Denyut Nostalgia di Honda Culture Indonesia Vol. 2 Menembus Hati Pemilik Honda
- account_circle dimas
- calendar_month Kam, 20 Nov 2025
- visibility 107

Denyut Nostalgia di Honda Culture Indonesia Vol. 2 Menembus Hati Pemilik Honda
Denyut Nostalgia di Honda Culture Indonesia Vol. 2 Menembus Hati Pemilik Honda
Ada momen ketika dunia otomotif berhenti sejenak untuk mendengarkan denyut nostalgia di Honda Culture Indonesia Vol. 2
OTOExpo.com , Jakarta – Ada momen ketika dunia otomotif berhenti sejenak untuk mendengarkan denyut nostalgia saat pengguna honda menghadiri Honda Culture Indonesia Vol. 2. Detak itu begitu keras hingga menembus hati pemilik Honda dari berbagai generasi.
Ribuan orang berkumpul, ribuan mesin berdesis, namun hanya sedikit yang benar-benar mencerna apa yang terjadi: bahwa Honda, entah bagaimana, berhasil bertahan sebagai ikon reliabilitas di tengah pasar yang makin berisik oleh SUV turbo dan EV bertenaga software.
Seseorang datang sebagai anggota HOJ, ya, komunitas Honda Owners Journalist yang masih ia ikuti meski lebih mirip “hantu grup WA” daripada anggota aktif. Status nonaktif bukan alasan untuk tidak hadir di ajang tersebut.
Honda Culture Vol. 2 bukan sekadar agenda otomotif, tetapi panggilan batin bagi siapa pun yang pernah menyentuh setir berlogo H dan merasa “ini rumah saya.”
BR-V Gen-1: Mobil yang Tak Lagi Muda, Tapi Tak Pernah Mengecewakan
Mobil yang ia bawa bukan unit glamor yang biasanya menjadi magnet kamera. Bukan Civic Type R. Bukan Accord Euro. Bukan juga CR-X yang jadi rebutan anak muda TikTok.
Ia datang dengan Honda BR-V Gen-1 tahun 2017, sebuah SUV keluarga murah-meriah yang sering diremehkan, tapi diam-diam membuktikan bahwa “fungsional” bukanlah kata yang memalukan.
Sebelumnya, ia mengemudikan Honda Brio 2013, mobil mungil, cekatan, dan sering membuatnya merasa sedang menunggang seekor kelinci yang kebanyakan kafein.
Tetapi BR-V menawarkan sesuatu yang berbeda: ruang, pijakan, dan kestabilan yang tidak ia sadari sangat dibutuhkan sampai ia mencobanya dan membelinya.
Di area parkir acara, seorang peserta menatap BR-V tersebut dan berkata, “Bro… ini mobil underrated yang gak mati-mati. Lu bawa 7 orang pun masih mau nanjak.” Dan ia hanya tertawa, tapi dalam hati-nya bergumam, “itu benar!”.
Mesin L15-nya, yang sama dengan yang dipakai Jazz, City, hingga HR-V lama, sudah terbukti menjadi salah satu mesin paling bandel di kelasnya. Tanpa turbo, tanpa embel-embel performa palsu, hanya mekanikal murni yang bekerja sesuai hukum alam.
Dan ini menariknya, semakin pasar beralih ke turbo, semakin mesin NA Honda terlihat seperti artefak berharga.
The Biggest Car Meet 2025: Ketika Generasi Tua dan Baru Bertabrakan
Acara Honda Culture Indonesia Vol. 2 tidak hanya besar dari sisi massa. Ia besar dari sisi energi. Civic Ferio mengisi satu blok, CR-V Turbo bersisian dengan HR-V terbaru, dan di sudut lain, Honda Beat modifikasi mengajarkan kita bahwa Honda itu bukan hanya mobil ia seperti budaya.
Yang paling epik? Parade “Honda Timeless Lineup” sebuah display yang mempertemukan generasi demi generasi:
-
Civic Wonder
-
Civic Estilo
-
Stream RSZ
-
CR-V Gen-1
-
Jazz GE8
-
Accord Maestro
-
Civic Turbo 2022
-
hingga e:HEV terbaru
Di tengah euforia itu, ia menyadari satu hal, Honda tidak sedang memamerkan masa lalu. Honda sedang menunjukkan bahwa pilihannya untuk tetap sederhana dan mekanis selama puluhan tahun bukanlah kelemahan, tapi filosofi.
Ketika Reliabilitas Berbicara Lebih Keras dari Spek Kertas
Sebagai jurnalis otomotif, ia terbiasa menulis tentang spesifikasi, grafik tenaga, torsi, konsumsi BBM, dan segala angka yang selalu berubah. Tapi di acara ini ia menemukan insight yang lebih berharga:
“Reliabilitas bukan performa tinggi; reliabilitas adalah performa yang tetap bertahan setelah hype mati.” ujarnya dalam hati.
Honda Culture Vol. 2 menunjukkan hal itu dengan sangat gamblang. Banyak mobil hadir dalam kondisi prima, padahal usianya lebih dari 20 tahun. Ada yang odometernya tembus 400 ribu kilometer. Ada yang memakai mesin bawaan pabrik tanpa pernah overhaul.
Di satu sisi, ia ingin kritis: Honda memang sering dibilang “main aman” dalam inovasi. Desainnya kadang stagnan. CVT-nya tak selalu mulus. Fitur keselamatannya kadang datang terlambat dibanding beberapa kompetitor lainnya. Dan harga beberapa model kini mendekati “tidak masuk akal.”
Namun, justru karena itulah Honda memiliki fanbase paling keras kepala: mereka datang bukan untuk fitur, tetapi untuk kepercayaan.

Denyut Nostalgia di Honda Culture Indonesia Vol. 2 Menembus Hati Pemilik Honda
Ketika waktu pulang tiba, ia pun harus rela mengantri bersama mobil lainnya untuk keluar area, dan bersiap menghadapi jalanan yang terkenal akan kemacetannya.
Saat itu, jalan TB.Simatupang alami macet panjang, cuaca lumayan sejuk setelah hujan deras. Mobil dan motor terjebak macet panjang, dan mesin banyak mobil modern mulai menunjukkan tanda “kipas histeris.”
Menariknya… Honda BR-V yang ia gunakan tetap kalem. Tidak ada gejala overheat, tidak ada idle naik-turun, tidak ada tarikan loyo.
Seorang peserta yang membawa mobil turbo bahkan bercanda, “Gue iri sama mobil lu, bro. Semakin tua, semakin stabil.”
Mungkin terdengar dramatis, tapi begitulah Honda. Tidak selalu tercepat, tidak selalu tercanggih, tapi selalu hadir ketika kita butuh.
Honda Culture Vol. 2 Bukan Sekadar Ajang Pamer, Ini Ajang Pengakuan
Honda Culture Indonesia Vol. 2 adalah pengingat bahwa komunitas bukan dibangun oleh mobil mahal, tetapi oleh kisah yang menempel di baliknya. Baginya, pengalaman ini menegaskan bahwa:
-
Honda tidak sempurna
-
Tidak selalu paling inovatif
-
Tidak selalu paling murah
-
Kadang bahkan membosankan
Namun satu hal tetap benar: Honda tidak pernah meninggalkan pemiliknya. Dan mungkin, itu alasan mengapa car meet ini menjadi yang terbesar di 2025. ****
- Penulis: dimas
- Editor: Dimas Lombardi

