Berita
light_mode
Beranda » Pilihan » Yamaha Aerox 155 Tambah Akselerasi Dengan Biaya Minim

Yamaha Aerox 155 Tambah Akselerasi Dengan Biaya Minim

  • account_circle Abimanyu
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • visibility 315
  • print Cetak

OTOExpo.comDi atas kertas, Yamaha Aerox 155 bukan skutik kaleng-kaleng. Mesin 155 cc VVA berpendingin cairan ini dikenal bertenaga, responsif, dan stabil di kecepatan tinggi. Namun, di dunia nyata terutama pemakaian harian, tak sedikit pemilik yang merasa ada satu hal yang kurang: tarikan awal dan tengah belum seagresif tampangnya.

Bukan berarti Aerox lambat. Justru karena potensinya besar, rasa “kurang greget” itu muncul. Alhasil, banyak pemilik mulai melirik upgrade ringan untuk membuat karakter akselerasinya lebih hidup, tanpa harus merogoh kocek dalam atau melakukan bore up yang berisiko.

Kabar baiknya, solusi itu ada—dan fokusnya bukan di mesin, melainkan di sektor CVT.

Rudi Wahyudi, mekanik Bintang Cemerlang Motor di Madura, menegaskan bahwa modifikasi Aerox untuk harian sebaiknya tetap mengedepankan keawetan dan kenyamanan.

“Kalau mau benar-benar ganas ya bisa bore up. Tapi buat harian, lebih baik jangan. Cukup main di CVT, hasilnya sudah terasa dan biayanya juga minim,” jelas Rudi.

CVT pada skutik bekerja sebagai “otak distribusi tenaga”. Salah seting sedikit saja, motor bisa terasa galak di bawah tapi ngos-ngosan di atas, atau sebaliknya. Karena itu, pendekatannya harus presisi bukan asal ganti part.

Yamaha Aerox 155 Tambah Akselerasi Dengan Biaya Minim

Menurut Rudi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan akselerasi Yamaha Aerox 155 tanpa mengorbankan kenyamanan harian.

1. Modifikasi Jalur Roller

Jalur roller bisa dibuat lebih landai dan sedikit diperpanjang, lalu bagian bawah dan atasnya dibubut. Tujuannya agar nafas CVT lebih panjang, sehingga akselerasi terasa merata dari bawah hingga atas.

Langkah ini memang terdengar teknis, namun hasilnya cukup signifikan jika dikerjakan dengan benar.

2. Bermain di Berat Roller

Roller standar Aerox berada di kisaran 13 gram. Untuk mendapatkan tarikan awal yang lebih responsif, roller bisa diganti dengan yang lebih ringan, atau disusun selang-seling.

Namun, ada catatan penting.

“Kalau roller beda berat, memang tarikan bisa dapet bawah dan atas. Tapi risikonya roller lebih cepat aus,” ujar Rudi.

Solusinya adalah mencari kompromi berat roller sesuai gaya berkendara. Harian santai jelas berbeda dengan harian agresif.

3. Kampas Kopling Custom Pantekan

Penggunaan kampas kopling custom pantekan bisa meningkatkan respons saat motor mulai bergerak. Efeknya, motor terasa lebih sigap ketika stop-and-go, terutama di lalu lintas perkotaan.

4. Primary Fixed Sheave Dibubut Tipis

Pada bagian primary fixed sheave, lebar bisa dibubut sekitar 0,5 mm, lalu sudutnya diubah dari 14 derajat menjadi 13,7 derajat.

Tujuannya sederhana tapi krusial: cengkeraman v-belt lebih optimal, sehingga tenaga mesin bisa tersalur lebih efisien ke roda.

5. Knalpot? Opsional, Bukan Wajib

Jika ada dana lebih, knalpot bisa diganti atau dimodifikasi ringan. Umumnya dengan membuang sekat, mengganti pipa, dan menyisakan peredam di bagian belakang saja.

Namun, ini bersifat opsional. Tanpa ganti knalpot pun, CVT yang tepat sudah mampu mengubah karakter Aerox secara signifikan.

Yamaha Aerox 155 Tambah Akselerasi Dengan Biaya Minim

Rudi juga mengingatkan banyak kasus gagal modifikasi akibat kurang pemahaman cara kerja CVT.

“Ada yang bikin alur kampas lurus, ada yang pakai pelor tanpa dudukan, bahkan roller 13 gram diganti 8 gram. Hasilnya? Bawah iya, tapi tengah ke atas cuma teriak.”

Ia bahkan pernah menemui kasus penggunaan per CVT PCX dipadukan dengan roller Yamaha Xeon. Secara teori terlihat menarik, namun di praktiknya motor justru terasa berat di putaran menengah dan atas.

Untuk penggunaan harian yang nyaman dan awet, Rudi menyarankan kombinasi berikut:

  • Per sentrifugal Yamaha Mio/Nouvo

  • Per CVT tetap bawaan Aerox

  • Alternatif lebih keras: per CVT Honda Vario 125

  • Tambahkan pelor pada dudukan per CVT

  • Gunakan kampas kopling pantekan

Jika ingin tarikan bawah lebih galak, roller lebih ringan bisa dipilih. Namun jika mengejar top speed, roller yang sedikit lebih berat justru lebih ideal.

Pada dasarnya, Yamaha Aerox 155 sudah punya modal tenaga yang sangat cukup. Yang sering menjadi masalah bukan mesinnya, melainkan cara tenaga itu disalurkan ke roda.

Dengan upgrade CVT yang tepat, karakter Aerox bisa berubah total—lebih responsif, lebih hidup, dan tetap nyaman digunakan setiap hari.

“Kalau buat saya, setingan CVT ringan itu sudah cukup. Tarikan dapet, nyaman, dan dananya juga minim,” tutup Rudi.

Upgrade akselerasi Yamaha Aerox 155 tidak selalu harus mahal atau ekstrem. Dengan sentuhan tepat di sektor CVT, motor bisa terasa jauh lebih “ngisi” tanpa mengorbankan keawetan mesin.

Kuncinya satu: paham fungsi, bukan sekadar ganti part.*****

  • Penulis: Abimanyu
  • Editor: Dimas Lombardi

Artikel Menarik Lainnya

expand_less