Kalau dulu parkir identik dengan karcis lusuh, petugas yang sibuk cari uang kembalian, dan drama antre keluar mall, maka 2026 jadi momen di mana industri parkir akhirnya mulai naik kelas. Bukan sekadar ikut tren digital, tapi mulai menyentuh hal yang lebih penting: pengalaman mobilitas.
Di tengah perubahan gaya hidup urban yang makin cepat, PT Securindo Packatama Indonesia (Secure Parking) resmi memasuki fase lanjutan transformasi layanan parkir dengan memprioritaskan pengembangan konsep flaplock, sebuah pendekatan yang menekankan sistem parkir modern berbasis digital.
Bukan cuma soal mesin baru atau gate yang lebih canggih. Secure Parking sedang merapikan ulang wajah parkir kota: lebih rapi, lebih cepat, dan jelas lebih cocok untuk generasi yang sudah terbiasa membayar kopi dengan QR.

Secure Parking Perkuat Digitalisasi Layanan sebagai Bagian dari Pengalaman Mobilitas Kota
Konsep flaplock ini bukan jargon kosong. Dalam praktiknya, flaplock mengarah pada pengalaman parkir yang lebih minim friksi—khususnya dari sisi pembayaran.
Yang paling menonjol: pembayaran sepenuhnya non-tunai melalui QRIS.
Dengan QRIS, transaksi parkir jadi lebih ringkas. Tidak perlu uang pas. Tidak perlu debat receh. Tidak ada drama “tunggu saya cari uang dulu ya, Mas”.
Semuanya selesai dalam beberapa detik.
Rustam Rachmat, Managing Director Secure Parking, menegaskan digitalisasi ini bukan proyek kosmetik, tapi strategi besar yang menargetkan kualitas layanan.
“Memasuki 2026, fokus kami adalah memastikan digitalisasi parkir benar-benar memberikan pengalaman yang lebih praktis dan relevan bagi pengguna, sekaligus mendukung tata kelola mobilitas kota yang lebih tertib,” ujar Rustam Rachmat.
Kalimatnya terdengar formal, tapi pesannya jelas: parkir harus ikut ritme kota.
Kalau banyak orang mengira digitalisasi parkir bakal dimulai dari mobil, Secure Parking justru menyorot fakta yang selama ini sering dilupakan: pengendara motor adalah mayoritas pengguna parkir di kota besar.
Di awal 2026, Secure Parking memfokuskan penguatan digitalisasi pada lokasi strategis dengan volume kendaraan tinggi—terutama untuk roda dua.
Alasannya masuk akal.
Sistem pembayaran non-tunai untuk mobil sudah lebih dulu meluas. Tapi di parkiran motor? Tunai masih jadi raja. Dan di situlah masalahnya: transaksi tunai sering membuat antrean lebih panjang, proses lebih lambat, dan pengawasan lebih sulit.
Secure Parking membaca celah ini sebagai peluang besar: kalau parkir motor bisa digital, dampaknya langsung terasa ke lalu lintas mikro di pusat kota.
Dan ya, itu jauh lebih penting daripada sekadar memasang gate baru di mall premium.
Secure Parking saat ini mengelola sekitar 1.700 lokasi parkir di Indonesia, mencakup pusat belanja, rumah sakit, kawasan komersial, hingga fasilitas publik.
Artinya, transformasi yang mereka lakukan bukan eksperimen kecil. Ini sudah masuk kategori “mengubah kebiasaan masyarakat”.
Di lokasi yang sudah menerapkan sistem digital, Secure Parking mengklaim mayoritas transaksi parkir kini dilakukan secara non-tunai. Bahkan tren adopsinya terus meningkat dibanding akhir 2025.
Efeknya bukan cuma soal modernisasi, tapi juga soal efisiensi operasional:
-
antrean keluar berkurang
-
transaksi lebih cepat
-
keluhan pembayaran menurun
-
akses keluar lebih tertib
-
potensi kebocoran pendapatan bisa ditekan
Ini bagian yang sering tidak dibicarakan terang-terangan, tapi semua operator parkir tahu: sistem tunai adalah ladang masalah klasik.
Rustam juga menekankan transformasi ini tidak bisa dipandang sekadar perubahan alat.
“Transformasi parkir bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana layanan publik beradaptasi dengan cara baru masyarakat menggunakan ruang kota,” tambah Rustam.
Dan ini poin penting: parkir itu bagian dari infrastruktur mobilitas. Kalau parkir kacau, jalanan ikut kacau.
Di 2026, Secure Parking juga memperkuat kerja sama lintas sektor, termasuk dengan pengembang properti. Salah satu yang disorot adalah kolaborasi dengan Pollux Group, untuk pengelolaan area parkir di kawasan properti terpadu dengan tingkat mobilitas tinggi.
Langkah ini terasa logis karena kawasan mixed-use (apartemen, mal, perkantoran) punya pola parkir yang kompleks: masuk-keluar padat, jam sibuk panjang, dan kebutuhan sistem yang tidak bisa lagi mengandalkan metode lama.
Dengan kata lain, parkir tidak bisa lagi jadi urusan “belakang layar”. Ia harus menjadi bagian dari desain kota.
Dalam langkah digitalisasi ini, Secure Parking menegaskan satu hal yang krusial: teknologi tidak boleh mengorbankan kenyamanan.
Mereka berkomitmen menjaga:
-
keandalan layanan
-
keamanan sistem
-
kenyamanan pengguna
-
integrasi pembayaran non-tunai
-
peningkatan kapabilitas sistem digital
Karena parkir digital yang sering error justru lebih menyebalkan daripada parkir manual.

Secure Parking Perkuat Digitalisasi Layanan sebagai Bagian dari Pengalaman Mobilitas Kota
Menutup pernyataannya, Rustam menyampaikan arah industri parkir yang mulai berubah total.
“Peran operator parkir ke depan tidak hanya mengelola ruang parkir, tetapi menjadi bagian dari pengalaman mobilitas kota yang lebih tertata dan nyaman,” pungkas Rustam.
Dan di titik ini, kita mulai sadar: parkir bukan lagi soal tempat kosong. Parkir adalah bagian dari perjalanan.
Di 2026, uang tunai mungkin masih ada. Tapi untuk urusan parkir modern, waktunya mulai habis.****
