GWM ORA 03 vs MG 4 EV, Binguo EV, dan Dolphin Tampil Beda Saja Nggak Cukup
- account_circle dimas
- calendar_month Jum, 11 Jul 2025
- visibility 147

GWM ORA 03 vs MG 4 EV, Binguo EV, dan Dolphin Tampil Beda Saja Nggak Cukup
OTOExpo.com , Jakarta – Pasar mobil listrik Indonesia makin ramai dan makin tidak terduga. Merek-merek China berlomba-lomba menghadirkan EV yang bukan cuma irit dan ramah lingkungan, tapi juga penuh fitur dan yang terpenting murah meriah.
Di tengah pertarungan ini, GWM ORA 03 hadir dengan pendekatan yang berbeda: tampil unik, retro, dan sedikit lebih “premium” dari saudara-saudara senegaranya.
Tapi pertanyaannya, cukupkah tampil beda untuk menang? Apalagi kalau rival seperti MG 4 EV, Wuling Binguo EV, dan BYD Dolphin mulai main harga dan fitur secara agresif.
Desain: ORA 03 Paling Nyentrik, Binguo Paling Imut
Kalau urusan mencuri perhatian, ORA 03 jelas juara. Desainnya retro-modern ala Beetle memang memecah kebuntuan di jalanan yang penuh mobil berwajah kloning.
Tapi desain seperti ini juga sangat segmented nggak semua orang nyaman pakai mobil yang terlalu nyentrik setiap hari.

Wuling Binguo tampil lebih kalem, tapi tetap imut dan menggemaskan. Cocok buat pengguna urban, khususnya anak muda dan pengemudi perempuan.
Sedangkan MG 4 EV dan BYD Dolphin mengambil jalur futuristik-sporty yang aman, tapi tetap sedap dipandang.
Pemenangnya? Subjektif. Tapi MG 4 dan Dolphin terasa lebih fleksibel diterima berbagai kalangan.
Performa: MG 4 EV di Atas Angin
Kalau bicara soal tenaga dan fun to drive, MG 4 EV tidak ada lawan. Mobil ini mengusung motor listrik bertenaga 170 PS dengan torsi 250 Nm dan rear-wheel drive.
Akselerasinya responsif, bahkan nyaris brutal kalau pedal ditekan dalam-dalam. Cocok buat mereka yang ingin EV rasa “hot hatch”.
ORA 03? Lebih santai. GWM sengaja membuatnya lebih kalem agar mirip rasa mobil bensin. Masalahnya, buat penggemar EV, justru “rush” dari akselerasi spontan itu yang dicari.

BYD Dolphin hadir di tengah-tengah: tidak sebrutal MG, tapi juga tidak sejinak ORA 03. Binguo jadi yang paling lemah tenaganya, tapi ia juga tidak menjual performa melainkan gaya dan efisiensi.
Fitur
Secara fitur, keempatnya cukup lengkap. ORA 03 punya ADAS level 2, 15 fitur bantu pengemudi, 5 mode berkendara, dan 3 mode setir. Lengkap banget.
Tapi sayangnya, belum semua fitur itu benar-benar relevan untuk jalanan Indonesia.
MG 4 dan BYD Dolphin juga sudah dilengkapi fitur keselamatan aktif (lane assist, cruise control, braking assist, dll).
Bedanya, kedua brand ini sudah mulai teruji di lebih banyak pengguna, lebih banyak skenario jalanan.
Binguo? Fitur minim. Tapi ya, Wuling sejak awal memang tidak menjual mimpi teknologi. Mereka fokus ke mobil EV urban yang simpel dan accessible. Harganya pun jadi paling bersahabat.
Kenyamanan
Soal kenyamanan, ORA 03 unggul dalam hal ergonomi kursi dan visibilitas. Posisi duduk enak, kabin luas untuk kelasnya, dan cukup senyap.
Tapi sayangnya, akselerasi yang dibuat terlalu “jinak” membuat pengalaman berkendara jadi hambar. Suspensinya juga agak keras.

BYD Dolphin menawarkan kenyamanan yang lebih berimbang. Tidak selembut sedan, tapi cukup nyaman untuk harian.
MG 4 sedikit lebih keras, karena memang tuning-nya ke arah sport.
Binguo? Jujur saja, terasa kecil dan tidak cocok untuk perjalanan jauh. Tapi di dalam kota, dia yang paling lincah dan mudah diparkir.
Harga: Inilah Perang Sebenarnya
Sekarang masuk ke zona paling menentukan: harga.
- Wuling Binguo EV: Rp 310–345 jutaan
- BYD Dolphin: Rp 369 – 429 jutaan
- MG 4 EV: Rp 299 – 340 jutaan
- GWM ORA 03: Rp. 379 Jutaan
GWM ORA 03 Perlu Lebih dari Sekadar Gaya
GWM ORA 03 adalah EV yang menarik, berani beda, dan membawa pendekatan desain yang menyegarkan. Tapi sayangnya, di tengah kompetisi brutal pasar EV, tampil nyentrik saja tidak cukup.
Pengguna mobil listrik semakin cerdas, dan mereka menilai lebih dari sekadar gaya.
- MG 4 EV menang performa.
- BYD Dolphin menang keseimbangan.
- Binguo menang di value for money.
- ORA 03? Masih harus membuktikan bahwa desain unik dan fitur segunung itu bisa benar-benar relevan di jalanan Indonesia.
Kalau tidak, ia hanya akan jadi EV yang sering dipotret di Instagram, tapi jarang benar-benar dipakai keluar kota. ****
.
.
.
.
.
- Penulis: dimas

