Aksi Ekstrem SUV Chery Yang Gagal Nanjak di Tianmen
- account_circle Selviyani Mimie
- calendar_month Sab, 15 Nov 2025
- visibility 223

Aksi Ekstrem SUV Chery Yang Gagal Nanjak di Tianmen
Aksi Ekstrem SUV Chery Yang Gagal Nanjak di Tianmen
Aksi Ekstrem Chery Berujung Ricuh di Tianmen: Pengait Copot, Mobil Melorot, dan Reputasi Ikut Terseret!
OTOExpo.com , Tianmen – Di balik kabut tipis yang menyelubungi Gunung Tianmen yang merupakan tempat para wisatawan biasanya mencari ketenangan dan swafoto dengan latar tebing berpagar rapat, sebuah drama otomotif terjadi.
Bukan drama kemenangan epik seperti di iklan SUV yang menaklukkan dunia, melainkan adegan yang lebih mirip “plot twist yang tidak diundang.”
Di sinilah Chery Fengyun X3L, SUV boxy yang seharusnya tampil gagah di panggung batu berliku, justru tergelincir dalam momen yang mengikis bukan hanya pagar besi, tetapi juga wibawa brand yang tengah membangun citra globalnya.
Aksi Ekstrem yang Berakhir Ironi
Pada 12 November 2025, di area wisata Gunung Tianmen, Hunan, tim Chery sedang melakukan uji demonstratif untuk memamerkan “ketangguhan” Fengyun X3L. Namun ketangguhan itu justru berubah menjadi kejatuhan kecil yang menimbulkan gema besar.
Menurut laporan resmi mereka, pengait utama tali pengaman tiba-tiba copot. Bukan karena badai, bukan karena tebing runtuh—melainkan karena sesuatu yang disebut Chery sebagai “insiden tak terduga.” Sebuah frasa yang sering muncul saat semuanya sudah telanjur kacau.
Begitu pengait lepas, tali terayun bebas, tersangkut roda kanan, dan membuat SUV itu kehilangan traksi. Mesin berusaha menahan, tapi gaya gravitasi Tianmen lebih kuat daripada ambisi promosi.
Hasilnya? Mobil meluncur mundur, menghantam pagar besi, dan menyisakan jejak kerusakan yang viral di seluruh platform sosial Tiongkok.
Tidak ada korban jiwa, dan itu tentu kabar baik. Tetapi bagi sebuah perusahaan otomotif yang tengah menanjak, kejadian seperti ini lebih mahal daripada sekadar mengganti pagar.
“Kami Menyadari Kelalaian…” Pernyataan yang Tak Menyelamatkan
Chery akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi bernada menyesal.
“Kejadian ini menunjukkan kelalaian kami dalam melakukan penilaian risiko serta kurangnya pengendalian detail.”
Kalimat itu terlalu jujur, sekaligus pahit. Sebab bagi pengamat industri, “kelalaian” dalam uji ekstrem adalah hal yang sulit ditoleransi, terlebih ketika dilakukan di area wisata yang ramai.
Dalam dunia otomotif, setiap uji ekstrem adalah sebuah ritual teknis: diukur, dihitung, disimulasikan, dan diulang hingga risiko terkendali.
Jika pengait bisa copot begitu saja, maka publik wajar bertanya:
-
Apakah perencanaannya matang?
-
Apakah prosedur keamanan diabaikan demi konten promosi heroik?
-
Apa gunanya tali pengaman jika justru menjadi sumber malapetaka?
Di sinilah kritik tajam mulai mengalir dari komunitas otomotif.
Bukan hanya karena pagar rusak, tetapi karena insiden ini menunjukkan celah pada standar evaluasi risiko.
Teknisnya: Bukan Sekadar “Pengait Copot”
Dalam uji tanjakan ekstrem, komponen seperti:
-
hook pengaman,
-
sistem winch,
-
sensor traksi,
-
hill-start assist,
-
kontrol torsi,
-
dan rangkaian load-bearing points
harus dipastikan dalam kondisi nyaris sempurna.
Jika satu saja gagal, seluruh sistem bisa runtuh seperti domino.
Tersangkutnya tali pada roda kanan menunjukkan bahwa struktur pengamanan tidak dirancang untuk kegagalan beruntun. Dalam dunia teknik, kondisi ini disebut failure mode oversight ketika potensi skenario gagal tidak dihitung secara memadai.
Karena Fengyun X3L, meski dipromosikan sebagai SUV tangguh, tetap berada di level konsumen dengan harga mass-market. Bahkan jika kelak dipasarkan global, banderolnya diprediksi berada di kisaran US$17.000–US$22.000 atau setara Rp 270–350 jutaan kelas harga yang harus mampu membuktikan durabilitasnya, bukan hanya tampilan kotaknya yang macho.
Masalah Reputasi Jauh Lebih Berat dari Pagar Rusak
Kerusakan pagar bisa diperbaiki. Tapi kerusakan persepsi publik? Itu cicilan panjang.
Uji ekstrem di tempat wisata publik yang bukan dirancang untuk aktivitas semacam itu—sudah mengundang perdebatan.
Apalagi ketika aksi tersebut gagal secara dramatis.
LSI keyword seperti brand image, public trust, consumer confidence, dan safety controversy mulai berseliweran di media, memperlebar dampak reputasi.
Apalagi di era internet, satu rekaman video meluncur mundur bisa menenggelamkan seribu press release yang penuh optimisme.
“Tianmen Lesson”
Dalam penutup pernyataannya, Chery menulis:
“Kami akan menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga untuk melangkah lebih hati-hati dan lebih matang ke depan.”
Sebuah kalimat yang terdengar baik, namun juga menjadi penanda bahwa standar internal mereka belum berada di titik ideal untuk uji ekstrem terbuka.
Industri otomotif menuntut zero compromise dalam hal keselamatan baik bagi pengemudi, penonton, maupun reputasi perusahaan.
Dan jika sebuah kait bisa terlepas dalam pertunjukan resmi, publik wajar mempertanyakan bagaimana dengan komponen lain yang diproduksi massal?
Aksi ekstrem di Tianmen seharusnya menjadi panggung kejayaan Chery Fengyun X3L. Namun kenyataan berkata lain: atraksi itu justru menjadi cermin yang memantulkan kekurangan perencanaan, pengawasan, dan eksekusi.
Gunung Tianmen memang terkenal sebagai jalur menantang. Namun rupanya, tantangan terbesar Chery bukanlah tebingnya, melainkan kedisiplinan teknis dan ketelitian risiko yang belum sepenuhnya matang.
Pagar boleh rusak, mobil boleh melorot, tetapi kepercayaan publik tak boleh jatuh sedalam itu.****
- Penulis: Selviyani Mimie
- Editor: Dimas Lombardi

