Lexus RX 300 Mogok Usai Isi Pertamax Kasus BBM Nasional yang Bikin Pertamina Harus Jawab Serius!
- account_circle dimas
- calendar_month Kam, 25 Sep 2025
- visibility 179

Lexus RX 300 Mogok Usai Isi Pertamax: Kasus BBM Nasional yang Bikin Pertamina Harus Jawab Serius!
OTOExpo.com , Jakarta – Jagat otomotif Tanah Air kembali dihebohkan. Setelah akhir 2024 publik dikejutkan dengan mobil Daihatsu yang bermasalah usai mengisi Pertamax, kini giliran Lexus RX 300 milik Stella Kirana yang mengalami gejala serupa.
Mobil SUV mewah tahun 2019 itu mendadak kehilangan tenaga hanya beberapa hari setelah full tank Pertamax di SPBU Kemayoran.
Stella mengaku sebelumnya selalu setia pada BBM Shell dan rutin servis di bengkel resmi.
Namun Minggu sore (21/9/2025) sekitar pukul 17.00 WIB, mobilnya tiba-tiba mati sendiri saat melintas di kawasan Roxy.
“Gasnya hilang begitu saja. Saya panik karena baru pertama kali mobil mogok di jalan,” ujarnya. Mobil pun harus ditowing ke bengkel resmi Lexus Menteng, Jakarta.
Setelah diperiksa, diagnosisnya cukup bikin kaget: filter bahan bakar kotor, sampel bensin keruh, dan tangki harus dikuras. Total biaya sekitar Rp1,8 juta.

Dari Filter Menghitam Hingga Bensin Keruh: Apa Sih yang Terjadi?
Banyak pemilik mobil injeksi belum sadar kalau sistem bahan bakar modern jauh lebih sensitif dibanding mobil lawas.
Mesin seperti Lexus RX 300 menggunakan injektor presisi tinggi yang mudah terganggu kotoran kecil sekalipun. Ada beberapa kemungkinan penyebab fenomena “mogok setelah ganti BBM”:
-
Perbedaan aditif dan pembersihan tangki – BBM baru bisa “mengikis” residu lama.
-
Kontaminasi pada SPBU tertentu – stok lama, tangki bawah tanah bocor, atau pencampuran air.
-
Filter BBM sudah mendekati masa ganti – begitu dapat BBM dengan sifat berbeda, endapan lama terangkat.
Dengan kata lain, tidak serta merta “Pertamax jelek”, walaupun pada kenyataannya, banyak berita berseliweran mengungkapkan BBM Pertamina disebut BBM Oplosan. Dan fakta ini menuntut Pertamina untuk audit SPBU lebih ketat.
Kualitas BBM Nasional Masih Misteri?
Secara teori, Pertamax (RON 92) setara dengan Shell Super (RON 92). Namun kualitas BBM bukan cuma soal oktan. Sulfur, aditif deterjen, dan stabilitas distribusi juga menentukan.
SPBU yang jarang dikunjungi kadang menyimpan BBM lebih lama sehingga risiko kontaminasi meningkat.
Itu sebabnya banyak pengemudi kelas premium memilih BBM swasta karena diyakini lebih “bersih” dan punya aditif yang menjaga injektor.
Padahal secara regulasi, semua BBM seharusnya mengikuti standar pemerintah. Yang jadi masalah adalah kontrol kualitas di lapangan.
Konsumen Menggugat: Pertamina Harus Tanggap
Stella Kirana menilai kejadian ini bukan semata kerugian finansial tapi persoalan kepercayaan publik.
“Pertamina harus mengaudit SPBU-nya. Jangan tunggu heboh baru bergerak,” katanya. Ia menuntut tanggung jawab Pertamina karena merasa mobilnya dirugikan akibat BBM nasional.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut pihaknya sudah bergerak cepat dan berkomunikasi dengan pemilik kendaraan.
Namun untuk urusan kompensasi atau ganti rugi, Roberth mengaku belum bisa memastikan. “Kita lihat perkembangannya nanti ya,” ujarnya.
Kasus ini jadi ujian serius bagi Pertamina: apakah berani membuka hasil uji laboratorium BBM SPBU yang bersangkutan? Transparansi semacam ini justru akan mengembalikan kepercayaan publik.
Menguji Komitmen BUMN Energi
Pertamina sebetulnya sudah berupaya meningkatkan kualitas dengan produk baru seperti Pertamax Turbo dan Dexlite.
Namun tanpa distribusi yang konsisten dan pengawasan ketat, upaya itu jadi sia-sia. Konsumen kendaraan modern menuntut kualitas BBM yang stabil. Satu kasus mogok mobil mewah bisa jadi simbol keraguan terhadap seluruh jaringan.
Di sisi lain, konsumen juga harus adil. Shell dan BP pun pernah punya kasus BBM tercampur air. Artinya bukan cuma Pertamina yang perlu diaudit, tapi seluruh operator BBM.
Saatnya Standar BBM Lebih Transparan
Dengan semakin banyaknya mobil injeksi, turbo, dan hybrid di Indonesia, standar BBM harus naik kelas.
Pemerintah perlu mendorong hasil uji independen BBM secara berkala dan mempublikasikannya. Pertamina juga bisa membuka data aditif, sulfur, dan proses distribusi di setiap SPBU.
Jika langkah ini dilakukan, kasus seperti Lexus RX 300 tak lagi jadi bola liar opini publik, tapi pembelajaran bersama.
Kisah Lexus RX 300 mogok usai isi Pertamax ini bukan sekadar drama otomotif, melainkan refleksi tantangan besar sektor energi nasional.
Konsumen premium sudah berani bicara. Pertamina kini dihadapkan pada pilihan: benahi sistem pengawasan dan transparansi atau terus menghadapi krisis kepercayaan publik.

Bagi kita, pelajaran terpenting adalah konsistensi BBM sama pentingnya dengan spesifikasi mesin. Kesetiaan pada satu merek BBM bukan sekadar kebiasaan, tapi strategi teknis agar mesin modern tidak “sakit perut” di tengah jalan.
Sudah sewajarnya Stella selalu mengisi kendaraan kesayangannya dengan BBM Shell yang dikenal lebih berkualitas dibanding BBM dari Pertamina.
Kasus Lexus tersebut membuktikan Stella lebih percaya dengan Shell di banding Pertamina. Akan tetapi, dikarenakan sekarang menjadi “Satu Pintu” hingga menyebabkan kelangkaan BBM Asing membuat Stella seperti “ogah-ogahan dan ragu” untuk mengisi mobil mewah kesayangannya ke BBM Pertamina.
Dan hasilnya sekarang sudah terlihat jelas, Stella kecewa, Stella sedih,.. dan Pertamina? seperti biasa,...
.
.
- Penulis: dimas

