Berita
light_mode
Beranda » National » EV di Mata Konsumen Indonesia Lebih dari Sekadar Tren, Tapi Soal Napas dan Suara Kota

EV di Mata Konsumen Indonesia Lebih dari Sekadar Tren, Tapi Soal Napas dan Suara Kota

  • account_circle dimas
  • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
  • visibility 139
  • print Cetak

Studi ini membuktikan bahwa EV bukan lagi sekadar “gaya hidup kaum urban” atau alat pamer teknologi, tapi sudah mulai dianggap sebagai solusi terhadap masalah nyata yang dirasakan masyarakat sehari-hari polusi udara, kebisingan, dan kerusakan lingkungan.

 

EV di Mata Konsumen Indonesia Lebih dari Sekadar Tren, Tapi Soal Napas dan Suara Kota

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Kendaraan Listrik, Nafas Baru di Jalanan Indonesia. Studi berjudul “Electric Vehicles in Indonesia: Consumer Insights and Market Dynamics” yang dirilis bulan ini membuka mata banyak pihak tentang dinamika sesungguhnya di balik tren kendaraan listrik (EV) di Indonesia.

Dari 1.500 responden yang tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, hasilnya cukup mencengangkan: 67% responden mengaku memilih EV karena alasan bebas polusi udara.

Ya, sesederhana dan seserius itu. Napas yang lebih lega dan langit yang (sedikit lebih) biru ternyata menjadi daya tarik utama bagi konsumen tanah air.

Bukannya fitur canggih, akselerasi instan, atau insentif pajak, tapi soal kualitas hidup yang selama ini mungkin dianggap remeh: udara bersih.

Studi Terbaru: 67% Konsumen Indonesia Pilih EV karena Bebas Polusi Udara

Bukan Hanya Udara, Tapi Suara yang Lebih Tenang

Masih dari studi yang sama, 60% responden menyatakan alasan mereka mengadopsi kendaraan listrik adalah karena suaranya yang senyap.

Bagi yang tinggal di daerah padat lalu lintas atau yang pernah terjebak macet di tengah riuh klakson dan deru mesin, hal ini bisa dipahami.

EV tidak hanya mengubah cara berkendara, tapi juga menciptakan suasana kota yang berbeda lebih hening, lebih damai.

Mungkin memang terdengar sepele. Tapi coba bayangkan: pagi hari yang tidak dipenuhi suara knalpot, siang tanpa deru mesin tua, dan malam yang bisa benar-benar sunyi di pinggir jalan raya.

Suara, seperti udara, adalah bagian dari keseharian kita yang selama ini ‘diracuni’ tanpa sadar.

Dampak Lingkungan, Alasan yang Makin Populer

Sementara itu, 54% responden menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai alasan utama mereka beralih ke EV. Ini menandakan pergeseran mindset yang cukup signifikan di kalangan konsumen Indonesia.

Lingkungan bukan lagi urusan aktivis atau pemerintah saja. Kini, keputusan pribadi untuk mengganti kendaraan bisa dianggap sebagai langkah nyata menjaga bumi.

Namun, patut dicatat juga bahwa angka ini masih lebih rendah dibandingkan dua alasan sebelumnya. Bisa jadi karena narasi dampak lingkungan masih dianggap “abstrak” bagi sebagian masyarakat.

“Kalau udara bersih bisa langsung saya rasakan, tapi kalau bicara emisi karbon global, rasanya terlalu jauh dari kehidupan saya sehari-hari,” ungkap salah satu responden di Jakarta dalam studi tersebut.

Infrastruktur Masih PR Besar

Meski hasil studi ini memberi angin segar bagi industri kendaraan listrik, namun adopsi EV di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Infrastruktur pengisian daya masih belum merata, terutama di luar kota besar.

Belum lagi harga kendaraan listrik yang masih tergolong tinggi bagi mayoritas masyarakat Indonesia, meski sudah ada insentif dari pemerintah.

Ironisnya, meskipun konsumen sudah sadar akan manfaat EV, banyak dari mereka akhirnya masih menunda pembelian karena keterbatasan akses dan biaya. Jadi, walau hati sudah ingin hijau, dompet dan kondisi jalan belum tentu mendukung.

Bukan Lagi Tren Elit, Tapi Kebutuhan Massal?

Studi ini membuktikan bahwa EV bukan lagi sekadar “gaya hidup kaum urban” atau alat pamer teknologi, tapi sudah mulai dianggap sebagai solusi terhadap masalah nyata yang dirasakan masyarakat sehari-hari polusi udara, kebisingan, dan kerusakan lingkungan.

Perubahan persepsi ini penting, karena ketika masyarakat mulai menghubungkan EV dengan kualitas hidup mereka secara langsung, maka adopsinya bisa meningkat secara alami, bukan hanya karena subsidi atau promosi.

Masa Depan EV Ada di Tangan Konsumen

Data dari studi “Electric Vehicles in Indonesia: Consumer Insights and Market Dynamics” ini jelas: konsumen Indonesia sudah lebih cerdas, lebih sadar, dan lebih peduli.

Mereka tidak sekadar ingin tampil beda, tapi juga ingin hidup lebih sehat dan lebih damai.

Namun untuk mencapai transformasi massal, semua pihak harus ikut serta dari produsen, pemerintah, hingga komunitas. Pemerintah perlu terus memperluas jangkauan charging station dan menurunkan hambatan kepemilikan.

Sementara produsen harus berani menawarkan pilihan EV yang lebih terjangkau dan relevan dengan kebutuhan lokal.

Dan konsumen? Sepertinya mereka sudah siap. Karena ternyata, perubahan bisa dimulai dari hal paling sederhana: keinginan untuk menghirup udara segar, mendengar kota yang tenang, dan menjaga bumi tetap layak huni. ***

.

.

.

.

  • Penulis: dimas

Artikel Menarik Lainnya

expand_less