Rp 9 Ribuan per Hari? Simulasi Biaya JAECOO Ini Bongkar Fakta Baru: Mobil Murah Beli Belum Tentu Murah Dipakai!
- account_circle dimas
- calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mulai Rp 9.000 per hari, Ini Biaya Operasional Harian JAECOO
OTOExpo.com , Jakarta – Kenaikan harga energi global mulai menggeser cara konsumen melihat kendaraan. Jika sebelumnya harga beli menjadi faktor utama, kini biaya operasional justru menjadi variabel yang lebih menentukan. Di titik inilah JAECOO mencoba memainkan narasi baru lewat simulasi biaya penggunaan harian.
Dengan asumsi penggunaan 1.500 km per bulan, JAECOO merilis angka yang terlihat “menggoda”: mulai dari Rp9.600 per hari untuk model listriknya. Namun, apakah angka ini benar-benar merepresentasikan kondisi riil di lapangan?
Model JAECOO J5 EV menjadi bintang utama dengan estimasi biaya energi sekitar Rp290 ribu per bulan. Dengan tarif listrik Rp1.700/kWh, angka ini memang terlihat sangat efisien.
Secara teknis:
-
Baterai: 60,9 kWh
-
Konsumsi energi: 8,77 kWh/100 km
-
Klaim jarak tempuh: hingga 534 km
Namun, ada beberapa variabel yang tidak muncul dalam simulasi:
-
Variasi tarif listrik (rumah vs SPKLU)
-
Efisiensi real-world (AC, macet, gaya berkendara)
-
Degradasi baterai jangka panjang
Artinya, angka Rp 9 ribuan per hari adalah best-case scenario, bukan angka rata-rata pengguna.
Untuk konsumen yang belum siap full EV, JAECOO J7 SHS-P dan JAECOO J8 SHS-P ARDIS ditawarkan sebagai solusi hybrid.
J7 SHS-P:
-
Konsumsi bensin: 35 km/l
-
Biaya bulanan: ± Rp486 ribu
J8 SHS-P ARDIS:
-
Konsumsi bensin: 23,7 km/l
-
Biaya bulanan: ± Rp584 ribu
Secara angka, memang lebih hemat dibanding SUV konvensional. Tapi perlu dicatat:
-
Konsumsi hybrid sangat tergantung pola penggunaan EV mode
-
Jika dominan bensin, efisiensi bisa turun signifikan
-
Harga BBM fluktuatif, berbeda dengan listrik yang relatif stabil
Dengan kata lain, hybrid bukan jaminan hemat, melainkan kompromi antara fleksibilitas dan efisiensi.
JAECOO menyebut mobil konvensional bisa menghabiskan Rp1,5–2 juta per bulan. Klaim ini valid untuk kondisi tertentu, namun terlalu general.
Faktor pembanding yang sering diabaikan:
-
Kapasitas mesin berbeda
-
Berat kendaraan
-
Pola penggunaan (dalam kota vs tol)
Jika dibandingkan dengan LCGC atau mobil kecil, gap efisiensi tidak akan sejauh itu.
Menurut Jim Ma, simulasi ini dibuat untuk membantu konsumen memahami biaya penggunaan. Secara konsep, ini langkah positif.
Namun secara kritis, simulasi ini juga berfungsi sebagai:
-
Alat framing persepsi efisiensi
-
Menarik konsumen ke arah elektrifikasi
-
Menggeser fokus dari harga beli ke biaya pakai
Strategi ini lazim di industri global, terutama saat transisi menuju kendaraan elektrifikasi.
Di luar soal efisiensi, JAECOO juga memperkuat fondasi dengan 25 dealer di Indonesia. Dari sisi data, performanya cukup agresif dengan distribusi ribuan unit berdasarkan data GAIKINDO.
Namun tantangan utamanya tetap:
-
Kepercayaan konsumen terhadap brand baru
-
Kesiapan infrastruktur charging
-
Nilai jual kembali (resale value)
Simulasi biaya operasional JAECOO membuka perspektif baru: biaya kendaraan tidak berhenti di harga beli. Namun angka yang ditampilkan perlu dibaca dengan konteks.
EV memang menawarkan efisiensi tinggi, tapi:
-
Bergantung pada pola penggunaan
-
Dipengaruhi infrastruktur
-
Memiliki variabel tersembunyi
Sementara hybrid menjadi solusi transisi, tetapi bukan jawaban mutlak.
Di tengah perubahan industri otomotif, satu hal menjadi jelas: yang terlihat murah di awal, belum tentu paling efisien dalam jangka panjang, dan sebaliknya.
- Penulis: dimas
- Editor: Dimas Lombardi

Saat ini belum ada komentar