light_mode
Beranda » Kendaraan » Chery TIGGO 8 CSH Laris Manis PHEV Sepertinya Sudah Diterima Pasar

Chery TIGGO 8 CSH Laris Manis PHEV Sepertinya Sudah Diterima Pasar

  • account_circle dimas
  • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
  • visibility 169
  • print Cetak

Chery TIGGO 8 CSH Laris Manis PHEV Sepertinya Sudah Diterima Pasar

 

OTOExpo.com , Jakarta – Pasar mobil elektrifikasi Indonesia makin panas, dan salah satu pemain yang mendadak jadi pusat perhatian adalah Chery.

Yup, pabrikan asal Tiongkok ini datang bukan cuma bawa desain menarik, tapi juga teknologi yang diklaim beda dari yang lain.

Yang paling baru? Chery TIGGO 8 CSH, SUV plug-in hybrid yang katanya membawa revolusi ala “Chery Super Hybrid”.

Hebatnya, dalam waktu dua bulan sejak peluncuran, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 2.500 SPK.

Sebuah capaian yang jujur saja cukup mengejutkan untuk mobil hybrid yang masih asing di telinga masyarakat awam.

Tapi di balik euforia itu, muncul pertanyaan: apakah ini bukti kualitas teknologi CSH, atau sekadar momentum marketing yang kebetulan pas?

TIGGO 8 CSH: Antara Inovasi dan Timing yang Pas

TIGGO 8 CSH memang datang di waktu yang tepat. Banyak konsumen ingin beralih ke mobil ramah lingkungan, tapi belum siap sepenuhnya ke mobil listrik murni (BEV).

Maka, PHEV jadi opsi tengah yang menggoda apalagi jika dibungkus dengan janji efisiensi tinggi dan performa andal.

Chery mengklaim teknologi CSH-nya sanggup menghasilkan efisiensi hingga 59,17 km/liter dalam kondisi ideal.

Bahkan di rute realistis Jakarta–Bandung–Jakarta, bisa tembus 28 km/liter. Angka yang sangat impresif di atas rata-rata SUV sekelasnya.

Tapi ya, itu angka saat dites oleh peserta terpilih, dalam setting acara resmi, dengan gaya mengemudi yang “super hemat”.

Chery TIGGO 8 CSH Laris Manis PHEV Sepertinya Sudah Diterima Pasar

Andri, pengguna TIGGO 8 CSH asal Bekasi yang baru dua minggu mengendarainya, memuji respons mesin hybrid-nya.

“Kalau pagi-pagi jalan ke kantor pakai mode EV, suara senyap, akselerasi halus. Rasanya seperti naik mobil Eropa, jujur,” katanya.

Namun begitu sampai di kantornya yang hanya punya colokan listrik biasa, ia mulai ragu.

“Nge-charge-nya lama, 4-5 jam kalau pakai colokan standar. Belum lagi kalau teman kantor rebutan ngecas. Jadi ya akhirnya pakai mode HEV aja terus.”

Kesimpulannya? Baterainya memang tangguh, tapi ekosistem pendukung belum siap.

Sementara itu, di grup Telegram “EV dan Hybrid Jabodetabek”, beberapa pengguna TIGGO 8 CSH baru mengaku sempat bingung cara kerja mode drive-nya.

“Saya kira kalau hybrid itu tinggal isi bensin aja, ternyata tetap harus ngecas biar hemat. Kalau dipakai terus-terusan dalam mode bensin, konsumsi BBM-nya ya boros juga,” tulis akun bernama Edwin.

Ada juga komentar dari pengguna yang kaget dengan turun drastisnya efisiensi saat AC nyala dan kondisi macet ekstrem.

“Di brosur bisa 50 km/liter, tapi saya nyatanya cuma 18–20 km/liter kalau macet parah,” tulis Adhi, pengguna dari Bandung.

Uji Baterai Ekstrem: Hebat, Tapi Perlu Konsistensi

Salah satu daya tarik terbesar dari TIGGO 8 CSH adalah keberanian Chery memamerkan uji baterai ekstrem: mulai dari perendaman air laut 53 jam, hingga simulasi tumpukan 7 mobil.

