JAECOO Sudah Bikin Brand SUV Lain Gelisah? Ini Jurus SHS dan J5 EV yang Meledak di IIMS 2026!
- account_circle dimas
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 114
- comment 0 komentar
- print Cetak

Satu Tahun di Indonesia, JAECOO Mantapkan Diri Sebagai Brand SUV Premium yang Tumbuh Cepat Lewat Teknologi SHS dan EV
Satu Tahun di Indonesia, JAECOO Mantapkan Diri Sebagai Brand SUV Premium yang Tumbuh Cepat Lewat Teknologi SHS dan EV
1 Tahun JAECOO di Indonesia: SHS & J5 EV Meledak di IIMS 2026
OTOExpo.com, Jakarta – Di industri otomotif Indonesia, satu tahun biasanya baru cukup untuk pemanasan. Tapi JAECOO memilih jalan berbeda: tidak pakai basa-basi, langsung tancap gas.
Dan di panggung Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 yang digelar di JIExpo Kemayoran pada 5–15 Februari, brand SUV premium ini resmi merayakan ulang tahun pertamanya dengan gaya yang cukup “menampar” pasar.
Bukan sekadar hadir membawa unit display, JAECOO datang dengan pesan yang jelas: mereka bukan pemain baru yang ingin numpang lewat. Mereka datang untuk mengacak-acak peta persaingan SUV premium, lewat dua senjata utama Super Hybrid System (SHS) dan lini Battery Electric Vehicle (BEV) yang mulai bikin konsumen Indonesia kepincut.
Jika brand lain masih sibuk menjual “image”, JAECOO sudah menjual angka: efisiensi, performa, jarak tempuh, dan percepatan ekspansi dealer.
Dan jujur saja, angka-angkanya tidak kecil.
JAECOO dalam setahun terakhir telah memperkenalkan beberapa model yang jadi tulang punggung eksistensinya: J7 SHS-P, J8 SHS-P ARDIS, J8 ARDIS, hingga yang paling baru dan paling ramai dibicarakan: J5 EV.

