Berita
light_mode
Beranda » National » Banjir Sumatera Belum Selesai, PMI Kerahkan Teknologi Bosch untuk Bersihkan Lumpur Tebal hingga 3 Tahun

Banjir Sumatera Belum Selesai, PMI Kerahkan Teknologi Bosch untuk Bersihkan Lumpur Tebal hingga 3 Tahun

  • account_circle Pandito
  • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
  • visibility 62
  • print Cetak

Endapan Lumpur dan Sisa Material Banjir Jadi Prioritas, PMI Manfaatkan Dukungan Teknologi Bosch

PMI Manfaatkan Teknologi Bosch Power Tools untuk Pemulihan Banjir Sumatera 2026

OTOExpo.com , Jakarta –  Dua bulan lebih telah berlalu sejak bencana ekologis menerjang sejumlah wilayah di Sumatera. Namun bagi ribuan keluarga yang masih hidup dalam ketidakpastian, waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.

Hingga 31 Januari 2026, data menunjukkan masih ada lebih dari 106 ribu warga yang bertahan di pengungsian. Ratusan ribu rumah rusak, sementara fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, hingga tempat ibadah ikut terdampak. Angka-angka ini bukan sekadar statistik melainkan potret nyata tentang kehidupan yang masih tertahan, menunggu pemulihan yang benar-benar bisa dirasakan.

Di tengah situasi itu, fokus pemulihan kini mengarah pada hal yang terdengar sederhana, tetapi justru menjadi pekerjaan paling berat: membersihkan endapan lumpur dan sisa material banjir.

Bagi masyarakat yang ingin kembali ke rumah, lumpur adalah tembok tak kasat mata. Ia menutup lantai, menyumbat selokan, merusak struktur bangunan, bahkan meninggalkan risiko kesehatan dalam bentuk bakteri dan kontaminasi.

Kepala Markas PMI Pusat, Arifin M. Hadi, menegaskan bahwa fase pemulihan pascabencana saat ini sangat bergantung pada keberhasilan pembersihan lumpur yang masih tebal di banyak wilayah.

Sejumlah daerah seperti Aceh Tengah, Aceh Timur, Tapanuli, Sibolga, hingga Agam, Solok, dan Padang disebut masih menghadapi ketebalan lumpur yang sulit ditangani secara manual.

Dalam kondisi seperti ini, sekop dan sapu bukan lagi solusi utama. Dibutuhkan pendekatan yang lebih teknis dan lebih cepat.

“PMI akan bekerja setidaknya hingga akhir tahun ini, dan sangat mungkin diperpanjang karena proses pembersihan diperkirakan bisa berlangsung sampai tiga tahun. Karena itu, dukungan peralatan berkapasitas besar menjadi kunci agar proses pembersihan dapat berjalan lebih cepat dan aman,” ujar Arifin.

Kalimat itu menggambarkan realitas lapangan: pemulihan bukan proyek jangka pendek, melainkan maraton panjang yang memerlukan tenaga, strategi, dan teknologi.

Menjawab kebutuhan tersebut, PMI memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Bosch Indonesia yang hadir membawa dukungan melalui solusi teknologi dari Bosch Power Tools.

Bentuk dukungannya bukan sekadar simbolis. Bosch menyalurkan 25 unit High Pressure Washer dengan nilai sekitar Rp97 juta, yang memiliki tekanan air 100–120 bar.

Peralatan ini memungkinkan relawan membersihkan permukiman dan fasilitas umum dengan lebih efektif. Bukan hanya mempercepat proses, tetapi juga mengurangi risiko kerja di area yang penuh lumpur, pecahan material, dan potensi bahaya lainnya.

Bagi relawan, alat seperti ini bukan sekadar mesin semprot. Ia adalah “penghemat tenaga” yang sangat menentukan produktivitas di lapangan—terutama saat pembersihan dilakukan berulang hari demi hari.

PMI pun memanfaatkan bantuan ini untuk mempercepat pemulihan lingkungan agar masyarakat bisa kembali beraktivitas secara bertahap, terutama menjelang Ramadan 2026, momen penting yang biasanya identik dengan kepulangan, kebersamaan, dan rutinitas sosial.

Dalam operasi pemulihan pascabencana, tantangan bukan cuma soal membersihkan cepat. Ada aspek lain yang lebih krusial: relawan harus tetap selamat.

Hal ini juga disampaikan oleh Fenny Anggraeni Sofyan, Head of Corporate Communications and Government Relations Bosch Indonesia, yang mewakili Bosch Power Tools.

“Di fase pasca bencana, tantangan di lapangan bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga efektivitas dan keselamatan kerja. Dukungan peralatan ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan area terdampak sekaligus memperkuat kesiapsiagaan respons bencana jangka panjang,” jelas Fenny.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya bertujuan menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga membangun kesiapan menghadapi potensi bencana di masa depan.

Dalam dunia teknologi industri, Bosch dikenal dengan standar alat kerja yang mengutamakan durability dan efisiensi. Ketika standar itu dibawa ke situasi darurat seperti bencana banjir, hasilnya bisa menjadi signifikan—terutama di wilayah yang akses dan infrastrukturnya masih rapuh.

Endapan Lumpur dan Sisa Material Banjir Jadi Prioritas, PMI Manfaatkan Dukungan Teknologi Bosch

Endapan Lumpur dan Sisa Material Banjir Jadi Prioritas, PMI Manfaatkan Dukungan Teknologi Bosch

Lebih jauh, Bosch menegaskan bahwa program ini selaras dengan komitmen keberlanjutan global mereka, yang diterapkan di Indonesia melalui berbagai inisiatif yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan pencapaian SDGs.

Selain bantuan peralatan, Bosch juga melibatkan partisipasi internal melalui penggalangan dana karyawan senilai Rp4,9 juta, yang disalurkan melalui Foodbank of Indonesia.

“Komitmen keberlanjutan kami diperkuat melalui inisiatif Bosch Bersama Negeri, yang dijalankan melalui tiga pilar utama: lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan teknologi yang berdampak pada kualitas hidup,” ungkap Fenny.

Di balik narasi keberlanjutan, langkah-langkah konkret seperti ini menjadi pembeda. Sebab dalam situasi pascabencana, bantuan yang paling berarti bukan yang paling besar secara simbol, melainkan yang paling relevan untuk menyelesaikan masalah lapangan.

Pemulihan pascabanjir di Sumatera masih panjang. Lumpur yang tersisa adalah pengingat bahwa bencana tidak berhenti ketika hujan reda. Ia meninggalkan pekerjaan berat yang kadang tak terlihat kamera, tetapi menentukan apakah masyarakat bisa kembali hidup normal.

Dalam konteks ini, kolaborasi PMI dan Bosch menunjukkan satu hal penting: pemulihan bukan hanya soal tenaga manusia, tapi juga soal alat yang tepat, strategi yang efisien, dan dukungan yang berkelanjutan.

Ketika teknologi digunakan bukan untuk gaya hidup, tetapi untuk memulihkan kehidupan, maka nilainya terasa jauh lebih nyata dan lebih manusiawi.******

  • Penulis: Pandito
  • Editor: RM.Dimas Wirawan

Artikel Menarik Lainnya

expand_less