News
light
Beranda » Uncategorized » Pabrik GAC Resmi Beroperasi di Indonesia, Tapi Apakah Benar Jadi Game Changer?

Pabrik GAC Resmi Beroperasi di Indonesia, Tapi Apakah Benar Jadi Game Changer?

  • account_circle Pandito
  • calendar_month Rab, 11 Jun 2025
  • visibility 142

Pabrik GAC Resmi Beroperasi di Indonesia, Tapi Apakah Benar Jadi Game Changer?

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Tepat setahun sejak menyapa pasar otomotif Indonesia dengan mobil listrik seperti AION Y Plus dan V, GAC akhirnya membuka fasilitas perakitan lokal lewat PT National Assemblers (NA), bagian dari Indomobil Group.

Peresmian ini digadang-gadang sebagai tonggak penting untuk memperkuat industri EV nasional. Tapi benarkah sehebat itu?

Dari luar, semuanya tampak sempurna. Konsep “Lighthouse Factory” diusung untuk menggambarkan pabrik pintar yang efisien, ramah lingkungan, dan terintegrasi dengan teknologi terkini.

Tapi mari kita realistis dalam dunia otomotif, janji besar bukan hal baru, yang jadi masalah selalu: eksekusinya.

Pabrik GAC Resmi Beroperasi di Indonesia, Tapi Apakah Benar Jadi Game Changer?

Ambisi Besar, Realita Tak Sederhana

Menurut keterangan GAC, model AION V akan jadi mobil pertama yang dirakit lokal. SUV listrik ini memang punya tampilan futuristis dan teknologi cukup mutakhir.

“Indonesia adalah pasar kunci dalam ekspansi global GAC dan menjadi garda depan strategi pengembangan luar negeri kami.” Ucap Mr Wei Haigang, President of GAC international.

“Dengan peresmian pabrik perakitan milik PT National Assemblers, kami ingin memperkuat kontribusi kami untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas industri, dantransformasi mobilitas berkelanjutan di Indonesia.” Ujarnya lebih lanjut.

Tapi dengan pasar EV Indonesia yang belum matang dan infrastruktur pengisian daya yang masih morat-marit, apakah AION V bisa laku keras?

Masih ada gap besar antara niat memproduksi dan tantangan menjual. Di saat produsen lokal dan Jepang berlomba bikin mobil hybrid yang lebih ramah kantong dan mudah dijual, GAC langsung tancap gas ke mobil listrik murni.

Strategi ini berani, tapi bisa dibilang nekat kalau melihat pasar yang belum sepenuhnya siap.

Produksi Fleksibel, Tapi Kapasitas Terbatas

Pabrik ini diklaim mampu memproduksi 20.000 unit per tahun pada tahap awal, dan bisa meningkat sampai 50.000 unit.

Tapi dengan volume segitu, GAC masih sangat jauh dari skala masif seperti pemain Jepang atau bahkan pabrik mobil China lain yang sudah duluan ekspansi.

Bahkan, klaim bahwa lini produksi bisa diganti dalam waktu 30 menit dan bisa mendukung berbagai model kendaraan (sedan, SUV, MPV) mungkin terdengar keren di atas kertas.

Tapi dalam praktik, fleksibilitas seperti ini butuh pengalaman manufaktur tinggi yang tidak mudah ditiru begitu saja. Perlu waktu dan SDM andal, sesuatu yang sering diabaikan dalam semangat “kejar tayang”.

Investasi Nyata atau Sekadar “Showroom Lokal”?

Tak bisa dimungkiri, kehadiran pabrik ini tetap punya nilai positif terutama karena ada transfer teknologi dan potensi lapangan kerja.

Akantetapi jika kita lihat lebih dalam, National Assemblers ini masih berperan sebagai pabrik perakitan (CKD), bukan manufaktur utuh dari nol.

Jadi, apakah ini benar-benar investasi besar, atau sekadar cara memenuhi syarat kandungan lokal?

GAC pun belum menjelaskan secara gamblang berapa banyak komponen lokal yang digunakan. Jika sebagian besar parts masih diimpor dari China, maka kontribusi pada industri lokal pun jadi minim.

Lantas bagaimana bisa industri otomotif nasional berkembang kalau lokalisasi tidak diprioritaskan?

GACARE dan Janji Manis Purna Jual

GAC mengklaim akan memberikan garansi seumur hidup untuk komponen utama EV lewat program GACARE. Sekilas menggiurkan, tapi apa jaminan layanan ini bisa berjalan mulus dalam jangka panjang?

Banyak pemain otomotif asing sebelumnya menjanjikan layanan aftersales premium, tapi akhirnya bubar jalan karena tidak mampu bertahan menghadapi dinamika pasar Indonesia.

Kalau GAC tidak siap dengan jaringan servis yang memadai, maka garansi seumur hidup itu hanya jadi jargon manis tanpa makna.

Indomobil Main Aman, Tapi Terlalu Bergantung pada Merek Luar?

Sebagai grup otomotif besar, langkah Indomobil menggandeng GAC memang masuk akal untuk ikut tren EV.

Tapi langkah ini juga menegaskan satu hal:  pemain lama Indonesia tampaknya masih enggan mengembangkan teknologi sendiri dan lebih memilih jadi “tuan rumah” bagi merek luar.

Pertanyaannya, sampai kapan Indonesia hanya akan jadi tempat rakit dan jual produk asing?

Tanpa ada dorongan untuk R&D lokal dan kemandirian teknologi, industri otomotif kita akan terus tertinggal meski pabriknya makin banyak.

Optimisme Yes, Tapi Waspada Juga Perlu

Peresmian pabrik GAC AION oleh Indomobil lewat National Assemblers adalah langkah maju dalam transisi ke kendaraan listrik di Indonesia.

Pabrik GAC Resmi Beroperasi di Indonesia, Tapi Apakah Benar Jadi Game Changer?

Tapi langkah ini bukan tanpa tanda tanya besar. Mulai dari kesiapan pasar, kandungan lokal, hingga jaminan aftersales semua masih butuh pembuktian.

Industri otomotif tak bisa dibangun hanya dengan presentasi canggih dan janji-janji manis. Perlu kerja keras, strategi realistis, dan komitmen jangka panjang.

GAC mungkin datang “untuk Indonesia”, tapi apakah mereka akan benar-benar tumbuh bersama Indonesia? Hanya waktu yang bisa menjawab.****

.

.

.

.

.

  • Penulis: Pandito

✈︎ Random Artikel

expand_less