BAIC BJ40 Plus Made in Indonesia Meluncur dari Purwakarta
- account_circle Pandito
- calendar_month Sel, 3 Jun 2025
- visibility 119

BAIC BJ40 Plus Made in Indonesia Meluncur dari Purwakarta
OTOExpo.com , Purwakarta – BAIC Indonesia baru saja meluncurkan unit BJ40 Plus “Made in Indonesia” yang dirakit di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (PT HIM), Purwakarta.
Mereka menyebut ini sebagai “komitmen nyata” mendukung industri otomotif nasional. Tapi… pertanyaannya: benarkah ini langkah jangka panjang yang idealis, atau cuma strategi bisnis biasa yang dibungkus nasionalisme?
Dirakit Lokal, Tapi Komponennya Masih ‘Impor Semua’?
BJ40 Plus rakitan lokal ini sejatinya tetap berbasis penuh pada komponen impor dari China. Proses perakitan yang dimaksud sejauh ini lebih mirip assembly final ketimbang produksi sesungguhnya.
Belum ada informasi pasti soal berapa persen TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang sudah dipenuhi dan sejauh ini, BAIC sendiri baru bilang “akan memulai proses menuju TKDN”.
Jadi kalau mau jujur, saat ini belum banyak yang benar-benar “lokal” dari BJ40 Plus selain lokasi perakitannya. Bahkan untuk menjamin kualitas, BAIC harus membawa enam tenaga ahli dari China buat dampingi proses produksi.
Pertanyaan lanjutannya: seberapa siap BAIC mempercayakan produksi secara penuh ke tangan lokal?
Strategi Murah dan Branding Lewat Rakitan Lokal?
Langkah “produksi lokal” ini memang mengesankan di atas kertas. Tapi kalau ditelaah, keputusan merakit di Indonesia bisa jadi lebih soal efisiensi biaya dan branding ketimbang idealisme membangun industri nasional.
Dengan merakit di dalam negeri, BAIC otomatis bisa menghindari beban bea masuk mobil CBU (Completely Built Up), dan memasarkan mobil dengan harga lebih kompetitif.

BJ40 Plus dijual Rp 698 juta (OTR Jakarta). Harga ini memang lebih murah dibanding beberapa SUV 4×4 lain dengan kemampuan off-road setara.
Tapi tetap saja, angkanya belum masuk kategori “terjangkau” untuk konsumen menengah ke bawah. Jadi, siapa sebenarnya target pasar BAIC?
Target Lembaga Pemerintah? TNI? POLRI?
Yang menarik (dan agak membingungkan), BAIC terang-terangan menyebut bahwa kendaraan ini juga menyasar lembaga negara seperti TNI dan POLRI, bahkan kementerian atau institusi negara lainnya.
Ini tentu jadi tanda tanya. Apakah mereka sudah menjalin MoU dengan institusi tersebut? Atau sekadar menyebut nama-nama besar agar produk mereka terlihat kredibel?
Kalau iya, artinya orientasi pasar BJ40 Plus memang lebih ke fleet dan institusional buyer ketimbang konsumen umum.
Jadi jangan kaget kalau nanti jarang lihat mobil ini seliweran di jalanan Jakarta, tapi tiba-tiba muncul dalam iring-iringan kendaraan dinas.
Fitur Tambahan? Ada, Tapi Belum Istimewa
Untuk versi rakitan lokal ini, BAIC menyebut adanya beberapa tambahan fitur seperti:
- Differential Lock depan dan belakang
- Pengaturan jok otomatis
- Sistem infotainment kekinian
Fitur-fitur ini memang patut diapresiasi, tapi di segmen SUV Rp 600-700 jutaan, fitur-fitur tadi sudah menjadi standar, bukan sesuatu yang luar biasa.
Ditambah lagi, desainnya yang sangat maskulin dan “militer banget” mungkin bakal jadi love-it-or-hate-it buat pasar Indonesia yang mulai beralih ke desain modern elegan ala SUV urban.
Pasar SUV Off-Road Segini… Niche Banget!
Mari kita realistis, pasar SUV 4×4 di Indonesia itu kecil dan segmented.
Kecuali kalau BAIC punya strategi gila-gilaan seperti menyulap BJ40 jadi kendaraan wisata off-road resmi di destinasi wisata alam nasional, atau menjalin kerja sama erat dengan TNI/Polri, mereka bakal sulit menggeser nama-nama besar seperti Toyota Fortuner 4×4, Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4WD, atau bahkan Jeep Wrangler yang sudah punya penggemar setia.
Komitmen Investasi? Let’s See…
BAIC memang menyebut rencana jangka panjang untuk produksi model lain seperti BAIC BJ30 Hybrid, serta ekspor dari Indonesia ke negara lain.
Tapi perlu dicatat: banyak brand otomotif asing yang memulai dengan janji-janji seperti ini, dan sayangnya tidak semuanya bertahan lama.
Tanpa kejelasan roadmap TKDN, fasilitas produksi jangka panjang, dan data pasar yang realistis, bisa saja langkah BAIC ini hanya jadi bagian dari strategi masuk pasar dan memanfaatkan insentif pemerintah bukan visi besar membangun industri otomotif nasional yang mandiri.
Langkah Menarik, Tapi Masih Butuh Pembuktian
Peluncuran BJ40 Plus rakitan lokal ini jelas layak diberi apresiasi. Tapi jika dilihat lebih dalam, masih banyak pertanyaan besar:
- Komponen lokalnya mana?
- Target pasarnya realistis nggak?
- Ada roadmap ekspor yang konkret atau cuma janji?
- Benar-benar bangun ekosistem lokal atau hanya numpang assembling?
Untuk sekarang, BJ40 Plus lebih terasa sebagai mobil gimmick pencitraan industri daripada transformasi industri yang sesungguhnya. Tapi siapa tahu, kalau BAIC serius menindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret, mungkin beberapa tahun ke depan mereka bisa jadi game-changer.
Kalau kamu termasuk penggemar SUV 4×4 atau sekadar penasaran dengan strategi pabrikan China yang makin agresif di Indonesia, pantengin terus kiprah BAIC Indonesia.
Tapi kalau kamu cari mobil andalan buat harian? Mungkin pikir-pikir dulu sebelum ambil keputusan. BJ40 Plus belum tentu cocok buat semua orang. ****
- Penulis: Pandito

