VinFast Gandeng BCA untuk Pembiayaan Dealer
- account_circle Pandito
- calendar_month Senin, 30 Jun 2025
- visibility 156
- print Cetak

VinFast Gandeng BCA untuk Pembiayaan Dealer
OTOExpo.com , Jakarta – VinFast kembali jadi bahan perbincangan di industri otomotif Indonesia. Kali ini bukan karena peluncuran mobil baru, tapi karena kerja sama keuangan yang dijalin dengan PT Bank Central Asia Tbk. (BCA).
Keduanya menandatangani perjanjian pembiayaan untuk memperkuat jaringan dealer kendaraan listrik (EV) VinFast di Indonesia.
Secara di atas kertas, kolaborasi ini terdengar menjanjikan: BCA akan menyediakan fasilitas kredit fleksibel untuk seluruh jaringan dealer VinFast, yang katanya bakal mempercepat penyebaran EV dan memperlancar rantai pasok. Tapi, pertanyaannya apa benar seefektif itu?
Denny Haryanto, Senior Vice President Corporate Banking BCA, menyampaikan “Sebagai lembaga keuangan swasta nasional, BCA berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia, khususnya dalam sektor kendaraan listrik yang sedang berkembang pesat.”

“Melalui pemberian fasilitas kredit kepada mitra dealer VinFast, kami turut mendorong pertumbuhan industri transportasi ramah lingkungan serta mendukung pengusaha hijau untuk berkembang secara berkelanjutan. Ini juga sejalan dengan program transisi energi dan target pengurangan emisi pemerintah.” ujarnya.
Sementara itu, Kariyanto Hardjosoemarto, CEO VinFast Indonesia, menambahkan “Kami bangga dapat menjalin kemitraan dengan institusi keuangan terkemuka seperti BCA dalam upaya kami memasuki pasar Indonesia.”
“Dengan dukungan finansial dari BCA, kami bersama para mitra dealer yakin dapat menghadirkan kendaraan listrik VinFast lebih dekat ke konsumen Indonesia, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan nasional.” lengkapnya.
Strategi Ambisius Tapi Minim Realisasi?
VinFast memang terlihat agresif. Dalam waktu lebih dari setahun, mereka sudah punya showroom di berbagai kota besar dan menghadirkan model dari mini SUV sampai segmen C.
Tapi di balik gebrakan tersebut, banyak pihak mulai menggaruk kepala.
Kolaborasi dengan BCA ini seolah jadi strategi “bakar duit” tahap berikutnya, tanpa menjawab masalah paling mendasar: apakah pasar Indonesia benar-benar siap menerima EV VinFast dalam skala besar?
Pasalnya, meski fasilitas kredit dari BCA diklaim akan mendorong operasional dealer, masih belum ada transparansi mengenai seberapa besar minat konsumen terhadap unit-unit VinFast.
Di jalanan, mobil VinFast masih bisa dihitung dengan jari. Kalau dealer disuntik modal tapi konsumen tetap cuek, ujung-ujungnya beban kredit justru jadi bom waktu buat para mitra dealer.
“Pendekatan Fleksibel”, Tapi Buat Siapa?
BCA sendiri menyebut akan menyediakan plafon kredit musiman dan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional dealer.
Terdengar fleksibel, tapi faktanya, proses perbankan tidak semudah yang dibayangkan. Banyak pelaku usaha otomotif kecil justru mengeluhkan kerumitan birokrasi dan beban bunga yang tak sebanding dengan keuntungan penjualan.
Belum lagi, kebijakan pembiayaan model fleet alias pembelian dalam jumlah besar jadi pertaruhan tersendiri. Dealer dipaksa berjudi dengan asumsi bahwa akan ada lonjakan permintaan.
Tapi realitanya, banyak masyarakat masih ragu beli mobil listrik karena harga, infrastruktur pengisian daya yang belum merata, dan nilai jual kembali yang belum teruji.
Gimik Hijau atau Komitmen Nyata?
VinFast dan BCA sepakat mengklaim kerja sama ini sebagai bentuk dukungan terhadap program transisi energi nasional dan pembangunan berkelanjutan.
Tapi sejujurnya, narasi “mobilitas hijau” makin terdengar klise ketika implementasinya belum berdampak nyata ke publik.
Dukungan pembiayaan memang penting, tapi jauh lebih penting lagi adalah membangun kepercayaan konsumen.
Apalagi, strategi seperti garansi buy-back hingga 90% atau bunga pinjaman 0% cenderung lebih mirip umpan jangka pendek daripada solusi jangka panjang.
Bahkan, dengan rencana membuka 500 bengkel resmi dan membangun pabrik di Subang, ada kekhawatiran kalau VinFast sedang membangun pondasi besar di atas pasar yang belum stabil.
Akankah ini jadi pencapaian atau justru jebakan ekspansi prematur?
Ekspektasi vs Realita
VinFast dan BCA boleh saja bermimpi besar, tapi konsumen dan pasar Indonesia tidak bisa disulap hanya dengan kemitraan strategis di atas kertas. Realita di lapangan jauh lebih rumit.
Dukungan perbankan tanpa permintaan riil hanya akan menciptakan ilusi pertumbuhan.
Alih-alih fokus pada ekspansi dealer, mungkin saatnya VinFast lebih serius membangun basis pengguna yang loyal, edukasi publik tentang EV, dan menyelesaikan masalah fundamental dari infrastruktur pengisian daya hingga harga yang lebih masuk akal.
Karena pada akhirnya, suksesnya transformasi mobilitas hijau bukan diukur dari jumlah showroom, tapi dari berapa banyak mobil listrik benar-benar dipakai dan diapresiasi masyarakat Indonesia.***
.
.
.
.
.
- Penulis: Pandito
