News
light
Beranda » Business » Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

  • account_circle Abimanyu
  • calendar_month Sen, 17 Mar 2025
  • visibility 149

Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

 

 

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia menghadapi tantangan yang cukup kompleks.

Salah satu indikasinya adalah penurunan penjualan mobil baru yang terjadi seiring dengan menyusutnya jumlah kelas menengah.

Fenomena ini bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi, melainkan cerminan nyata dari daya beli masyarakat yang semakin tertekan.

Artikel ini akan mengupas penyebab utama dari tren ini serta bagaimana strategi finansial yang dapat diterapkan untuk menghadapinya.

Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru: Indikasi Melemahnya Daya Beli

Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil baru di Indonesia mengalami fluktuasi signifikan dalam lima tahun terakhir:

  • 2019: 1.030.126 unit
  • 2020: 532.407 unit (turun drastis akibat pandemi COVID-19)
  • 2021: 887.200 unit (pulih berkat insentif PPnBM)
  • 2022: 1.048.040 unit
  • 2023: 1.005.802 unit
  • 2024: 856.723 unit (tren penurunan kembali berlanjut)

Meskipun sempat mengalami pemulihan pada 2021 dan 2022, angka penjualan kembali merosot pada 2023 dan 2024.

Penurunan ini bukan hanya disebabkan oleh pandemi, tetapi juga oleh faktor ekonomi lain seperti inflasi, suku bunga tinggi, kenaikan harga bahan bakar, dan daya beli yang melemah.

Menyusutnya Kelas Menengah: Apa yang Terjadi?

Kelas menengah merupakan penggerak utama konsumsi domestik, termasuk dalam industri otomotif. Namun, jumlah mereka justru mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS):

  • 2019: 57,33 juta orang (21,45% dari total penduduk)
  • 2024: 47,85 juta orang (17,13% dari total penduduk)

Dalam lima tahun, kelas menengah menyusut hingga 9,48 juta orang. Penyebab utama dari penurunan ini antara lain:

  • Dampak jangka panjang pandemi COVID-19 terhadap perekonomian.
  • PHK massal dan stagnasi upah.
  • Inflasi yang membuat pengeluaran meningkat, sementara pendapatan tidak naik secara signifikan.
  • Tingginya biaya hidup di perkotaan, membuat banyak orang turun ke kelas ekonomi yang lebih rendah.

Dampak Penurunan Kelas Menengah terhadap Konsumsi dan Industri Otomotif

Menurunnya daya beli menyebabkan pergeseran pola konsumsi. Beberapa dampaknya terhadap industri otomotif meliputi:

  1. Beralih ke mobil bekas: Karena harga mobil baru naik rata-rata 7,5% per tahun, sementara pendapatan hanya tumbuh sekitar 3% per tahun, banyak orang lebih memilih mobil bekas yang lebih terjangkau.
  2. Penurunan pembelian dengan kredit: Suku bunga yang tinggi membuat masyarakat berpikir ulang untuk membeli mobil dengan skema cicilan.
  3. Prioritas kebutuhan lain: Masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan dasar, seperti kesehatan dan pendidikan, dibandingkan membeli kendaraan baru.
Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

Strategi Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk menjaga kestabilan finansial:

  1. Membuat Anggaran yang Ketat
    Susun prioritas pengeluaran dengan mengutamakan kebutuhan pokok dan menekan pengeluaran konsumtif.
  2. Menabung dan Berinvestasi
    Simpan sebagian pendapatan untuk dana darurat dan pertimbangkan investasi yang stabil seperti emas, reksadana, atau properti.
  3. Mengembangkan Sumber Pendapatan Tambahan
    Cari peluang bisnis sampingan atau pekerjaan freelance untuk menambah pemasukan.
  4. Memanfaatkan Asuransi sebagai Perlindungan Finansial
    Memiliki asuransi, terutama asuransi kendaraan, sangat penting untuk mengurangi risiko finansial akibat kejadian tak terduga seperti kecelakaan atau pencurian.

Peran Asuransi Kendaraan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Saat daya beli melemah, memiliki asuransi kendaraan bisa menjadi solusi untuk melindungi aset tanpa membebani keuangan. Keuntungan utama dari asuransi kendaraan adalah:

  • Melindungi dari biaya perbaikan yang besar akibat kecelakaan atau bencana alam.
  • Memberikan rasa aman finansial, terutama jika terjadi kejadian tak terduga seperti pencurian mobil.
  • Fleksibilitas dalam memilih perlindungan, sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.

Rekomendasi Asuransi Kendaraan yang Fleksibel

Salah satu penyedia asuransi yang menawarkan fleksibilitas tinggi adalah Roojai. Dengan Roojai, pemilik kendaraan bisa menyesuaikan cakupan perlindungan, termasuk:

  1. Perlindungan terhadap kecelakaan, benturan, atau pencurian.
  2. Tanggung jawab hukum pihak ketiga.
  3. Layanan darurat di jalan dan kompensasi transportasi.

Selain itu, Roojai juga menawarkan kemudahan klaim melalui video call survey, sehingga nasabah tidak perlu datang langsung ke kantor atau bengkel.

Heru Panatas, Claim Manager Motor Vehicle Roojai, menjelaskan, “Pemilik kendaraan saat ini mencari perlindungan yang tidak hanya lengkap, tetapi juga fleksibel dan mudah diakses. Inovasi seperti survei video call dan jaringan bengkel luas membuat asuransi lebih nyaman bagi masyarakat.”

Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru dan Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia

Penurunan penjualan mobil dan menyusutnya kelas menengah di Indonesia merupakan tanda melemahnya daya beli dan ketidakpastian ekonomi.

Untuk menghadapi situasi ini, masyarakat perlu mengelola keuangan dengan lebih bijak, menabung, berinvestasi, dan memastikan perlindungan finansial melalui asuransi.

Dengan strategi yang tepat, kita bisa tetap bertahan dan bahkan berkembang meski di tengah tantangan ekonomi yang sulit.

  • Penulis: Abimanyu

✈︎ Random Artikel

expand_less