Berita
light_mode
Beranda » Kendaraan » Rp6,7 Triliun Digelontorkan! Strategi Agresif Arriva Group Peremajaan Bus

Rp6,7 Triliun Digelontorkan! Strategi Agresif Arriva Group Peremajaan Bus

  • account_circle Abimanyu
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • visibility 1
  • comment 0 komentar
  • print Cetak
  • Arriva investasikan £340 juta untuk bus listrik dan depot ramah lingkungan di Inggris. Langkah besar menuju transportasi hijau, tapi ada tantangan serius.

 

OTOExpo.com , Jakarta – Transformasi transportasi publik di Inggris memasuki fase baru. Arriva Group resmi menggelontorkan investasi jumbo senilai 340 juta pound sterling setara lebih dari Rp6,7 triliun—untuk merombak armada bus dan infrastruktur depot mereka dalam 18 bulan ke depan.

Secara teknis, program ini bukan sekadar pembelian unit baru. Sebanyak 809 kendaraan akan diperbarui, termasuk pengadaan bus baru dan refurbish lebih dari 150 unit lama. Artinya, hampir 20 persen armada regional Arriva akan mengalami peremajaan dalam waktu relatif singkat angka yang cukup agresif untuk standar industri transportasi publik.

Tahap awal dimulai di West Yorkshire dengan 50 unit bus baru, terdiri dari single-deck dan double-deck berbasis platform produksi Alexander Dennis. Langkah ini menjadi pilot project sebelum ekspansi ke wilayah lain, termasuk London yang akan menerima sekitar 300 unit tambahan.

“Ini adalah awal transformasi besar yang akan meningkatkan kualitas layanan sekaligus mendukung target keberlanjutan,” ujar Martijn Gilbert.

Fokus utama investasi ini jelas: elektrifikasi. Lebih dari 50 persen armada baru akan menggunakan teknologi full electric, sementara sisanya masuk kategori low-emission. Dalam jangka pendek, Arriva menargetkan lebih dari 750 bus zero-emission beroperasi di Inggris.

Dari sisi teknologi, kehadiran bus listrik produksi Wrightbus, BYD, hingga kolaborasi Volvo Buses dengan MCV menunjukkan pendekatan multi-supplier. Ini penting untuk menjaga fleksibilitas supply chain sekaligus mempercepat adopsi teknologi.

Namun di balik ambisi besar tersebut, ada sejumlah tantangan teknis yang tidak kecil. Pertama adalah kesiapan infrastruktur depot. Elektrifikasi tidak hanya soal kendaraan, tetapi juga sistem charging berkapasitas besar yang membutuhkan investasi tambahan dan manajemen beban listrik yang kompleks.

Arriva memang mengalokasikan sekitar 30 juta pound untuk upgrade depot, termasuk konversi fasilitas di Thornton Heath, Dartford, hingga Leicester menjadi fully electric. Tapi pertanyaannya: apakah investasi ini cukup untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan energi?

Kedua, biaya operasional jangka panjang. Meski bus listrik menawarkan efisiensi energi, biaya awal (CAPEX) tetap jauh lebih tinggi dibanding diesel. Tanpa dukungan subsidi pemerintah atau skema insentif yang kuat, return on investment bisa menjadi tekanan finansial.

Ketiga, isu reliabilitas. Di beberapa pasar, bus listrik masih menghadapi tantangan seperti penurunan performa baterai dan keterbatasan jarak tempuh, terutama dalam kondisi operasional berat.

Rp6,7 Triliun Digelontorkan! Strategi Agresif Arriva Group Peremajaan Bus

Rp6,7 Triliun Digelontorkan! Strategi Agresif Arriva Group Peremajaan Bus

Meski begitu, langkah Arriva tetap menjadi sinyal kuat bahwa industri transportasi publik Eropa bergerak cepat menuju elektrifikasi. Selain menekan emisi, strategi ini juga membuka peluang diferensiasi layanan—mulai dari kenyamanan hingga efisiensi operasional.

Secara keseluruhan, investasi ini bukan sekadar ekspansi armada, melainkan reposisi bisnis. Arriva tidak hanya ingin menjadi operator transportasi, tetapi juga pemain utama dalam ekosistem mobilitas hijau.

Namun seperti banyak transformasi besar lainnya, keberhasilan program ini akan ditentukan oleh eksekusi di lapangan. Teknologi sudah siap, dana sudah ada—tantangannya kini ada pada integrasi, konsistensi, dan keberlanjutan operasional di dunia nyata.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Baca Juga

expand_less