Kolaborasi Honda dan Hayomoto, Ketika Fotografi Bertemu Budaya Otomotif
- account_circle dimas
- calendar_month Senin, 10 Nov 2025
- visibility 186
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kolaborasi Honda dan Hayomoto, Ketika Fotografi Bertemu Budaya Otomotif
Kolaborasi Honda dan Hayomoto, Ketika Fotografi Bertemu Budaya Otomotif
Honda Gandeng Komunitas Fotografi Hayomoto, Tampilkan Karya Terbaik dari Roadshow Honda Culture di 10 Kota Indonesia
OTOExpo.com, Jakarta – Kolaborasi Honda x Hayomoto bukan sekadar acara dokumentasi, tapi juga eksperimen sosial.
Dalam dunia otomotif yang makin sibuk bicara tentang elektrifikasi dan efisiensi, Honda memilih langkah yang… agak manusiawi.
Alih-alih memamerkan mobil konsep futuristik di panggung besar, mereka justru menggandeng komunitas fotografi Hayomoto, menelusuri kota demi kota, menangkap bukan hanya bentuk, tapi juga jiwa dari budaya berkendara yang telah mereka bangun selama puluhan tahun.
Inilah Honda Culture Indonesia Vol.2 Roadshow, yang berlangsung sepanjang September hingga Oktober 2025 sebuah perjalanan lintas 10 kota yang berujung bukan pada sekadar peluncuran mobil, melainkan pada perayaan visual tentang hubungan manusia, mesin, dan waktu.
Ketika Budaya Berkendara Menjadi Objek Seni
Kolaborasi ini melahirkan kompetisi bertajuk “Through the Years, Through The Lens”, sebuah ungkapan yang terdengar seperti puisi mekanis bagaimana kamera dan mesin saling bercermin, saling bercerita tentang perjalanan hidup.

Kolaborasi Honda dan Hayomoto, Ketika Fotografi Bertemu Budaya Otomotif
Dari ribuan kilometer yang ditempuh dan ribuan jepretan yang diambil, terkumpul lebih dari 200 karya hasil bidikan 100 fotografer anggota komunitas Hayomoto.
“Honda bukan hanya tentang mesin, tapi tentang orang-orang dan kisah yang mereka bawa di dalam mobilnya,”
ujar Yulian Karfili, Communication Strategy Sub-Division Head PT Honda Prospect Motor.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di baliknya ada pengakuan penting: brand yang kuat bukan lagi soal horsepower, melainkan heart-power daya hidup dari komunitas yang percaya dan tumbuh bersama.
Kreativitas yang Melintasi Generasi
Hayomoto, komunitas fotografi yang didirikan oleh Martha Suherman pada 2018, punya filosofi yang mirip dengan Honda: inklusif, penuh rasa ingin tahu, dan tak mengenal batas usia atau kota.
“Hayomoto itu bukan cuma soal kamera,” kata Martha. “Tapi tentang bagaimana kita memotret kehidupan yang sedang bergerak.”
Maka, tak heran jika kolaborasi ini terasa alami.
Sepanjang roadshow di 10 kota besar Indonesia, mereka bukan hanya memotret deretan mobil Honda — dari Civic lawas hingga ZR-V terbaru tetapi juga merekam ekspresi penggemar, anak muda, keluarga, dan komunitas yang sudah melekat dengan logo huruf “H” itu.
Dan dari ribuan potret itu, 30 finalis terbaik terpilih dan diumumkan pada 8th Anniversary Hayomoto di Tangerang Selatan, 9 November 2025.
Karya-karya itu akan kembali tampil di panggung puncak Honda Culture Indonesia di CIBIS Park, Jakarta (15–16 November 2025), bersama workshop fotografi, pameran komunitas, dan beragam kompetisi online-offline.
Lebih dari Sekadar Pameran Foto
Honda seolah sedang membangun narasi baru: bahwa brand culture tak lagi hanya bisa ditulis oleh tim marketing, melainkan juga oleh para penggemarnya sendiri.
Foto-foto karya Hayomoto menjadi audiovisual diary dari pengalaman Honda — bukan yang disusun oleh korporasi, tapi oleh masyarakat.
Ada potret Honda Jazz dengan latar senja di Makassar, ada juga CR-V tua di parkiran rumah di Bandung, dan ada pula Brio RS yang dihias stiker komunitas di Surabaya.
Setiap gambar seperti menyimpan cerita kecil: tentang perjalanan, persahabatan, dan kenangan yang menempel di jok belakang.
“Kreativitas tidak boleh dibatasi oleh genre, kota, atau usia,” ujar Martha Suherman. “Honda Culture dan Hayomoto punya kesamaan: keduanya mempertemukan banyak cerita di satu ruang besar bernama komunitas.”
Kata “komunitas” di sini bukan basa-basi. Ia adalah jantung dari strategi Honda Prospect Motor dalam menjaga hubungan dengan publik cara yang lembut namun efektif untuk merawat keakraban di tengah kompetisi yang semakin dingin dan digital.
Dari Mesin ke Manusia
Mari jujur: ini bukan hanya perayaan seni, tapi juga strategi branding yang halus. Dalam dunia otomotif yang kini dikuasai algoritma dan engagement rate, Honda justru memilih mengajak orang melihat bukan sekadar membeli.
Foto-foto itu menjadi narasi visual tentang apa artinya menjadi bagian dari “keluarga besar Honda”. Setiap potret menjadi bukti bahwa kultur otomotif Indonesia tidak mati ia hanya berubah bentuk, dari arena drag race menjadi galeri fotografi, dari knalpot bising menjadi karya visual yang hening tapi bermakna.
Honda Culture
Puncak acara di CIBIS Park, Jakarta, nanti tak hanya menjadi tempat pamer karya, tapi juga ritual budaya baru: di mana mobil, kamera, dan manusia berdiri sejajar, berbagi ruang dan semangat yang sama.
Honda menyebut semangat ini sebagai “Menyala Sepanjang Masa.” Dan mungkin benar karena bahkan setelah mesin dimatikan, rasa yang ditinggalkan oleh mobil-mobil Honda tetap hidup di ingatan, di foto, dan di kisah yang terus dituturkan ulang.
Di Balik Lensa dan Logo
Kolaborasi Honda x Hayomoto bukan sekadar acara dokumentasi, tapi juga eksperimen sosial bagaimana merek besar membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut menulis sejarahnya sendiri.
Dalam setiap foto yang diambil, ada percakapan diam antara manusia dan mesin. Dan di situ, Honda tampak berhasil menyampaikan pesan yang lebih jujur daripada seribu tagline:
“Kami bukan hanya menjual mobil. Kami menjual rasa — yang tetap hidup bahkan setelah kendaraan berhenti.”
- Penulis: dimas
- Editor: dimas lombardi
