Berita
light_mode
Beranda » Business » Diskusi EV Bareng Populix & FORWOT Masalahnya Masih Itu-Itu Aja

Diskusi EV Bareng Populix & FORWOT Masalahnya Masih Itu-Itu Aja

  • account_circle dimas
  • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
  • visibility 190
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

 

Diskusi Populix dan FORWOT sudah jadi alarm penting. Sekarang tinggal kita tunggu: apakah alarm ini dibalas aksi nyata, atau cuma jadi obrolan mingguan yang dilupakan begitu selesai?

 

Diskusi EV Bareng Populix & FORWOT Masalahnya Masih Itu-Itu Aja

 

OTOExpo.com , Jakarta –  Meski tren kendaraan listrik di Indonesia makin menggeliat, diskusi yang digelar Populix bersama Forum Wartawan Otomotif (FORWOT) justru mengungkapkan satu hal penting: masalah-masalah yang dihadapi konsumen masih stagnan di tempat.

Dari tahun ke tahun, persoalannya seolah copy-paste  minim bengkel, susah isi daya, dan baterai yang nggak kompatibel antar merek.

Diskusi ini menghadirkan perwakilan dari BYD Indonesia, ALVA, dan National Battery Research Institute (NBRI), yang membahas dari sisi riset, infrastruktur, hingga regulasi.

Namun, alih-alih menemukan angin segar, justru tercium aroma stagnasi sistemik.

EV di Indonesia: Melesat Tapi Masih Pincang

Menurut Susan Adi Putra dari Populix, pasar EV Indonesia sudah masuk ke level “emerging market”, bahkan lebih maju dibanding beberapa negara berkembang lain.

Tapi realitanya, banyak konsumen yang masih gigit jari karena urusan perawatan dan aftersales belum mendukung.

Yang bikin geleng-geleng kepala, kendaraan listrik udah hadir sejak 2010-an, tapi sampai 2025 bengkel khusus EV masih susah dicari.

Bahkan untuk servis non-kelistrikan pun, banyak bengkel masih ogah-ogahan terima EV.

Diskusi EV Bareng Populix & FORWOT Masalahnya Masih Itu-Itu Aja

ALVA: Kami Usaha Sendiri

William Kusuma dari ALVA mengakui, mereka memang bergerak aktif membangun jaringan bengkel mitra — dengan 46 bengkel EV saat ini tersebar di dekat diler-diler mereka.

Tapi, ALVA hanya satu dari sekian banyak brand EV.

Pertanyaannya, di luar ALVA, siapa lagi yang punya pendekatan se-serius ini? Tanpa kolaborasi lintas merek, masalah layanan purna jual EV akan terus jadi hambatan.

Konsumen pasti waswas, “Kalau mogok, servisnya ke mana?”

SPKLU: Masih Langka dan Gak Nyaman

Masalah kedua, menurut data Populix, 63% pengguna EV roda empat dan 29% pengguna roda dua masih andalkan SPKLU.

Masalahnya? Jumlah SPKLU masih jauh dari kata ideal, apalagi buat yang tinggal di luar Jabodetabek.

SPKLU memang lebih cepat dibanding ngecas di rumah, tapi coba deh praktikkan sendiri. Antre, panas-panasan, kadang error, dan lokasinya minim.

Rasanya kayak ngisi pulsa di warnet pas zaman dulu  ribet dan nggak efisien.

Standardisasi Baterai: Masih Mimpi?

Satu isu teknis yang seharusnya sudah selesai sejak lama adalah interoperabilitas baterai dan sistem charging.

Tapi, menurut Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini dari NBRI, hingga kini standar nasional untuk baterai kendaraan listrik masih abu-abu.

Setiap merek masih pakai format dan sistem pengisian sendiri-sendiri. Artinya? Mau ngecas di SPKLU merek lain? Belum tentu bisa. Ini bikin frustrasi pengguna dan malah memperlambat adopsi kendaraan listrik.

“Harusnya dibikin seperti ATM, Pemilik ATM BCA dapat melakukan transaksi di ATM Mandiri atau ATM BNI. begitu juga sebaliknya, walaupun ada biaya untuk transaksi antar bank. Tapi setidaknya hal tersebut membuat konsumen nyaman. Karena dapat mengambil uang dimana saja.” ungkapnya.

SNI Baterai Sudah Ada, Tapi Tidak Wajib?

Lebih miris lagi, meskipun sudah ada SNI 8872 sejak 2019 untuk keamanan baterai, regulasi ini belum wajib. Baterai adalah jantung kendaraan listrik  dan kalau sampai bermasalah, bisa sangat berbahaya.

Sayangnya, belum ada tindakan tegas dari pemerintah untuk memastikan setiap EV yang masuk dan dijual ke konsumen mematuhi standar keamanan. Ujung-ujungnya, lagi-lagi konsumen yang jadi korban eksperimen pasar.

Tapi Solusi Belum Terlihat

Diskusi ini seharusnya bisa jadi momen emas untuk menyamakan visi antar pelaku industri dan regulator. Tapi nyatanya, solusi masih sebatas niat dan rencana. Kolaborasi antar-brand? Masih jadi harapan. Regulasi dari pemerintah? Belum ketok palu.

Padahal, momentum adopsi EV sedang bagus-bagusnya. Kalau dibiarkan berlarut, konsumen bisa kehilangan kepercayaan dan menganggap EV cuma tren sesaat yang tidak sustainable.

Konsumen Ingin Simpel, Bukan Canggih Saja

Pada akhirnya, konsumen Indonesia hanya ingin satu hal: kendaraan yang nyaman, murah perawatan, dan gampang diurus. Mau hybrid, listrik penuh, atau hidrogen, kalau SPKLU sulit dan servis ribet, semua itu cuma jargon brosur.

Kecanggihan EV nggak akan ada artinya kalau masalah dasarnya masih dibiarkan menggantung. Pemerintah, pabrikan, dan penyedia infrastruktur harus duduk bareng dan ambil langkah konkret. Bukan sekadar diskusi sambil makan siang.

EV Bukan Sekadar Kendaraan, Tapi Ekosistem

Adopsi kendaraan listrik bukan cuma urusan jualan mobil. Ini soal ekosistem menyeluruh  dari regulasi, layanan teknis, hingga infrastruktur. Tanpa itu semua, pasar EV Indonesia bisa jadi besar di atas kertas, tapi rapuh di lapangan.

Diskusi Populix dan FORWOT sudah jadi alarm penting. Sekarang tinggal kita tunggu: apakah alarm ini dibalas aksi nyata, atau cuma jadi obrolan mingguan yang dilupakan begitu selesai? ***

.

.

.

.

.

  • Penulis: dimas

Baca Juga

expand_less