Daihatsu Kumpul Sahabat Sleman, Antara Kebersamaan dan Strategi Brand Humanization
- account_circle Pandito
- calendar_month Sen, 10 Nov 2025
- visibility 115

Daihatsu Kumpul Sahabat Sleman, Antara Kebersamaan dan Strategi Brand Humanization
Daihatsu Kumpul Sahabat Sleman, Antara Kebersamaan dan Strategi Brand Humanization
Masyarakat dan Komunitas Rayakan Kebersamaan Akhir Pekan Bersama Daihatsu Kumpul Sahabat di Sleman
OTOExpo.com , Sleman – Ada sesuatu yang menarik dari sebuah merek otomotif yang memilih untuk “kumpul.” Bukan meluncurkan mobil baru, bukan juga pamer performa mesin turbo atau teknologi hybrid.
Tapi sekadar mengajak orang datang ke stadion, bersenam pagi, makan kuliner lokal, lalu menyebutnya Kumpul Sahabat.
Itulah yang dilakukan Daihatsu, pada Minggu pagi, 9 November 2025 di Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Acara bertema “Bahagia Sejak Pertama” ini seolah ingin mengingatkan publik bahwa otomotif bukan cuma urusan mesin, tapi juga soal manusia.
Namun kalau mau jujur, di balik semangat itu terselip strategi klasik yang tetap relevan: brand humanization membuat merek terasa punya hati, bukan sekadar logo di belakang kap mesin.
Ketika Komunitas Menjadi Pilar Loyalitas
Sleman bukan sembarang pilihan. Kabupaten ini dikenal sebagai pasar otomotif terbesar di DIY, dengan denyut komunitas yang hidup.
Lebih dari 99% unit usaha di sini adalah UMKM, dan Daihatsu tahu betul: loyalitas di daerah lahir dari kedekatan sosial, bukan sekadar iklan digital.
Dari Zebra Club sampai Terios Indonesia, dari Sirionity sampai Taft Diesel Indonesia, semuanya hadir.
Sekilas seperti reuni besar lintas generasi mobil-mobil dengan cerita panjang berdampingan dengan wajah-wajah muda berkaos komunitas.
“Komunitas roda dua adalah awal dari banyak perjalanan,” ujar Budi Mahendra, Domestic Marketing Head PT Astra Daihatsu Motor. “Kami ingin tumbuh bersama mereka, bukan sekadar menjual kendaraan.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di dunia otomotif, itu adalah pernyataan strategis. Sebab di era SUV listrik dan mobil otonom, emosi adalah bahan bakar terakhir yang tak bisa diproduksi pabrikan.
Bahagia yang Dikelola
Ada Zumba Ceria, ada posyandu keluarga, hingga donor darah dengan target 100 kantong. Sekilas seperti kegiatan CSR, tapi jika dilihat dari kacamata pemasaran, ini adalah emotional marketing yang dikemas dengan apik.
Daihatsu paham, citra ramah dan murah senyum jauh lebih bernilai daripada satu iklan televisi berdurasi 30 detik.
Di sela acara, pengunjung bisa mencicip kuliner khas Sleman, mengikuti lomba keluarga, atau sekadar berfoto dengan Terios edisi lawas yang entah kenapa tetap tampak gagah di tengah lautan mobil baru.
Salah satunya milik Bambang Sutrasto, yang mengaku sudah menempuh 314.740 km dalam 15 tahun bersama Terios silver-nya.
“Saya tidak pernah menghitung berapa kali ganti oli,”
katanya sambil tertawa kecil. “Yang penting mobil ini selalu pulang.”
Kalimat sederhana yang justru lebih kuat daripada iklan “bandel dan tangguh.” Harga mobil mungkin naik, teknologi mungkin berubah, tapi kepercayaan tidak punya versi facelift.
Antara Strategi dan Ketulusan
Apakah Kumpul Sahabat ini tulus? Ya, mungkin. Apakah ini bagian dari strategi pemasaran? Sudah pasti. Tapi bukankah di dunia otomotif, keduanya memang tak bisa dipisahkan?
Dalam satu hari, Daihatsu berhasil mengumpulkan ribuan massa tanpa menjual satu mobil pun — dan justru di situlah kekuatannya.
Sebab di tengah dunia digital yang sibuk mengejar algoritma, mereka justru membangun hubungan analog: senyum, jabat tangan, dan obrolan ringan di parkiran.
Harga mobil Daihatsu mungkin tidak lagi semurah tagline “Mobil Sahabatku” dulu, tapi mereka masih paham bahwa hubungan manusia adalah “fitur” yang tak bisa ditiru kompetitor.
Dari Panggung Musik ke Panggung Emosi
Acara ditutup oleh D’Masiv, membawa nostalgia ke era ketika mobil keluarga masih jadi simbol kebersamaan, bukan sekadar alat transportasi.
Sementara Fitra Eri dan Manut hadir di talkshow otomotif, mengupas tren dan arah mobilitas masa depan.

Daihatsu Kumpul Sahabat Sleman, Antara Kebersamaan dan Strategi Brand Humanization
Dan di sela riuh penonton, ada narasi yang tak tertulis: bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi otomotif, brand yang menang bukan yang paling cepat, tapi yang paling hangat.
Daihatsu tahu bahwa masa depan mobilitas tak hanya soal baterai dan efisiensi. Ia juga tentang cara manusia merasa terhubung dengan mobilnya, dengan komunitasnya, dan dengan merek yang mengajaknya bicara, bukan menjual.
“Kebahagiaan,” kata seseorang di tepi lapangan sore itu,
“kadang sederhana: asal starter langsung nyala, dan masih ada teman di sebelah yang ikut tertawa.”
Kumpul Sahabat mungkin sekadar acara akhir pekan, tapi bagi Daihatsu, ini adalah cara halus merawat rasa di dunia yang semakin cepat kehilangan makna.***
- Penulis: Pandito
- Editor: Dimas Lombardi