Secara teori, ini menunjukkan keseriusan dan transparansi Chery soal keamanan baterai hal yang sering jadi kekhawatiran calon pembeli EV dan PHEV.

Namun, kita tahu, uji lab dan kenyataan jalanan bisa sangat berbeda. Apalagi infrastruktur servis mobil hybrid di Indonesia masih dalam tahap berkembang.

Pertanyaan lanjutannya: jika ada kerusakan sistem CSH atau baterai, apakah suku cadang dan teknisi siap?

Kita tahu betapa sulitnya konsumen mobil listrik lain menunggu spare part atau bahkan cuma update software. Semoga Chery tidak mengulang kesalahan serupa.

Faris, pengguna TIGGO 8 CSH dari Tangerang Selatan, sempat mengeluhkan error ringan pada sistem display energi hybrid-nya.

“Waktu saya bawa ke bengkel resmi, mereka bilang harus tunggu teknisi hybrid khusus datang minggu depan. Lah, mobilnya baru 3 minggu, masa udah nyerah?”

Keluhan lain juga datang dari pengguna yang belum mendapatkan wall charger meski sudah dijanjikan sebagai bagian dari paket pembelian.

“Katanya inden alatnya,” ujar Hermawan, sambil mengunggah foto unitnya di garasi dengan kabel colokan biasa yang menjuntai dari jendela dapur.

Penjualan Melejit, Tapi Siapkah Produksi dan Layanan?

Dengan 2.500 SPK dan 1.200 unit yang sudah dikirim, Chery memang membuktikan ada ceruk pasar besar untuk SUV PHEV dengan harga kompetitif.

Tapi dengan target 2.000 unit per bulan ke depan, konsistensi produksi jadi tantangan serius.

Jangan sampai semangat di awal berubah jadi kekecewaan karena inden panjang, keterlambatan pengiriman, atau layanan purnajual yang belum siap.

Apalagi konsumen Indonesia sangat cepat berubah hati—terutama jika mobil buatan Jepang atau Korea mulai masuk dengan banderol PHEV serupa.

Menuju GIIAS 2025

Chery akan tampil all-out di GIIAS 2025, dengan booth lebih besar dan janji memperkenalkan SUV hybrid baru.

Tapi jika hanya menjual jargon “teknologi canggih” tanpa edukasi mendalam dan aftersales memadai, Chery bisa kembali jatuh dalam jebakan yang sama seperti beberapa merek China sebelumnya: kencang di awal, menghilang perlahan.

GIIAS adalah momen emas, tapi juga ujian berat. Karena di pameran yang sama, pabrikan besar lain pasti akan menyerang balik.

Toyota dengan seri hybrid-nya, BYD dengan Dolphin dan Seal, hingga Wuling yang makin agresif dengan ekosistem lokalnya.

Terobosannya Nyata

Chery TIGGO 8 CSH jelas bukan gimmick biasa. Ia hadir dengan teknologi menarik, angka efisiensi mengesankan, dan semangat mengubah wajah mobilitas Indonesia.

Tapi apakah ini produk yang benar-benar siap jangka panjang?

Komunitas pengguna sepakat, Chery TIGGO 8 CSH adalah salah satu PHEV terbaik secara spesifikasi dan harga.

Tapi nilai sesungguhnya baru akan terlihat setelah 6 bulan sampai setahun pemakaian. Ketahanan baterai, kemudahan servis, dan ketersediaan parts menjadi faktor penentu apakah ini mobil revolusioner atau cuma “viral sesaat”.

Jadi buat yang tertarik membeli? Wajib paham cara kerja PHEV. Jangan cuma tergoda brosur dan test drive singkat.

Karena seperti yang sudah banyak dibuktikan komunitas: pengalaman sebenarnya baru terasa setelah mobil ini jadi bagian dari rutinitas harian.

Untuk sekarang, kita beri tepuk tangan untuk gebrakan Chery. Tapi kita juga tunggu apakah TIGGO 8 CSH akan tetap jadi ikon PHEV ramah lingkungan, atau malah berakhir sebagai “bintang tiga bulan” seperti banyak model sebelum-sebelumnya.****

.

.

.

.

  • Penulis: dimas

✈︎ Random Artikel

expand_less