Bahaya Kerikil Terselip Di Alur Ban
- account_circle Abimanyu
- calendar_month Jum, 26 Des 2025
- visibility 128

Bahaya Kerikil Terselip Di Alur Ban
Kerikil kecil di alur ban sering dianggap sepele. Padahal bisa merusak struktur ban dan memicu risiko pecah saat berkendara.
OTOExpo.com – Saat berkendara, terutama di jalan yang belum sepenuhnya beraspal, kita kerap melihat kerikil kecil terselip rapi di alur ban. Sekilas tampak sepele. Bahkan sering kali diabaikan, dianggap bagian dari “bonus perjalanan”.
Padahal, di balik ukurannya yang kecil, kerikil bisa menyimpan potensi bahaya besar. Bukan hanya untuk kenyamanan berkendara, tetapi juga untuk keselamatan dan usia pakai ban itu sendiri.
Ban adalah satu-satunya komponen kendaraan yang bersentuhan langsung dengan permukaan jalan. Ketika ada gangguan sekecil apa pun pada strukturnya, efeknya bisa terasa jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.
Desain alur ban memang dibuat untuk mencengkeram jalan, membuang air, dan menjaga traksi. Namun, alur inilah yang sering menjadi “rumah sementara” bagi batu-batu kecil, terutama saat kendaraan melewati:
-
Jalan tanah atau kerikil
-
Proyek perbaikan jalan
-
Bahu jalan berpasir
-
Area parkir dengan permukaan kasar
Semakin sering kendaraan melintasi kondisi tersebut, semakin besar kemungkinan kerikil terselip dan ikut berputar bersama roda dalam waktu lama.
Menurut Alam, pemilik toko ban di kawasan Senen, Jakarta Pusat, bahaya kerikil bukan pada ukurannya, melainkan pada tekanan yang terjadi secara terus-menerus.
“Walau hanya batu kecil, tapi kalau dibiarkan lama di alur ban, efeknya bisa serius. Ban itu terus berputar, batu menekan karet di titik yang sama berulang-ulang. Lama-lama struktur ban bisa rusak,” jelasnya.
Kerikil yang terselip akan terus menekan lapisan karet ban setiap kali roda berputar. Proses ini berjalan perlahan, nyaris tanpa disadari pemilik kendaraan.
Inilah yang membuat kerusakan akibat kerikil sering kali tidak terdeteksi hingga sudah terlambat.
Ban modern tidak hanya terbuat dari karet. Di dalamnya terdapat lapisan penting berupa:
-
Belt baja
-
Serat kawat
-
Lapisan penguat struktural
Ketika kerikil terus menekan satu titik tertentu, lapisan karet luar bisa terkikis dan robek. Jika sudah mencapai bagian dalam, serat kawat ban bisa terekspos.
Di sinilah masalah besar dimulai.
Saat serat kawat ban terbuka, risiko korosi meningkat drastis. Air menjadi pemicu utama, baik dari:
-
Air hujan
-
Genangan jalan
-
Air saat mencuci kendaraan
Kawat yang berkarat akan kehilangan kekuatannya. Struktur ban menjadi rapuh, dan daya tahannya menurun drastis. Ban yang tampak masih layak pakai dari luar, sebenarnya sudah menyimpan bahaya di dalam.
Efek jangka panjangnya bisa berupa:
-
Benjolan pada dinding ban
-
Kebocoran halus yang sulit terdeteksi
-
Hingga risiko terburuk: ban pecah saat kendaraan melaju
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menganggap masalah ini hanya berlaku pada ban tua atau ban bekas. Faktanya, ban baru sekalipun tidak kebal.
Kerikil adalah faktor eksternal yang tidak memandang usia ban. Jika dibiarkan terlalu lama, dampaknya akan tetap sama, hanya soal waktu.
“Ini bukan soal ban lama atau baru. Kalau serat kawat sudah kena dan berkarat, potensi kerusakan akan selalu ada,” tambah Alam.
Kabar baiknya, mencegah kerusakan akibat kerikil sebenarnya sangat mudah. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
-
Periksa alur ban secara berkala, terutama setelah melewati jalan rusak
-
Gunakan obeng kecil atau benda tumpul untuk mengeluarkan kerikil
-
Lakukan pengecekan ban saat mencuci kendaraan
-
Perhatikan bila ada bunyi asing dari roda saat berjalan pelan
Kebiasaan kecil ini bisa memperpanjang usia ban dan menjaga keselamatan berkendara.
Kerikil memang kecil. Tapi ketika dibiarkan bersarang terlalu lama, dampaknya bisa besar. Ban yang sehat bukan hanya soal tekanan angin atau kembangan tebal, tetapi juga tentang kondisi struktur di dalamnya.
Membersihkan kerikil dari alur ban adalah bentuk kepedulian kecil terhadap kendaraan, sekaligus perlindungan besar bagi diri sendiri dan penumpang.
Karena dalam dunia otomotif, sering kali bahaya terbesar datang dari hal-hal yang paling mudah diabaikan.
- Penulis: Abimanyu
- Editor: dimas lombardi