Satu Tahun di Indonesia, JAECOO Mantapkan Diri Sebagai Brand SUV Premium yang Tumbuh Cepat Lewat Teknologi SHS dan EV
Namun, teknologi SHS-lah yang menjadi narasi utama mereka—bukan hybrid biasa yang hanya kuat di brosur, tapi sistem plug-in hybrid yang dibangun untuk menjawab kelemahan hybrid konvensional: kadang irit, tapi sering terasa “nanggung” ketika diminta performa.
JAECOO menyebut SHS sebagai arsitektur cerdas yang mampu mengintegrasikan mesin bensin dan tenaga listrik secara adaptif, membuat transisi mode berjalan halus, responsif, dan tetap efisien dalam berbagai situasi berkendara.
Dalam penggunaan harian, bahkan JAECOO J7 SHS-P diklaim mampu melaju penuh dalam mode listrik hingga sekitar 100 km, angka yang membuatnya cukup realistis untuk rutinitas perkotaan tanpa harus sering mampir SPBU.
Hybrid yang benar-benar bisa jadi EV saat dibutuhkan—dan kembali jadi SUV jarak jauh saat Anda bosan antre charger.
Kalau ada satu cara untuk memukul persepsi publik, itu adalah membuktikannya di jalan.
Pada September 2025, JAECOO mencetak Rekor MURI sebagai kendaraan PHEV dengan jarak tempuh terjauh di Indonesia, menorehkan angka 1.660 km hanya dalam sekali pengisian penuh daya dan bahan bakar.
Hasilnya? JAECOO J8 SHS ARDIS resmi dicatat sebagai PHEV jarak jauh paling ekstrem yang pernah diuji di Indonesia.
Dan bukan hanya itu. Model ini bahkan dipercaya menjadi Zero Car dalam ajang Indonesia Rally Raid Adventure (IRRA), yang secara tidak langsung menjadi panggung pembuktian bahwa elektrifikasi bukan hanya cocok untuk jalanan kota dan coffee shop tapi juga siap dipakai melibas medan.
Kalau SHS adalah fondasi teknologinya, maka J5 EV adalah ledakan momentumnya.
SUV listrik ini menjadi model terbaru JAECOO yang langsung menyedot perhatian publik, bahkan mencatatkan lebih dari 2.000 SPK hanya dalam dua hari pertama peluncuran.
Dan angka itu terus naik: hingga akhir Januari 2026, total pemesanan J5 EV disebut sudah mencapai 12.000 unit secara nasional.
Di tengah pasar EV yang penuh klaim, angka SPK seperti ini bukan sekadar bagus—ini brutal.
JAECOO pun tidak tinggal diam. Mereka mengklaim sudah mengirimkan lebih dari 3.000 unit J5 EV hingga Januari 2026 kepada konsumen, sembari meningkatkan kapasitas produksi untuk menekan waktu indent tanpa mengorbankan standar kontrol kualitas.
Perang otomotif tidak hanya soal produk, tapi juga soal logistik dan aftersales. Dan JAECOO paham betul.
Dalam satu tahun, jaringan dealer mereka sudah mencapai 25 dealer berstandar global yang tersebar dari Jakarta hingga Makassar—termasuk Bandung, Surabaya, Denpasar, Medan, Balikpapan, Palembang, Batam, hingga Pontianak.
Lebih agresif lagi, mereka menargetkan 80 dealer pada akhir 2026.
Kalau target itu tercapai, JAECOO bukan lagi sekadar “pendatang baru” mereka akan jadi kekuatan yang nyata, terutama di segmen SUV premium elektrifikasi.
JAECOO sendiri mengakui bahwa pencapaian mereka di Indonesia berjalan lebih cepat dari perkiraan.
“Pencapaian dan perjalanan JAECOO di Indonesia sungguh melampaui ekspektasi kami. Dari pengenalan teknologi SHS di model J7 SHS-P dan J8 SHS-P ARDIS hingga antusiasme yang luar biasa terhadap J5 EV, terlihat jelas bahwa konsumen Indonesia mendambakan kendaraan segmen SUV yang efisien tanpa mengorbankan performa,” ujar Jim Ma, Business Unit Director JAECOO Indonesia di IIMS 2026.
Kalimat itu terdengar seperti pernyataan formal, tapi maknanya tajam: pasar Indonesia sudah bosan dengan SUV yang cuma besar tapi boros, atau EV yang keren tapi bikin ragu ketika diajak jauh.
Di IIMS 2026, JAECOO tampil penuh di Hall B3, memamerkan tiga model utama: J5 EV, J7 SHS-P, dan J8 SHS-P ARDIS IRRA Edition.
Menariknya, mereka juga membawa program “J5 EV Co-Creation”, sebuah survei interaktif yang mengajak pengunjung ikut terlibat dalam pengembangan desain dan fitur produk masa depan.
Bukan cuma jual mobil, tapi mencoba membangun komunitas. Strategi yang kelihatan sederhana—tapi efektif untuk brand yang ingin cepat punya identitas di pasar baru.

Satu Tahun di Indonesia, JAECOO Mantapkan Diri Sebagai Brand SUV Premium yang Tumbuh Cepat Lewat Teknologi SHS dan EV
Satu tahun bukan waktu lama, tapi JAECOO berhasil membuatnya terasa seperti tiga tahun.
Mereka datang dengan teknologi SHS yang tidak sekadar gimmick, punya pembuktian jarak tempuh ekstrem lewat rekor MURI, dan melahirkan SUV listrik yang pemesanannya bisa bikin brand lama ikut menoleh.
Kalau ini baru tahun pertama, pertanyaannya bukan lagi “JAECOO bisa bertahan atau tidak.”
Pertanyaannya lebih tajam: siapa yang siap menahan serbuan mereka di tahun kedua?****
- Penulis: dimas
- Editor: Dimas Lombardi
