenang, namun maknanya tajam. Dengan sisa waktu yang kian tipis menuju akhir tahun, proyeksi pasar heavy duty diperkirakan hanya mencapai 16.500 unit, atau turun sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebuah penurunan yang tidak bisa lagi disebut fluktuasi musiman biasa.
Pelemahan pasar truk heavy duty bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia adalah efek domino dari melambatnya sektor-sektor utama penggerak ekonomi, terutama konstruksi dan pertambangan.
Proyek infrastruktur yang tertunda dan aktivitas tambang yang cenderung stagnan membuat permintaan kendaraan niaga berat ikut tertahan.
Hal ini diperkuat oleh pandangan Bambang Widjanarko, Chief Operating Astra UD Trucks, yang menilai sektor konstruksi menjadi segmen dengan tekanan paling besar sepanjang 2025.
“Penundaan sejumlah proyek membuat permintaan kendaraan niaga dari sektor konstruksi melemah,” ungkapnya.
Di atas kertas, konstruksi dan tambang selama ini menjadi tulang punggung pasar heavy duty. Namun ketika dua sektor tersebut melambat bersamaan, dampaknya terasa signifikan. Truk-truk besar yang biasanya menjadi simbol geliat ekonomi, kini lebih sering terlihat parkir menunggu muatan sebuah metafora sunyi dari pasar yang sedang menahan napas.
Meski demikian, UD Trucks menolak membaca situasi ini sebagai sinyal suram jangka panjang. Segmen pertambangan, meski masih stagnan, diyakini memiliki potensi bangkit dalam waktu dekat seiring membaiknya iklim ekonomi dan meningkatnya kebutuhan komoditas.
Handi Lim menyebut bahwa pihaknya telah menyiapkan amunisi produk untuk menyambut momentum tersebut. Salah satunya adalah Quester 6×4 rigid, model yang dirancang khusus untuk kebutuhan operasional tambang dengan fokus pada daya tahan, efisiensi operasional, dan kemudahan perawatan.
“Segmen pertambangan memang masih berjalan di tempat, tetapi kami memperkirakan tahun depan aktivitas produksi akan kembali meningkat,” jelas Handi.
Di sinilah pendekatan UD Trucks terasa menarik. Alih-alih reaktif terhadap penurunan, mereka memilih bersiap sebelum pasar kembali bangun sebuah strategi yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi krusial dalam industri berbasis siklus seperti kendaraan niaga.
Di tengah lesunya konstruksi dan tambang, pasar tidak sepenuhnya kehilangan penopang. Segmen general cargo, termasuk angkutan makanan dan petrokimia, justru menjadi penyelamat pasar kendaraan niaga sepanjang 2025.
Selain itu, sektor energi juga dipandang sebagai area strategis dengan potensi pertumbuhan yang relatif stabil. UD Trucks menempatkan Pertamina sebagai salah satu mitra penting, terutama untuk mendukung proyek-proyek energi berskala besar yang membutuhkan armada truk andal dan berdaya angkut tinggi.
Untuk kebutuhan tersebut, pengembangan traktor head menjadi fokus tersendiri. Logistik energi menuntut kendaraan yang tidak hanya kuat, tetapi juga efisien dan siap beroperasi dalam durasi panjang sebuah tuntutan yang kian relevan di era efisiensi biaya dan transisi energi.

Pasar Truk Heavy Duty Lesu 2025, UD Trucks Ungkap Tantangan Dan Peluang Pemulihan
Jika 2024 adalah tahun optimisme, maka 2025 adalah tahun evaluasi. Pasar truk heavy duty Indonesia sedang diuji untuk lebih realistis, lebih selektif, dan lebih strategis. Penurunan 16 persen memang terasa perih, namun bukan berarti pasar kehilangan arah.
Dari kacamata industri, fase ini justru menjadi momen untuk merapikan fundamental mulai dari efisiensi operasional, ketepatan segmentasi produk, hingga penguatan layanan purnajual.
Di segmen kendaraan niaga, keputusan pembelian bukan soal emosi, melainkan kalkulasi jangka panjang. Dan di situlah merek seperti UD Trucks berusaha tetap relevan.
Pasar boleh melambat, proyek boleh tertunda, tetapi roda industri tidak pernah benar-benar berhenti. Truk heavy duty mungkin sedang bergerak lebih pelan di 2025, namun arah jalannya masih jelas: mengikuti denyut ekonomi nasional.
Ketika pertumbuhan kembali menguat, permintaan kendaraan niaga akan bergerak seiring. Dan saat itu tiba, mereka yang sudah bersiap lebih awal dengan produk tepat, strategi matang, dan kesabaran industri akan kembali melaju di jalur terdepan.
Dalam dunia truk, seperti dalam hidup, yang bertahan bukan yang paling cepat, tetapi yang paling siap membaca jalan di depan.***
- Penulis: dimas
- Editor: RM.Dimas Wirawan

