News
light
Beranda » National » Mazda Membaca Arah Angin Strategi Sunyi di Tengah Dinamika Pasar Otomotif Nasional Menuju 2026

Mazda Membaca Arah Angin Strategi Sunyi di Tengah Dinamika Pasar Otomotif Nasional Menuju 2026

  • account_circle Abimanyu
  • calendar_month Rab, 17 Des 2025
  • visibility 86

Mazda Membaca Arah Angin Strategi Sunyi di Tengah Dinamika Pasar Otomotif Nasional Menuju 2026

Pandangan Strategis Mazda Terhadap Dinamika Pasar Otomotif Nasional dan Arah Produk 2026

 

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Memasuki penghujung 2025, lanskap otomotif Indonesia tidak sedang diam. Ia bergerak pelan, namun sarat makna. Data demi data menunjukkan bahwa pasar tak lagi sekadar berbicara soal volume, melainkan pergeseran cara berpikir konsumen.

Laporan GAIKINDO Q3 2025 serta analisis PwC Indonesia (2025) membaca pola yang sama: beberapa segmen melemah, sebagian lain bertahan, dan segelintir justru menunjukkan resiliensi. Di tengah arus ini, Mazda memilih tidak melawan ombak—melainkan membaca arah angin.

Bagi Mazda, perubahan ini bukan alarm, melainkan sinyal untuk bersikap lebih presisi.

Menurut Ricky Thio, Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, dinamika pasar hari ini menegaskan bahwa keputusan membeli mobil telah menjadi multidimensional.

“Di Indonesia, mobil masih dipandang sebagai means of mobility. Namun di saat yang sama, banyak konsumen melihat mobil sebagai cara untuk enrich the quality of life. Sejalan dengan filosofi Mazda: the joy of driving may create the joy of living,” jelasnya.

Di titik inilah Mazda memposisikan diri. Tidak menafikan logika, tetapi juga tidak mengorbankan rasa. Rasionalitas dan aspirasi emosional berjalan beriringan bukan saling meniadakan.

Data internal menunjukkan bahwa pada Oktober 2025, Mazda hanya mengalami koreksi 0,12% market share. Angka ini relatif stabil jika dibandingkan dengan beberapa pabrikan Jepang lain yang terkoreksi hingga 2–3%, bahkan kontraksi retail 39–44% di segmen tertentu.

Sebaliknya, Mazda berada di kisaran 29%, ditopang oleh performa konsisten Mazda CX-5, Mazda CX-3, dan Mazda3 Hatchback—model-model yang dikenal karena keseimbangan desain, kualitas, dan karakter berkendara.

“Emotional appeal adalah kekuatan kami. Konsumen tidak hanya membeli dengan logika, tetapi juga dengan cinta,” ungkap Ricky.

Mazda memahami bahwa konsumen Indonesia kini semakin rasional. Total Ownership Cost (TOC), mulai dari biaya servis, perawatan, administrasi, hingga resale value—menjadi fondasi utama pengambilan keputusan.

Namun TOC bukan satu-satunya faktor. Ada lapisan lain yang tak tercatat di tabel biaya: reliabilitas, efisiensi, keamanan, kenyamanan, dan koneksi emosional antara pengemudi dan kendaraan.

Mazda Membaca Arah Angin Strategi Sunyi di Tengah Dinamika Pasar Otomotif Nasional Menuju 2026

Mazda Membaca Arah Angin Strategi Sunyi di Tengah Dinamika Pasar Otomotif Nasional Menuju 2026

Di sinilah filosofi KODO Design dan Jinba Ittai berbicara. Mazda memandang mobil bukan sekadar alat transportasi, melainkan partner perjalanan.

“Beauty is universal. Emosi dalam desain adalah bahasa yang dipahami semua orang,” kata Ricky.

Mazda tidak mengabaikan fitur dan efisiensi, tetapi menambahkan emotional value sebagai pembeda—lapisan yang baru terasa ketika kebutuhan rasional sudah terpenuhi.

Menatap 2026, Mazda memilih optimisme yang realistis. Semester pertama diperkirakan stabil, sementara akselerasi berpotensi terjadi di semester kedua, dengan prasyarat utama: stabilitas sosial, birokrasi yang lebih adaptif, dan ekosistem industri yang kolaboratif.

“Kurva daya beli diharapkan kembali naik. Dengan ekosistem yang sehat, industri akan menemukan momentumnya,” ujar Ricky.

Strategi Mazda ke depan akan semakin tersegmentasi dan presisi, menyasar konsumen yang menghargai kenyamanan berkendara, kebanggaan desain, dan pengalaman emosional dalam kepemilikan mobil.

Selaras dengan preferensi pasar Indonesia, Mazda mengonfirmasi bahwa mayoritas model baru di 2026 akan berada di segmen SUV—tanpa meninggalkan DNA berkendara khas Mazda.

Di luar produk, Mazda juga menegaskan komitmen jangka panjang melalui pembangunan Training Center baru, memperkuat ekosistem dari hulu ke hilir: penjualan, layanan purna jual, hingga kualitas interaksi dengan pelanggan.

“Training Center ini adalah bukti bahwa Mazda hadir bukan hanya sebagai brand, tetapi sebagai ekosistem,” tegas Ricky.

Di tengah pasar yang kian value competitive, Mazda memilih berdiri di persimpangan antara logika dan rasa. Menggabungkan rasionalitas TOC dan aftersales dengan keindahan desain serta kenikmatan berkendara, Mazda merajut identitas yang semakin relevan bagi konsumen Indonesia.

Bagi Mazda, masa depan otomotif nasional bukan hanya tentang teknologi atau volume penjualan. Ia didefinisikan oleh hubungan emosional, kualitas yang terasa, dan pengalaman berkendara yang hidup, di mana mobil bukan sekadar dimiliki, tetapi dirasakan.****

  • Penulis: Abimanyu

✈︎ Random Artikel

expand_less