Penjualan Mobil Listrik Melejit 141 Persen di 2025
- account_circle Selviyani Mimie
- calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
- visibility 114
- comment 0 komentar
- print Cetak

DENZA Hadir Pertama Kali Di Gelaran Pameran Otomotif IIMS 2025
Penjualan Mobil Listrik Melejit 141 Persen di 2025
Penjualan mobil listrik di Indonesia melonjak 141 persen sepanjang 2025 menurut Gaikindo. Namun, produksi lokal masih tertinggal dan pasar masih didominasi impor CBU
OTOExpo.com , Jakarta – Pasar mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif sepanjang 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan BEV dari pabrik ke diler (wholesales) melonjak tajam hingga 141 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara volume, penjualan mobil listrik murni meningkat dari 43.188 unit pada 2024 menjadi 103.931 unit di 2025. Dengan capaian tersebut, kontribusi BEV terhadap total pasar mobil nasional kini telah menembus lebih dari 12 persen, sebuah lompatan signifikan yang menegaskan bahwa elektrifikasi mulai diterima secara luas oleh konsumen Indonesia.
Lonjakan ini juga mencerminkan perubahan preferensi pasar, di mana mobil listrik tak lagi dipandang sebagai produk niche, melainkan mulai menjadi pilihan utama, terutama di segmen perkotaan.
Namun di balik pertumbuhan penjualan yang impresif, terdapat tantangan serius di sisi hulu industri. Gaikindo mencatat, produksi mobil listrik BEV di Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 hanya mencapai 24.727 unit. Angka ini justru mengalami penurunan sekitar 4 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang berada di level 25.861 unit.

vinfast booth at GIIAS
Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mobil listrik yang beredar di pasar domestik masih berasal dari impor utuh atau completely built up (CBU). Kapasitas produksi lokal dinilai belum mampu mengejar lonjakan permintaan yang terjadi dalam waktu relatif singkat.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa ekosistem industri BEV nasional masih membutuhkan percepatan, baik dari sisi investasi pabrik, rantai pasok komponen, maupun dukungan kebijakan yang lebih agresif.
Segmen Hybrid dan PHEV
Selain BEV, kendaraan elektrifikasi lain juga mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang 2025. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) tercatat mengalami kenaikan penjualan sekitar 10 persen, dari 59.903 unit pada 2024 menjadi 65.943 unit di 2025.
Sementara itu, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) menjadi segmen dengan pertumbuhan persentase tertinggi. Penjualannya melonjak hingga 3.775 persen, dari hanya 136 unit menjadi 5.270 unit. Meski secara volume masih relatif kecil, lonjakan ini menunjukkan meningkatnya minat pasar terhadap kendaraan elektrifikasi dengan fleksibilitas dua sumber tenaga.
Menariknya, tren produksi kendaraan elektrifikasi justru lebih kuat di segmen hybrid. Sepanjang 2025, produksi mobil hybrid di dalam negeri tumbuh 38 persen menjadi 97.462 unit, naik signifikan dari 70.621 unit pada 2024.
Pertumbuhan ini mencerminkan strategi pabrikan yang melihat hybrid sebagai tahap transisi paling realistis menuju elektrifikasi penuh. Infrastruktur yang belum sepenuhnya matang serta kekhawatiran konsumen terhadap jarak tempuh BEV membuat hybrid masih menjadi solusi kompromi yang aman bagi pasar Indonesia.

Sementara itu, produksi PHEV juga mulai terealisasi dengan total 6.024 unit sepanjang 2025, setelah pada tahun-tahun sebelumnya belum mencatatkan produksi sama sekali.
Ini menjadi sinyal positif bahwa industri otomotif nasional mulai menyiapkan portofolio elektrifikasi yang lebih beragam.
Di sisi lain, kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) terus mengalami tekanan. Penjualan mobil Low Cost Green Car (LCGC) sepanjang 2025 tercatat turun tajam 31 persen menjadi 122.686 unit.
Sementara itu, mobil konvensional non-LCGC juga mengalami penurunan 14 persen, dengan wholesales hanya mencapai 505.857 unit. Penurunan ini memperkuat indikasi bahwa pasar otomotif nasional sedang berada dalam fase transisi besar menuju elektrifikasi.
Secara keseluruhan, data Gaikindo menunjukkan bahwa arah industri otomotif Indonesia semakin condong ke elektrifikasi, dengan BEV sebagai pendorong utama pertumbuhan.
Namun, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan keseimbangan antara permintaan dan produksi lokal, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis manufaktur kendaraan listrik yang kuat.
Jika investasi dan kebijakan dapat berjalan seiring, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, produksi BEV lokal akan mampu mengejar bahkan melampaui laju pertumbuhan pasar.
- Penulis: Selviyani Mimie
- Editor: Dimas Lombardi
