Sepuluh Mobil Honda dari Berbagai Kota Siap Rebut Gelar Terfavorit
- account_circle Pandito
- calendar_month Senin, 10 Nov 2025
- visibility 182
- print Cetak

Sepuluh Mobil Honda Favorit dari Berbagai Kota Siap Rebut Gelar Terfavorit di Honda Culture Indonesia Vol.2
Sepuluh Mobil Honda dari Berbagai Kota Siap Rebut Gelar Terfavorit
Sepuluh Mobil Honda Favorit dari Berbagai Kota Siap Rebut Gelar Terfavorit di Honda Culture Indonesia Vol.2
OTOExpo.com , Jakarta – Aroma bensin, nostalgia, dan sedikit kebanggaan yang bercampur di udara. Honda Culture Indonesia Vol.2 akhirnya tiba di babak pamungkasnya: sepuluh mobil terbaik dari sepuluh kota siap tampil di Jakarta untuk memperebutkan gelar Most Favorite Honda.
Namun di balik cahaya lampu panggung dan gemerlap cat pernis yang berkilau, acara ini bukan sekadar kontes modifikasi. Ini semacam ritual sebuah perayaan kecil antara manusia, mesin, dan memori.
Honda Culture Indonesia Vol.2 melibatkan ratusan komunitas, dari Palembang hingga Manado, semuanya disatukan oleh satu nama: Honda.
Kompetisi “Favorite Car” di tiap kota, hasil kombinasi voting komunitas dan publik di Instagram @hondaisme, melahirkan sepuluh mobil terbaik.
Roadshow digelar sepanjang September–Oktober 2025, dan final akan berlangsung 15–16 November di Cibis Park, Jakarta.
Dari Palembang yang panas sampai Manado yang eksotis, dari Semarang yang klasik hingga Bali yang penuh gaya.
Mengapa: Karena di Indonesia, mobil bukan cuma kendaraan ia adalah kanvas untuk identitas.
Bagaimana: Melalui semangat “Menyala Sepanjang Masa”, Honda menghidupkan kembali kultur otomotif akar rumput yang selama ini tetap setia berdetak di garasi-garasi kecil.
Dari Brio hingga Estilo
Setiap kota punya kisahnya.
Dari Palembang, ada Brio yang seperti lampu disko berjalan RGB di mana-mana, dari kolong sampai speedometer. Lalu Bandung tampil kalem dengan Accord Gen 1 bergaya OEM, seolah berkata: “Gaya retro tak butuh teriak.”
Padang menampilkan Brio dengan suspensi udara dan audio sekelas kompetisi. Sedangkan dari Surabaya, Accord Maestro datang dalam warna “Red Devil Metallic”, diisi ECU Speeduino dan intake modifikasi — campuran antara darah JDM dan keberanian lokal.
Semarang membawa Civic ES dengan camber ekstrem dan knalpot Kansai; Samarinda menyodorkan Jazz dengan DNA Spoon yang kental; Bali tampil elegan lewat Civic D17 yang tetap nyaman dipakai harian tapi sudah berotot dengan piggyback Greddy dan cam Crower.
Dan mungkin yang paling menohok: Manado, lewat Civic Estilo K20A Type R yang dibungkus karbon dari kepala sampai kaki. Mesin Type R di bodi hatch 90-an seperti jiwa muda yang menolak menua.
Jakarta menutup daftar lewat Accord 2010 dengan air suspension dan bodykit custom. Mobil ini bukan sekadar sedan besar; ia jadi simbol kemewahan yang masih ingin “turun ke jalan”.
Antara Harga, Hasrat, dan Harapan
Lucunya, di tengah semua semangat itu, harga mobil-mobil ini tak lagi masuk akal.
Sebuah Civic Estilo K20A bisa menembus setara harga CR-V baru, sementara Brio street modded bisa menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk lampu, velg, dan audio.
Namun siapa peduli?
Karena seperti yang dikatakan Yusak Billy, Sales & Marketing and After Sales Operation Director PT Honda Prospect Motor,
“Melihat begitu banyak mobil Honda hadir di berbagai kota adalah bukti cinta sejati pengguna Honda — mereka tak hanya merawat, tapi mengekspresikan diri lewat kreativitas yang unik.”
Cinta, tentu saja, kadang memang tak rasional.
Antara Komunitas dan Industri
Secara industri, langkah Honda ini cerdas. Di saat banyak merek mobil mulai menjauh dari komunitas, Honda justru mendekat.
Event seperti ini adalah public relations yang hidup, di mana testimoni dan passion menggantikan iklan televisi.
Namun secara budaya, Honda Culture Indonesia Vol.2 punya makna yang lebih dalam. Ia menjadi semacam jembatan generasi antara pemilik Brio Gen Z dan penyuka Civic Estilo era 90-an. Di satu area parkir, mesin-mesin dari tiga dekade berbeda bisa hidup berdampingan tanpa ego.
Itulah yang membuat Honda berbeda: ia tak sekadar menjual mobil, tapi juga kenangan.
Ironi yang Indah
Namun di tengah segala kemeriahannya, ada ironi kecil yang patut diingat.
Sebagian besar mobil yang tampil adalah model lama hasil kerja keras, bukan hasil leasing baru. Sementara model-model baru Honda yang semakin canggih justru jarang disentuh dunia modifikasi.
Ini seperti pesan terselubung dari komunitas: Mereka merayakan masa lalu, karena masa depan terasa terlalu steril.
Tapi mungkin di situlah keindahannya.
Budaya modifikasi selalu lahir dari tangan-tangan yang menolak pasrah pada pabrikan. Dan di dunia yang makin dikendalikan teknologi, suara knalpot yang hidup dari hasil tangan sendiri terasa seperti bentuk terakhir dari kebebasan.

Sepuluh Mobil Honda Favorit dari Berbagai Kota Siap Rebut Gelar Terfavorit di Honda Culture Indonesia Vol.2
Pada akhirnya, Honda Culture Indonesia Vol.2 bukan sekadar kontes mencari mobil tercantik.
Ia adalah perayaan rasa, tempat di mana mesin tua, komunitas baru, dan cinta lama berbaur dalam satu ruang yang disebut “kultur”.
Entah siapa yang akan dinobatkan sebagai “Most Favorite Honda” di Jakarta nanti. Tapi yang pasti, semua peserta sudah menang karena mereka berhasil menjaga nyala kecil di hati setiap penggemar Honda: nyala yang, seperti tema tahun ini, menyala sepanjang masa.***
- Penulis: Pandito
- Editor: Dimas Lombardi
