Datsun Akan Dibunuh Jadi Mobil Langka
- account_circle dimas
- calendar_month Senin, 28 Okt 2019
- visibility 230
- comment 0 komentar
- print Cetak

Datsun Akan Dibunuh Jadi Mobil Langka
Nissan dikabarkan akan menghentikan merek Datsun akibat penjualan menurun, krisis internal, dan regulasi emisi yang makin ketat.
OTOExpo.com – Langit industri otomotif global tampaknya semakin redup bagi Datsun. Merek yang pernah menjadi simbol mobil rakyat ini dikabarkan akan segera “dibunuh” oleh induknya sendiri, Nissan Motor Co., Ltd.
Jika rencana ini benar-benar terealisasi, maka Datsun bukan hanya berhenti diproduksi ia akan berubah status menjadi mobil langka, dikenang lebih sebagai artefak sejarah ketimbang pemain aktif di pasar otomotif.
Kabar ini mencuat seiring terus merosotnya performa penjualan Datsun di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan, isu penutupan pabrik Datsun di Purwakarta, Jawa Barat, sempat santer terdengar dan menjadi alarm keras bagi keberlangsungan merek tersebut di Tanah Air.
Arah suram Datsun tidak bisa dilepaskan dari guncangan besar yang dialami Nissan sejak Carlos Ghosn, mantan CEO Nissan, ditangkap terkait skandal penyelewengan keuangan.
Sejak peristiwa itu, Nissan dinilai kehilangan kompas strateginya. Aliansi raksasa dengan Renault, yang sebelumnya menjadi tulang punggung pertumbuhan global Nissan, pun mulai menunjukkan retakan.
Ironisnya, Datsun justru lahir kembali di era kepemimpinan Ghosn. Pada Maret 2012, Nissan secara resmi membangkitkan merek Datsun sebagai senjata untuk menembus pasar negara berkembang.
Filosofinya sederhana namun ambisius: menghadirkan mobil terjangkau dengan identitas global.
Setahun berselang, tepatnya Juli 2013, Datsun GO resmi meluncur sebagai model perdana. Mobil ini diproduksi di tiga negara—Indonesia, India, dan Rusia dan diposisikan sebagai kendaraan murah yang menyasar konsumen pemula. Indonesia bahkan sempat menjadi salah satu basis produksi dan pasar utama Datsun.
Namun realitas tidak selalu sejalan dengan rencana. Penjualan Datsun di berbagai pasar utama tak pernah benar-benar mencapai ekspektasi. Di Jepang sendiri, rumor “kematian” Datsun semakin kencang berembus. Nissan pun disebut berusaha meredam isu tersebut dengan pernyataan normatif, menyebutnya sebagai “penataan ulang strategi dan perencanaan”.
Di Indonesia, situasinya terasa paradoks. Meski penjualan Datsun tidak bisa dibilang moncer, angkanya sempat melampaui penjualan merek Nissan itu sendiri di periode tertentu. Namun keunggulan ini tidak cukup kuat untuk menyelamatkan Datsun secara global. Di pasar lain seperti Afrika Selatan, India, dan Rusia, performanya dinilai mengecewakan.
Masalah utama Datsun terletak pada fondasi strateginya. Mobil murah hanya akan relevan jika biaya produksi tetap rendah. Sayangnya, dunia otomotif terus bergerak maju. Regulasi emisi gas buang yang semakin ketat, ditambah standar keselamatan kendaraan yang makin tinggi, membuat konsep “low cost car” semakin sulit dipertahankan.
Jika Datsun dipaksa mengikuti standar emisi dan keselamatan terbaru, maka biaya produksinya otomatis meningkat. Konsekuensinya jelas: harga jual ikut naik. Pada titik ini, Datsun kehilangan alasan keberadaannya—ia tidak lagi murah, namun juga tidak cukup kuat secara citra untuk bersaing di kelas yang lebih tinggi.
Dalam konteks krisis keuangan yang masih membayangi Nissan, menghapus merek Datsun dari portofolio bisnis dinilai sebagai langkah rasional, meski pahit. Mengelola merek dengan performa lemah hanya akan membebani struktur keuangan perusahaan, terutama saat Nissan harus fokus memperkuat model inti, elektrifikasi, dan efisiensi operasional global.
Jika Datsun benar-benar dihentikan, maka perjalanan merek ini akan tercatat sebagai eksperimen besar yang tak sepenuhnya berhasil. Dari simbol mobil rakyat, bangkit kembali dengan ambisi global, hingga akhirnya tumbang oleh perubahan zaman dan tekanan regulasi.
Bagi konsumen, Datsun yang masih beredar di jalanan Indonesia kelak bukan lagi sekadar alat transportasi. Ia akan menjadi penanda era, saksi bisu dari sebuah strategi besar yang kandas di tengah jalan. Dan bagi industri otomotif, kisah Datsun menjadi pengingat bahwa murah saja tidak cukup adaptasi dan relevansi adalah kunci bertahan hidup.****
- Penulis: dimas
- Editor: Dimas Lombardi

