MAKA Cavalry Motor Listrik Lokal yang Katanya ‘Paling Enak’ hadir di GJAW 2025
- account_circle Abimanyu
- calendar_month Senin, 24 Nov 2025
- visibility 154
- print Cetak

MAKA Cavalry Motor Listrik Lokal yang Katanya ‘Paling Enak’ hadir di GJAW 2025
MAKA Cavalry Motor Listrik Lokal yang Katanya ‘Paling Enak’ hadir di GJAW 2025
MAKA Cavalry GJAW 2025 – Motor Listrik Lokal yang Digadang-gadang Enak Tapi Masih Banyak PR
OTOExpo.com , Tangerang Selatan – Di tengah riuh rendah GJAW 2025, ketika lampu-lampu pameran memantulkan harapan pada body kendaraan yang mengilap, MAKA Motors kembali melangkah kali ini dengan dada lebih tegap.
Namun, langkah tegap itu tak jarang menimbulkan tanda tanya: apakah percaya diri ini sudah sebanding dengan realitas pasar, ataukah hanya gemuruh promosi yang dipoles sedemikian rupa?
MAKA Cavalry, motor listrik yang belakangan dijuluki sebagai “Motor Paling Enak”, kembali tampil sebagai pusat perhatian. Tapi seperti biasa, ketika sebuah produk menyebut dirinya ‘paling’, publik justru tergerak untuk mencari celah.
Aroma Nasionalisme yang Dalam
MAKA Motors membawa kabar besar: 255 Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang dikantongi sebagai bentuk validasi bahwa produk ini bukan sekadar rebranding atau import knockdown. Mereka bangga, wajar. Kita bangga, tentu. Namun industri otomotif selalu kejam: bangga saja tak pernah cukup.
Ada magnet yang menarik perhatian terutama karena Kementerian Perindustrian dan AISMOLI memberikan dukungan penuh. Tapi, dukungan pemerintah sering kali menjadi pisau bermata dua: menambah legitimasi, sekaligus memancing pertanyaan, “Apakah ini benar-benar kuat secara produk, atau kuat karena institusi yang menopang?”
MAKA seakan sadar dengan pertanyaan itu. Maka mereka menempatkan Cavalry bukan di booth besar, tapi justru di Pre-function Hall 9, area yang sering jadi tempat pengunjung memulai perjalanan. Strategi cerdas masuk di awal, tanam kesan pertama.
Performa yang Manis, Tapi Masih Ada yang Mengganjal
Mari bicara teknis. Sebab pasar EV tak hanya menuntut estetika, tetapi juga angka yang sanggup bicara tanpa dramatisasi.
Spesifikasi MAKA Cavalry:
-
Jarak tempuh: 160 km
-
Kecepatan maksimum: 105 km/jam
-
Akselerasi 0–60 km/jam: 4,8 detik
-
Kemampuan menanjak: 30°
-
Mode berkendara: Hi-Torque & Hi-Regen
-
Suspensi: Adjustable dual suspension
-
Harga kisaran: Rp 32–38 jutaan (estimasi berdasarkan positioning pasar dan kompetisi lokal EV)
Secara angka, ini cukup menggoda. Tapi kita harus jujur: rival impor sudah bermain di kelas yang serupa, bahkan beberapa menawarkan spesifikasi lebih “nakal” di atas kertas. Namun Cavalry menjual sesuatu yang tak bisa dimiliki rival: akar lokal.
Tetapi tentu saja… Hanya bermodal lokal tak akan membuat motor listrik bertahan di jalanan yang kejam.
Ada pengguna yang bertanya:
“Apakah 160 km itu real atau sekadar angka ideal lab?”
Itu pertanyaan yang wajar. Di kota besar, jalan tak pernah sepenuhnya ramah untuk EV. Kemacetan, akselerasi putus-putus, rute menanjak semuanya menggrogoti baterai. Jika MAKA ingin membuktikan diri, mereka harus berani memaparkan real-world test, bukan hanya pengujian ideal.

MAKA Cavalry Motor Listrik Lokal yang Katanya ‘Paling Enak’ hadir di GJAW 2025
Test Ride: Bagaimana Rasa ‘Paling Enak’ Itu?
MAKA menyiapkan area test ride di GJAW. Di sinilah “Motor Paling Enak” diuji bukan oleh prospek, tapi oleh tangan dan pinggang para pengendara.
Suspensinya cukup matang. Akselerasi 0-60 dalam 4,8 detik terasa spontan tapi tidak liar. Mode Hi-Regen terasa sedikit agresif untuk pemula, tapi motor listrik memang menuntut adaptasi.
Namun ada catatan: Beberapa pengendara melaporkan vibrasi kecil di kecepatan menengah. Tidak mengganggu, tapi cukup untuk menilai bahwa MAKA masih perlu menyempurnakan tuning motor dan kalibrasi controller. Tetapi, dalam dunia EV lokal, “cukup baik” sudah langkah besar.
CEO & Founder MAKA Motors, Raditya Wibowo, menyampaikan:
“Kami tidak hanya membuat motor listrik. Kami membangun standar baru untuk produk teknologi Indonesia.”
Kalimat yang indah. Tapi seperti banyak perusahaan rintisan, kalimat indah belum tentu langsung selaras dengan kenyataan industri yang keras.
Membangun standar baru berarti berani menghadapi ekspektasi dan kritik. Apalagi ketika MAKA membawa narasi ‘motor lokal’ yang otomatis menarik pembanding: apakah ini betul-betul berkualitas, atau hanya berkampanye?
MAKA Cavalry: Calon Penantang atau Sekadar Pemanas Suasana?
Dalam pameran sebesar GJAW 2025, di mana raksasa otomotif internasional tidak datang untuk main-main, langkah MAKA terasa cukup berani. Namun industri EV tidak memberi diskon pada pemain lokal.
Cavalry punya fondasi kuat desain sendiri, HAKI lokal, identitas jelas. Tetapi ia masih harus membuktikan:
-
konsistensi kualitas produksi massal
-
ketahanan jangka panjang baterai
-
ketersediaan suku cadang
-
jaringan servis yang menjangkau
-
real-world consumption yang transparan
Tanpa itu semua, motor ini bisa saja berakhir sebagai hype sesaat.
Namun jika MAKA berhasil menjawabnya… Cavalry bisa menjadi penanda kebangkitan industri motor listrik nasional yang sesungguhnya bukan sekadar euforia.
Ini adalah cermin. Cermin untuk MAKA Motors, dan cermin bagi industri kendaraan listrik Indonesia.
Sebab industri otomotif tidak pernah dibangun oleh pujian. Ia dibangun oleh peningkatan, oleh evaluasi, oleh “rasa tidak puas” yang memaksa teknologi berkembang.
MAKA Cavalry memiliki modal besar. Tetapi untuk menjadi raja jalanan? Masih panjang jalannya. Dan mungkin, justru di sanalah keindahan perjuangan ini berada. *****
- Penulis: Abimanyu
- Editor: dimas lombardi
