News
light
Beranda » Uncategorized » Ribuan Pelajar Dapat Edukasi Safety Riding Saat MPLS

Ribuan Pelajar Dapat Edukasi Safety Riding Saat MPLS

  • account_circle Pandito
  • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
  • visibility 84

Ribuan Pelajar Dapat Edukasi Safety Riding Saat MPLS

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Tahun ajaran baru belum lama dimulai, dan ribuan pelajar SMK/SMA di wilayah Jakarta dan Tangerang sudah disambut dengan kegiatan edukatif yang (setidaknya secara teori) sangat bermanfaat: pelatihan safety riding dari PT Wahana Makmur Sejati (WMS), main dealer sepeda motor Honda wilayah Jakarta-Tangerang.

Melalui program yang digelar bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), lebih dari 4.000 siswa dari sekolah-sekolah seperti SMK Mutiara Bangsa, SMK Iptek Tangsel, SMKN 53 Jakarta, dan lainnya, mendapatkan bekal soal berkendara aman dari penggunaan helm berstandar SNI, etika berlalu lintas, hingga cara menghadapi situasi darurat di jalan.

Tentu ini jadi langkah bagus. Tapi satu pertanyaan besar muncul: apakah cukup hanya dengan sekali edukasi bisa mengubah budaya berkendara remaja kita yang… jujur saja, kadang bikin geleng-geleng kepala?

Bukan Sekadar Helm dan Jaket, Tapi Soal Mentalitas

Materi edukasi yang diberikan oleh tim Safety Riding Promotion (SRP) WMS cukup lengkap. Mulai dari hal teknis seperti perlengkapan berkendara hingga aspek non-teknis seperti etika dan sopan santun di jalan.

Slogan #Cari_aman jadi jantung dari pesan yang dibawa.

Ribuan Pelajar Dapat Edukasi Safety Riding Saat MPLS

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Pelajar adalah salah satu kelompok usia paling rentan dalam kecelakaan lalu lintas.

Data Korlantas POLRI selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa kecelakaan yang melibatkan pengendara usia di bawah 20 tahun terus meningkat.

Tak sedikit dari mereka belum punya SIM, tidak pakai helm, atau malah naik motor bertiga sambil main ponsel.

Nah, di sinilah tantangannya. Edukasi satu hari, meskipun dikemas menyenangkan lewat kuis dan diskusi interaktif, tetap belum cukup jika tidak dibarengi dengan pengawasan berkelanjutan dan peran orang tua serta guru.

Edukasi yang Diterima Positif

Menurut Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion WMS, tujuan dari kegiatan ini adalah menanamkan kesadaran akan pentingnya keselamatan sejak dini.

Pelajar diharapkan bisa menjadi pelopor keselamatan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga lingkungan sekitarnya.

“Kami sadar bahwa pemula yang berkendara belum begitu paham tentang keselamatan. Harapan kami, mereka bisa jadi contoh #Cari_aman bagi teman-teman sebaya,” ujar Agus.

Langkah ini memang patut diapresiasi. Terlebih, sekolah-sekolah juga menyambut kegiatan ini dengan antusias.

Para guru menyatakan bahwa kegiatan semacam ini sangat relevan mengingat mayoritas siswa saat ini pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor sendiri.

Tapi pertanyaannya, bagaimana keberlanjutan edukasi ini? Apakah ada tindak lanjut di minggu-minggu atau bulan-bulan berikutnya? Atau hanya berhenti sebagai kegiatan tempel-tempelan saat MPLS saja?

Remaja + Motor = Kombinasi yang Harus Diwaspadai

Usia remaja identik dengan rasa ingin tahu tinggi, semangat membara, dan sayangnya… emosi yang belum stabil. Kombinasi ini, jika digabung dengan sepeda motor, bisa berbahaya.

Mereka mungkin hafal rambu lalu lintas karena ikut kuis saat MPLS, tapi tetap nekat melawan arus kalau jalan pintasnya lebih cepat.

Mereka tahu pentingnya pakai helm, tapi helmnya hanya dikaitkan di siku karena takut rambut rusak. Ironis, bukan?

Maka dari itu, edukasi seperti ini harus menjadi gerakan yang terus berulang. Tidak cukup sekali seumur hidup, tapi menjadi bagian dari kurikulum pembinaan karakter pelajar.

Bahkan, bisa jadi salah satu syarat sebelum siswa boleh membawa motor ke sekolah.

Apa Langkah Selanjutnya?

PT Wahana Makmur Sejati sudah menyatakan komitmennya untuk memperluas program edukasi ini ke lebih banyak sekolah dan komunitas. Ini kabar baik. Tapi tetap saja, agar hasilnya maksimal, perlu kolaborasi lintas sektor:

  • Sekolah harus memasukkan aspek keselamatan lalu lintas sebagai bagian dari pembinaan rutin.

  • Orang tua wajib memberi contoh dan tegas pada anak dalam penggunaan kendaraan bermotor.

  • Pemerintah daerah bisa ikut andil dengan membuat aturan yang mendukung, seperti zona aman sekolah bebas kendaraan untuk pelajar tanpa SIM.

Dan tentu saja, pelajar sendiri harus diajak bicara dengan pendekatan yang relevan dan tidak menggurui. Karena generasi muda lebih butuh inspirasi, bukan hanya instruksi.

Edukasi Penting

Apa yang dilakukan WMS adalah langkah positif dan patut diapresiasi. Lebih dari 4.000 pelajar mendapat bekal soal keselamatan berkendara, yang mungkin akan menyelamatkan nyawa mereka suatu hari nanti.

Tapi kita juga harus realistis  mengubah budaya berkendara butuh proses panjang dan kerja sama banyak pihak.

Karena pada akhirnya, keselamatan di jalan bukan hanya soal hafal aturan, tapi soal kesadaran dan tanggung jawab.

Dan itulah yang harus terus kita tanamkan  bukan hanya saat MPLS, tapi setiap hari. ***

.

.

.

 

 

  • Penulis: Pandito

✈︎ Random Artikel

expand_less