Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
- account_circle Magoh
- calendar_month Senin, 29 Jul 2019
- visibility 187
- comment 0 komentar
- print Cetak

Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
para usher booth otomotif membagikan kisah menarik tentang profesionalisme, sorotan kamera, hingga modus pengunjung.
OTOExpo.com – Setiap pameran otomotif besar selalu memiliki satu pemandangan yang tak pernah absen: deretan booth megah, mobil-mobil baru yang berkilau, dan para usher cantik yang berdiri rapi menyambut pengunjung. Di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, fenomena ini kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari atmosfer pameran.
Namun, di balik senyum ramah, postur tegap, dan penampilan profesional, tersimpan berbagai cerita yang jarang terdengar ke permukaan. Para usher bukan sekadar “pemanis booth”, melainkan garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan ribuan pengunjung dari berbagai latar belakang.
Dalam dunia pameran otomotif, kehadiran usher memiliki fungsi yang jelas. Mereka adalah penyambut tamu, pemberi informasi awal, sekaligus wajah pertama yang merepresentasikan sebuah merek otomotif.
Setiap usher dituntut tampil menarik, komunikatif, dan memiliki pemahaman dasar mengenai produk yang dipamerkan. Profesionalisme menjadi kunci utama, karena mereka berhadapan langsung dengan konsumen potensial, media, hingga tamu VIP.
Namun, realitas di lapangan sering kali tidak sesederhana deskripsi pekerjaan di atas kertas.
Saat pameran berlangsung, kamera menjadi “teman setia” para usher. Mulai dari jurnalis media cetak dan online, vlogger otomotif, blogger, hingga pengunjung yang sekadar ingin mengabadikan momen.
Sorotan kamera datang tanpa henti. Tidak hanya mengarah pada mobil yang dipajang, tetapi juga pada para usher yang berdiri di sampingnya. Situasi ini membuat mereka harus selalu menjaga sikap, ekspresi, dan bahasa tubuh.
Bagi sebagian usher, hal tersebut sudah menjadi bagian dari pekerjaan. Namun, bagi yang baru pertama kali terjun, tekanan mental bisa terasa cukup besar.

Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
Masalah mulai muncul ketika sikap ramah dan terbuka—yang merupakan tuntutan profesi—kerap disalahartikan oleh sebagian pengunjung.
Chyntia, usher di salah satu booth merek Jepang, membagikan pengalamannya selama bertugas di GIIAS 2019.
“Awalnya mereka tanya soal mobil, itu wajar. Tapi setelah ditanggapi, mulai berubah arah. Digoda, terus ujung-ujungnya minta nomor ponsel,” ungkapnya.
Menurut Chyntia, situasi seperti ini bukan terjadi sekali dua kali. Ada pola tertentu yang sering berulang, terutama saat pengunjung datang sendiri dan terlalu lama mengajak berbincang di luar konteks produk.
Berbeda dengan Chyntia, Riri (24) yang sudah beberapa kali menjadi usher pameran mengaku lebih siap menghadapi berbagai tipe pengunjung. Pengalaman membuatnya memiliki “tameng” tersendiri dalam berinteraksi.
Menurut Riri, kunci utamanya adalah menjaga batas profesional tanpa kehilangan keramahan.
“Kalau sudah pengalaman, kita tahu harus jawab bagaimana. Tetap sopan, tapi enggak memberi celah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa usher berpengalaman biasanya bisa membaca situasi dengan cepat—kapan harus melayani, kapan harus mengalihkan pembicaraan ke rekan kerja, atau bahkan berpura-pura sibuk.
Hal senada juga disampaikan oleh usher lain yang enggan disebutkan namanya. Menurutnya, bahasa tubuh dan ekspresi wajah pengunjung sering kali menjadi petunjuk utama.
“Ekspresi, gerak-gerik, itu enggak bisa bohong. Mana yang wartawan beneran, mana yang cuma modus, kelihatan kok,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa pengunjung yang benar-benar tertarik pada produk biasanya fokus pada spesifikasi, harga, dan fitur. Sementara yang memiliki niat lain cenderung mengulur waktu dan mengarahkan pembicaraan ke ranah pribadi.
Pengalaman kurang menyenangkan juga dialami Lenny (22), usher di booth kendaraan komersial. Meski segmen produknya berbeda, perlakuan yang ia terima tak jauh berbeda.
“Sering ada pengunjung yang melihatin dari ujung kaki sampai ujung kepala. Rasanya enggak nyaman, tapi kita harus tetap profesional,” ungkapnya.
Bagi Lenny, tantangan terbesar adalah menjaga ekspresi agar tetap netral dan ramah, meski situasi di dalam hati tidak selalu demikian.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa profesi usher di pameran otomotif tidak semudah yang terlihat. Di balik gaun rapi dan senyum manis, ada tuntutan mental, etika, dan kontrol diri yang tinggi.
Mereka harus mampu menjaga citra merek, melayani pengunjung dengan baik, sekaligus melindungi diri dari situasi yang berpotensi tidak nyaman.
GIIAS 2019 menjadi cerminan bahwa industri otomotif bukan hanya tentang teknologi dan desain kendaraan, tetapi juga tentang interaksi manusia yang terjadi di dalamnya.
Ke depan, semakin penting bagi semua pihak penyelenggara, merek otomotif, hingga pengunjung untuk membangun budaya pameran yang lebih saling menghargai.
Para usher adalah profesional di bidangnya. Mereka bekerja untuk menyampaikan informasi, bukan objek hiburan. Dengan saling menghormati peran masing-masing, pameran otomotif dapat menjadi ruang yang lebih nyaman, inklusif, dan berkelas.
Karena di balik setiap booth yang megah, ada manusia yang berdiri dengan dedikasi—menyambut, menjelaskan, dan menjaga wajah industri otomotif Indonesia tetap ramah di mata publik.****
- Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
- Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
- Wuling Motors Raih Ribuan SPK Sekaligus Penghargaan di GIIAS 2019 , Perbedaan Wuling Almaz 5 Seater dan 7 Seater
- Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
- Isuzu GIGA Menjadi Penyumbang Terbesar Penjualan Di GIIAS 2019
- Curahan Hati Para Usher Cantik Di Ajang GIIAS 2019
- Galeri Gadis HINO di GIICOMVEC 2020
- Isuzu Di GIIAS Bawa Produk Unggulan Berikan Promo Menarik
- Asuka Car TV Hadirkan Dua Produk Baru Di GIIAS 2019
- Penulis: Magoh
- Editor: dimas lombardi






















