Ducati MX Team Indonesia Turun di Kejurnas Motocross 2025
- account_circle Magoh
- calendar_month Sab, 8 Nov 2025
- visibility 115

Ducati MX Team Indonesia Siap Berlaga di Kejurnas Motocross 2025 Semarang Bersama Diva Ismayana dan Hilman Maksum
Ducati MX Team Indonesia Turun di Kejurnas Motocross 2025
Ducati MX Team Indonesia Siap Berlaga di Kejurnas Motocross 2025 Semarang Bersama Diva Ismayana dan Hilman Maksum
OTOExpo.com , Semarang – Siapa sangka nama Ducati, yang selama ini identik dengan aspal panas dan aroma premium dari lintasan superbike Eropa, kini turun menjejak tanah merah Semarang.
Ya, benar. Ducati Indonesia akhirnya benar-benar “turun ke lumpur” lewat Ducati MX Team Indonesia, tim motocross resmi yang siap bertarung di Kejurnas Motocross 2025, 8–9 November mendatang.
Langkah ini bukan sekadar strategi marketing. Ini pernyataan berani bahwa merek yang biasa bicara kecepatan, presisi, dan desain elegan kini siap menghadapi brutalnya lintasan tanah dengan jantung baru: Desmo450 MX.
Ducati MX Team Indonesia
Ducati Indonesia memperkenalkan Ducati MX Team Indonesia sebagai bukti nyata bahwa brand asal Italia ini tidak hanya bermain di jalur aspal, tapi juga mengeksplorasi dunia offroad.
Tim ini menurunkan dua pembalap andalan:
-
Diva Ismayana (#26), salah satu rider muda paling konsisten di kancah motocross nasional.
-
Hilman Maksum (#24), pembalap berpengalaman yang dikenal dengan gaya agresif namun halus dalam pengendalian motor.
Dibawah arahan Johny Pranata sebagai Team Manager, keduanya akan menunggangi Desmo450 MX, motor motocross yang membawa DNA Desmodromic Valve System khas Ducati teknologi yang selama ini mendominasi MotoGP dan superbike global.
Lintasan Tanah Semarang, Ajang Pembuktian Nyata
Arena Kejurnas Motocross 2025 di Semarang bukan lintasan main-main.
Tanjakan curam, tikungan buta, dan jalur penuh batu membuatnya menjadi “neraka kecil” bagi motor dan pengendaranya.
Bagi Ducati, inilah uji nyali sejati bukan tentang siapa tercepat, tapi siapa yang paling tangguh.
Setelah mencicipi ajang di Solo, Pasuruan, dan Bali, Ducati kini menatap Semarang sebagai babak pembuktian final di kalender nasional. Di sini, branding mewah tak banyak membantu. Yang dibutuhkan hanyalah tenaga, traksi, dan ketahanan mental.
Johny Pranata, sang Team Manager, dengan nada realistis mengatakan:
“Kami ingin menunjukkan bahwa Ducati bukan hanya kuat di aspal, tapi juga siap menantang dunia motocross. Ini adalah bentuk evolusi dari semangat balap kami.”
Sementara Diva Ismayana, dengan mata tajam khas pembalap muda yang haus podium, menyampaikan:
“Fisik, mental, dan motor sudah di titik maksimal. Saya mau nikmati setiap momen, tetap fokus, dan targetnya jelas: podium pertama.”
Hilman Maksum tak kalah tenang:
“Kami belajar memahami karakter Desmo450 MX, terutama bagaimana menjaga ritme di lintasan yang berubah-ubah. Di motocross, stabilitas dan kontrol itu segalanya.”
Kata-kata yang tenang, tapi di baliknya tersimpan adrenalin yang akan menggelegar di tanah Semarang.
Kejurnas Motocross 2025
Kejurnas Motocross 2025 menjadi momen penting bagi Ducati Indonesia.
