News
light
Beranda » Kendaraan » Masa Depan Skuter Listrik Indonesia Peluang Besar VinFast di Pasar Roda Dua

Masa Depan Skuter Listrik Indonesia Peluang Besar VinFast di Pasar Roda Dua

  • account_circle dimas
  • calendar_month Jum, 19 Des 2025
  • visibility 72

Masa Depan Skuter Listrik Indonesia Peluang Besar VinFast di Pasar Roda Dua

MENGINTIP MASA DEPAN RODA DUA INDONESIA DAN PELUANG VINFAST DI SKUTER LISTRIK

 

 

OTOExpo.com. Jakarta –  Di antara deru mesin, kilau baja, dan aroma optimisme industri, peresmian pabrik VinFast di Subang bukan sekadar seremoni. Ia adalah penanda zaman. Sebuah garis waktu baru yang ditarik rapi, menautkan masa depan otomotif Indonesia dengan arus besar elektrifikasi global.

Pabrik yang dibangun hanya dalam 17 bulan ini memang disiapkan sebagai basis produksi mobil listrik. Namun, di balik agenda resmi dan pidato seremonial, terselip satu sinyal penting: VinFast akan mulai memproduksi skuter listrik di Indonesia mulai tahun depan. Sebuah kalimat singkat, namun bobot maknanya panjang sepanjang jalanan kota hingga gang-gang sempit yang menjadi nadi mobilitas masyarakat.

Ini bukan sekadar soal produk baru. Ini tentang membaca arah zaman.

Indonesia bukan hanya pasar kendaraan roda dua. Ia adalah ekosistem. Sepeda motor bukan barang konsumsi semata, melainkan perpanjangan dari kehidupan sehari-hari: alat bekerja, sarana belajar, hingga tulang punggung ekonomi keluarga.

Dari pusat kota Jakarta hingga pelosok daerah, motor menjadi solusi mobilitas paling masuk akal murah, lincah, dan adaptif. Tak heran jika lebih dari 78 persen pengiriman kendaraan roda dua masih didominasi motor konvensional berbahan bakar bensin.

Namun, di balik dominasi itu, perubahan tengah bergerak pelan tapi pasti.

Skuter listrik, yang dulu dipandang sebagai eksperimen mahal, kini mulai menemukan tempat. Insentif pemerintah, naiknya harga BBM, hingga kesadaran akan kualitas udara, perlahan menggeser persepsi publik. Kendaraan listrik roda dua tidak lagi sekadar “alternatif”, tetapi mulai dipertimbangkan sebagai alat transportasi harian.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius: 13 juta sepeda motor listrik pada 2030. Payung hukumnya jelas, dari subsidi pembelian, insentif pajak, hingga kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Memang, implementasinya belum sepenuhnya mulus. Infrastruktur pengisian daya masih bertumbuh, dan adopsi belum merata. Namun, satu hal tak terbantahkan: arah kebijakan sudah terkunci. Elektrifikasi bukan wacana, melainkan tujuan jangka panjang.

Di kota-kota dengan regulasi emisi lebih ketat, biaya kepemilikan skuter listrik kini mulai mendekati—bahkan menyalip—motor bensin. Titik keseimbangan ekonomi itu menjadi alasan mengapa produsen global mulai memandang Indonesia dengan kacamata berbeda.

Bagi VinFast, skuter listrik bukan wilayah asing. Di Vietnam, lini kendaraan roda dua listrik justru menjadi mesin pertumbuhan tercepat. Dalam waktu kurang dari satu tahun, penjualan hampir menyentuh 400 ribu unit—lonjakan ratusan persen yang sulit diabaikan.

Keberhasilan tersebut bukan kebetulan. VinFast membangun pendekatan menyeluruh: jaringan distribusi masif, layanan purna jual agresif, solusi pengisian daya, hingga skema pembiayaan yang membumi.

Pendekatan inilah yang berpotensi direplikasi di Indonesia bukan dengan menyalin mentah-mentah, melainkan dengan adaptasi lokal.

Produksi skuter listrik di pabrik Subang membuka babak baru. Skuter listrik adalah kendaraan volume: dipakai setiap hari, diisi daya setiap malam, dan dirawat di bengkel lokal. Ia bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, dari pelajar hingga pelaku UMKM.

Dengan produksi lokal, VinFast dapat:

  • Menekan biaya produksi dan harga jual

  • Memenuhi regulasi TKDN

  • Mengembangkan model yang sesuai kondisi jalan dan daya beli lokal

Secara realistis, kisaran harga skuter listrik VinFast yang diproduksi lokal diperkirakan akan bermain di rentang Rp18 juta hingga Rp30 jutaan, tergantung kapasitas baterai dan spesifikasi. Angka ini menempatkannya langsung berhadapan dengan motor konvensional populer.

Seorang analis otomotif menyebutkan,

“Jika VinFast mampu menjaga harga kompetitif dan layanan purna jual solid, skuter listrik bisa menjadi pintu masuk elektrifikasi paling efektif di Indonesia.”

VinFast tidak datang sendirian. Sejak awal masuk ke Indonesia, mereka membangun ekosistem: dealer, pusat layanan, infrastruktur pengisian daya bersama V-Green, hingga kolaborasi pembiayaan dengan institusi keuangan.

Artinya, ketika skuter listrik VinFast mulai mengaspal, ia tidak berdiri sebagai produk tunggal. Ia hadir sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung—produk, infrastruktur, layanan, dan pembiayaan berjalan beriringan.

Inilah pendekatan yang membedakan antara sekadar “menjual motor” dan membangun kebiasaan mobilitas baru.

Di Asia Tenggara, ratusan juta orang menggantungkan hidup pada kendaraan roda dua. Mengubah pola mobilitas di segmen ini berarti menyentuh inti kehidupan masyarakat.

Bagi VinFast, skuter listrik bukan hanya lini produk tambahan. Ia adalah strategi. Cara paling nyata untuk menghadirkan mobilitas bersih yang terjangkau, terlihat, dan digunakan setiap hari.

Indonesia, dengan skala pasar besar dan arah kebijakan yang semakin tegas, berpotensi menjadi panggung pembuktian berikutnya. Pabrik Subang telah berdiri. Jalur produksi siap. Ekosistem perlahan terbentuk.

Penyebutan skuter listrik dalam peresmian pabrik—bukan dalam acara peluncuran produk menjadi pesan tersirat bahwa VinFast sedang berpikir jauh ke depan.

Bukan sekadar menutup tahun 2025, melainkan membuka babak baru perjalanan elektrifikasi roda dua Indonesia.***

  • Penulis: dimas
  • Editor: Dimas Lombardi

✈︎ Random Artikel

expand_less