“Bisnis Hampir Tumbang, DFSK Gelora E Mengubah Nasibnya” Cerita Nyata Pelaku Usaha!
- account_circle dimas
- calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
- visibility 202
- comment 0 komentar
- print Cetak

DFSK Gelora E Mengubah Nasibnya" Cerita Nyata Pelaku Usaha
“Bisnis Hampir Tumbang, DFSK Gelora E Mengubah Nasibnya” Cerita Nyata Pelaku Usaha!
Kisah perjalanan seorang pelaku usaha yang bangkit kembali setelah hampir tumbang, berkat kehadiran DFSK Gelora E, mobil listrik niaga ringan yang efisien, senyap, dan ramah biaya operasional.
OTOExpo.com , Jakarta – Di sebuah sudut kota yang terus bergerak tanpa permisi, seorang pengusaha UMKM bernama Setyo Aji pernah hampir menyerah. Usahanya sudah berjalan sekitar empat tahun berupa bisnis makanan rumahan yang ia bangun dari dapur sempit dan mimpi yang lebih luas dari langit-langit kontrakannya.
Memasuki 2019 covid melanda seluruh dunia termasuk Indonesia. Saat juga ongkos kirim naik, bahan baku semakin tidak bersahabat, dan kendaraan operasionalnya mulai sering ngadat, bisnis itu seperti kehilangan napas panjangnya. “Saat itu, kalau terus begini, usaha ini cuma nunggu tanggal kadaluarsa,” ungkapnya..
di tahun 2021, seorang teman mengajaknya untuk mengunjungi ajang pameran otomotif dibilangan Kemayoran, jakarta-pusat. Awal hanya sekedar cari suasana, tanpa sengaja sepasang matanya langsung tertuju sesuatu yang tak ia duga: DFSK Gelora E.
Mobil listrik niaga ringan yang saat itu muncul bukan sebagai barang mewah, melainkan sebagai jawaban yang datang dengan sangat praktis dan sedikit puitis. Karena dunia usaha memang sering begitu: penyelamatnya kadang hadir dari teknologi yang sedang tumbuh.
Awal Pertemuan yang Mengubah Arah
Aji pertama kali melihat Gelora E di sebuah pameran otomotif IIMS 2021. Bentuknya sederhana, proporsional, tidak neko-neko. Tapi saat pintu belakangnya dibuka, ia melihat ruang kargo yang lapang, mengingatkannya pada lembar kosong yang siap diisi peluang.
Kapasitasnya mencapai 4,8 meter kubik, cukup untuk menampung hingga 350–700 boks makanan, tergantung ukuran kemasan. Di kepalanya, angka-angka omzet mulai berbaris seperti tentara, ikut menyusun strategi.
Dan yang paling membuatnya berhenti melangkah adalah ketika petugas booth berbisik:
“Biaya per kilometernya kurang lebih cuma ratusan rupiah, Pak. Lebih murah dari kopi sachet.” terangnya.
Aji tersenyum. Bukan karena sedang ditawari mobil, tapi karena ia baru saja ditawari harapan.
Teknologi yang Tidak Merumitkan, Hanya Mempermudah
DFSK Gelora E adalah contoh bagaimana kendaraan komersial listrik tidak harus terlihat futuristik untuk menjadi revolusioner.
Dengan motor listrik 60 kW setara 80-an hp, serta torsi 200 Nm yang hadir seketika, mobil ini mampu mengangkut beban tanpa ngeden seperti mobil niaga konvensional.

Keheningan kabinnya membuat perjalanan pagi terasa lebih damai; suara wajan dan minyak panas di dapur sudah cukup bisin, ia tak butuh tambahan kebisingan dari mesin.
Baterainya berkapasitas 42 kWh, dan jarak tempuhnya berada di kisaran 300 km dalam satu kali pengisian. Untuk usaha harian Aji, itu lebih dari cukup. Bahkan di hari ramai, Gelora E masih kuat mengantar pesanan tanpa harus mampir charging.
Dan yang membuat bisnisnya semakin teratur adalah kemampuan fast charging: 20% – 80% hanya sekitar 80 menit. Untuk sebuah van usaha, ini adalah durasi yang memungkinkan bisnis tetap berdenyut tanpa jeda panjang.
Perjalanan Bisnis yang Mulai Konsisten
Sebelum memiliki Gelora E, Aji menghabiskan Rp 250.000 – 400.000 per hari untuk bensin, terutama saat permintaan meningkat. Setelah itu, biaya energinya turun menjadi: ± Rp 40.000 per penuh (charging rumah) dengan jarak hingga 260 km.
Penghematan ini langsung terasa seperti ventilasi baru di laporan keuangan usahanya.
Dalam sebulan, ia bisa memangkas biaya operasional lebih dari Rp 4–6 juta. Uang yang kemudian ia gunakan untuk menambah freezer, memperluas dapur, dan membayar karyawan tambahan.
“Kalau bisnis adalah perjalanan, maka Gelora E itu seperti sepatu baru: tidak membuat sakit, justru bikin langkah makin jauh,” kata Aji.
Kenyamanan Bagi Usaha Kecil
Gelora E bukan hanya kendaraan niaga listrik pertama yang masuk Indonesia; ia juga menjadi kendaraan yang memahami bahwa pelaku usaha kecil butuh kesederhanaan.
-
Setirnya ringan, sehingga pengemudi bisa bermanuver di gang sempit.
-
Suspensinya empuk, membuat makanan yang dibawa tetap aman tanpa jungkir balik.
-
Kabin depan luas, cocok untuk perjalanan jauh dan pengiriman yang padat.
-
Handling stabil, karena mobil listrik punya titik gravitasi rendah.
Aji bahkan bilang, “Mengemudikan Gelora E itu seperti mengantar mimpi sendiri. Tenang, halus, dan terasa punya tujuan.”
Untuk sebuah kendaraan listrik niaga, angka mobil niaga ringan tersebut ini masih sangat kompetitif jika dibandingkan biaya operasional jangka panjang yang ditekan habis-habisan.

DFSK Gelora E Mengubah Nasibnya” Cerita Nyata Pelaku Usaha
Jika dihitung secara makro, Aji memperkirakan investasi Gelora E akan balik modal dalam waktu 1,5–2 tahun, hanya dari penghematan energi dan perawatan.
Bisnisnya Kini Bergerak Lebih Cepat dari Sebelumnya
Semenjak Gelora E hadir dalam hidupnya, Aji perlahan menjadi cerita; bukan hanya penikmat cerita. Usahanya kini melayani tiga kota sekaligus. Ia membuka cabang kecil di pinggiran kota, dan armadanya yang awalnya cuma Gelora E putih itu kini bertambah menjadi dua.
Yang menarik, pelanggan juga mulai salut. Mereka bilang Aji bukan hanya menjual makanan, tapi juga menjual cara baru menjalankan bisnis yang lebih hijau dan lebih modern.
Bisnis Raka masih berjalan hari ini. Ia masih bangun pagi, menyiapkan bumbu, menata pesanan, dan mengantar harapan lewat roda Gelora E-nya.
Dalam kata-katanya sendiri:
“Mobil ini bukan sekadar alat angkut. Ini partner kerja yang diam-diam mengangkat beban bisnis saya.”
Dan begitulah, di sebuah era di mana usaha kecil harus lebih adaptif dari sebelumnya, DFSK Gelora E hadir bukan sebagai tren, melainkan sebagai teman seperjalanan yang memahami betul bahwa efisiensi adalah nama lain dari ketangguhan.****
- Penulis: dimas
- Editor: dimas lombardi