Setelah bertahun-tahun dikenal lewat Panigale, Multistrada, dan Monster, mereka akhirnya merambah ranah motorsport grassroots dunia yang jauh dari glamor, tapi justru paling dekat dengan semangat murni balap.
Tahun 2025 juga menjadi momen ideal karena tren motocross nasional sedang menanjak. Banyak produsen Jepang seperti Honda, Yamaha, dan Kawasaki semakin agresif menggarap segmen offroad.
Ducati datang bukan untuk sekadar numpang nama, tapi untuk mengguncang peta persaingan dengan gaya khas Italia: elegan, tapi buas.
Secara realistis, kehadiran Ducati di dunia motocross bukan tanpa risiko.
Dunia offroad punya kultur berbeda. Di lintasan ini, yang menentukan bukan hanya performa mesin, tapi juga daya tahan suku cadang, servis cepat, dan adaptasi mekanik lokal.
Beberapa pengamat otomotif bahkan sempat skeptis:
“Apakah Ducati yang dikenal halus dan mahal siap kotor dan rusak di tanah merah?”
Pertanyaan yang wajar. Karena Desmo450 MX — meski tampil menawan belum teruji panjang di iklim dan kondisi tanah tropis Indonesia.
Namun, itulah daya tarik sesungguhnya. Ducati justru sedang menguji keberanian, bukan sekadar performa.
Ducati Menerjemahkan DNA Balapnya ke Motocross
Ducati memanfaatkan teknologi balap Desmodromic Valve System sistem katup yang digerakkan tanpa pegas, memungkinkan respon mesin lebih cepat dan presisi tinggi di RPM ekstrem.
Di lintasan motocross, hal ini berarti traksi lebih baik saat keluar tikungan dan akselerasi tajam di trek menanjak.
Namun, di sisi lain, pendekatan teknologi tinggi juga membawa konsekuensi: spare part mahal, kebutuhan perawatan presisi, dan potensi kesulitan adaptasi bagi mekanik lokal yang terbiasa dengan mesin Jepang.
Tetapi seperti biasa, Ducati tak setengah hati. Tim teknik di Yogyakarta telah memodifikasi setelan suspensi, sistem pendinginan, dan rasio gear agar Desmo450 MX bisa “bernafas” di udara panas Semarang.
Antara Gengsi dan Realita
Keputusan Ducati untuk terjun ke motocross terasa heroik sekaligus penuh tanya.
Dalam industri otomotif, langkah seperti ini sering disebut “brand repositioning challenge” — mencoba memasuki segmen baru dengan risiko kehilangan identitas lama.
Apakah Desmo450 MX benar-benar bisa menandingi dominasi CRF dan KX di lintasan nasional?
Belum tentu. Tapi yang pasti, Ducati telah menyalakan percikan kecil dalam dunia motocross Indonesia yang selama ini monoton.
Dan mungkin, seperti kata pepatah balap klasik:
“Kadang yang paling berani bukan yang tercepat, tapi yang pertama mau melangkah keluar dari zona nyaman.”
Dari Lintasan Aspal ke Tanah Merah
Apapun hasilnya di Kejurnas Motocross 2025 Semarang, Ducati MX Team Indonesia telah menulis babak baru dalam sejarah motorsport Tanah Air.
Diva Ismayana dan Hilman Maksum bukan hanya membawa motor mereka membawa identitas baru Ducati: berani, fleksibel, dan tak takut kotor.
Desmo450 MX mungkin masih mencari pijakan sempurna di tanah tropis Indonesia. Tapi satu hal jelas — getarannya sudah terasa, dan suara mesin Ducati di lintasan tanah akan terus bergema.
Dan siapa tahu, beberapa tahun lagi, anak-anak muda di pinggir sirkuit akan menyebut nama Ducati bukan hanya karena Panigale merahnya, tapi karena motor cross-nya yang melompat paling tinggi.****
- Penulis: Magoh
- Editor: Dimas Lombardi

