GAC AION Resmi CKD di Indonesia, Ini Harga dan Keuntungannya
- account_circle Magoh
- calendar_month Kamis, 12 Jun 2025
- visibility 250
- comment 0 komentar
- print Cetak

GAC AION Resmi CKD di Indonesia, Ini Harga dan Keuntungannya
OTOExpo.com , Jakarta – Satu lagi pemain kendaraan listrik (EV) asal Tiongkok yang makin serius menancapkan kuku di pasar otomotif Indonesia. GAC AION, di bawah kolaborasi dengan Indomobil Group, resmi memulai perakitan lokal alias Completely Knocked Down (CKD) untuk model andalannya.
“Indonesia adalah pasar yang sangat penting bagi GAC. Ke depannya, kami akan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekspor kendaraan listrik berbasis setir kanan untuk pasar ASEAN dan Afrika Selatan,” ujar Mr. Wei Haigang, President of GAC International.
Pabrik ini memproduksi seluruh model GAC yang dipasarkan di Indonesia dan, dimulai dari AION V. Sejak awal kehadirannya, unit paling diminati ini sudah ditawarkan mengikuti permintaan pasar di Indonesia.
“Kehadiran AION V di Indonesia tentunya mengikuti permintaan pasar, dan harga yang kita berikan tentunya sudah dengan skema CKD. Maka dengan itu, produk ini akan bisa mendukung regulasi kendaraan listrik di tanah air dan lebih kompetitif,” tegas Andry Ciu, CEO GAC AION Indonesia.
Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru kagum ada beberapa catatan penting yang mungkin membuat kita bertanya: Apakah langkah ini cukup untuk menggoyang dominasi pemain lama seperti Hyundai, Wuling, dan bahkan BYD?
CKD dari Awal, Tapi Baru Sekarang Resmi?
Menurut keterangan resminya, sejak diluncurkan di Tanah Air, harga GAC AION V sudah menggunakan skema CKD.
Namun, menariknya, pabrik rakitan baru benar-benar resmi beroperasi mulai Juni 2025. Artinya, selama beberapa bulan sebelumnya, publik “dipercaya” bahwa unit yang masuk ke pasar sudah CKD.
Sebuah klaim yang sah-sah saja, tapi tentu menimbulkan pertanyaan seputar proporsi lokalisasinya.
GAC sendiri tidak main-main. Lewat PT National Assemblers yang dimiliki Indomobil, pabrik ini digadang-gadang akan memproduksi seluruh model GAC AION untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor, terutama untuk kawasan ASEAN dan Afrika Selatan.
Targetnya? Indonesia jadi pusat produksi regional. Visi ambisius, tapi sayangnya tidak baru banyak merek sebelumnya juga mengumbar janji serupa.

Investasi Rp1 Triliun dan TKDN 40%: Langkah Awal yang Masih Jauh
Indomobil berani menggelontorkan lebih dari Rp1 triliun untuk proyek ini, dilakukan secara bertahap. Sebagai imbalannya, TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) GAC AION disebut sudah menyentuh 40%.
Ini artinya, GAC AION sudah bisa mendapatkan insentif dari pemerintah sesuai regulasi kendaraan elektrifikasi.
Namun, 40% masih angka standar minimal. Bandingkan dengan Wuling Air ev yang sudah tembus angka lebih tinggi dalam waktu lebih singkat.
Jadi, meski langkah GAC patut diapresiasi, belum ada yang revolusioner dari segi nilai lokal atau efisiensi rantai pasok dalam negeri.
Harga GAC AION: Lebih Terjangkau, Tapi Belum Murah
Berikut daftar harga OTR Jakarta dari lini produk GAC:
-
GAC AION Y Plus
-
Exclusive: Rp 419.000.000
-
Premium: Rp 479.000.000
-
-
GAC AION V
-
Exclusive: Rp 449.000.000
-
Luxury: Rp 489.000.000
-
-
GAC Hyptec HT
-
Premium: Rp 691.000.000
-
Ultra: Rp 843.500.000
-
Harga tersebut terkesan kompetitif jika dibandingkan dengan Hyundai Kona EV atau MG ZS EV. Tapi, untuk kategori SUV listrik, AION V masih bermain di kelas menengah atas, bukan level entry.
Artinya, belum cukup menjangkau segmen massal yang mulai dilirik pemain seperti DFSK dan Wuling.
Layanan Purna Jual GACARE
Untungnya, GAC cukup cerdas dalam membungkus nilai tambah lewat layanan purna jual “GACARE” yang diklaim all-in.
Di atas kertas, ini adalah paket yang menarik bahkan lebih lengkap daripada beberapa pemain mapan di segmen EV.
Namun, kunci keberhasilannya tetap satu: after-sales support. Sejauh mana jaringan layanan GAC siap menjangkau kota-kota kecil di luar Jabodetabek?
Modal Besar Tak Cukup Tanpa Value yang Kuat
GAC punya potensi besar, apalagi dengan dukungan Indomobil — grup otomotif yang sudah kenyang pengalaman.
Tapi, pengalaman industri juga mengajarkan kita bahwa modal besar dan skema CKD saja tidak menjamin keberhasilan. Pasar Indonesia butuh lebih dari sekadar teknologi dan niat baik.
Harga yang “terjangkau” pun tidak otomatis menarik kalau belum benar-benar sesuai daya beli mayoritas konsumen Indonesia.
Sementara itu, merek seperti Wuling dan DFSK sudah mencuri start lewat model-model kecil dan murah yang praktis untuk perkotaan.
Start yang Menjanjikan, Tapi Belum Mengguncang
Perakitan lokal GAC AION dan harga CKD adalah langkah awal yang pantas diapresiasi.
Namun, dalam kompetisi sengit EV di Indonesia, GAC butuh lebih dari sekadar fasilitas rakitan dan garansi jangka panjang. Inovasi model, ekspansi jaringan layanan, dan strategi harga agresif akan menjadi kunci untuk menaklukkan pasar yang semakin padat ini.
GAC AION punya semua alatnya. Tinggal bagaimana mereka menggunakannya. Apakah AION hanya akan jadi merek EV asal Tiongkok lain yang datang dan pergi?
Atau justru jadi pilar masa depan transportasi listrik Indonesia?
Kita lihat saja nanti.*****
.
.
.
.
.
- Penulis: Magoh
