Bukti Mekanik Isuzu Indonesia Jadi Wajah Dunia di I-1 Grand Prix 2025!
- account_circle dimas
- calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
- visibility 185
- print Cetak

Partisipasi Isuzu Indonesia di Ajang I-1 Grand Prix 2025, Bukti Kualitas Mekanik Indonesia di Mata Dunia
Bukti Mekanik Isuzu Indonesia Jadi Wajah Dunia di I-1 Grand Prix 2025!
Partisipasi Isuzu Indonesia di Ajang I-1 Grand Prix 2025, Bukti Kualitas Mekanik Indonesia di Mata Dunia
OTOExpo.com , Jakarta – Di balik setiap mesin yang mengaum, ada tangan-tangan terampil yang bekerja dalam diam. Tahun ini, tangan-tangan itu berasal dari Indonesia dari bengkel-bengkel Isuzu yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
Mereka bukan sekadar mekanik, tapi “dokter-dokter mesin” yang berangkat ke medan laga dunia, ke I-1 Grand Prix 2025, kompetisi bergengsi tahunan yang digelar oleh Isuzu Motors Limited di Jepang.
Adalah Rakhmad Bastian dan Agung Pribadi, dua teknisi muda asal Tanah Air yang didampingi coach Yuda Arikunto, menjadi perwakilan PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) di ajang tersebut.
Mereka membawa semangat kerja keras dan kecermatan tangan mekanik Indonesia, menantang 37 tim dari berbagai negara yang sama-sama bernafas dengan oli, logam, dan suara mesin.
I-1 Grand Prix bukan sekadar lomba cepat memperbaiki kendaraan. Ini adalah ajang adu pengetahuan, refleks, dan intuisi teknik tingkat tinggi. Kompetisi terbagi dalam dua babak utama:
-
Technical Knowledge Competition (TKC): menguji wawasan mekanik tentang sistem kendaraan modern, perawatan, hingga troubleshooting digital.
-
Virtual Failure Diagnosis (VFD): menguji diagnosis kerusakan dalam realitas virtual dan ujian praktik nyata — mulai dari sistem elektrik hingga mekanik murni.
“Kalau di dunia balap, ini bukan soal siapa yang paling cepat. Ini soal siapa yang paling paham napas mesin,” ujar Rakhmad Bastian, sembari tersenyum saat ditemui usai sesi kompetisi.
Pusat Pelatihan Isuzu Jepang
Kompetisi digelar pada Oktober 2025, di fasilitas pusat pelatihan Isuzu Jepang. Dalam dinginnya udara musim gugur, para teknisi bekerja di bawah tekanan waktu dan presisi mutlak.
Di tengah 37 negara peserta, tim Isuzu Indonesia menembus peringkat keenam dunia pada kategori tim, sementara di kategori individu, Rakhmad Bastian berhasil finis di posisi kelima dan Agung Pribadi di posisi ketujuh.
Hasil ini bukan kemenangan biasa ini adalah bukti konsistensi. Tahun lalu, Indonesia sempat meraih posisi puncak. Tahun ini, meski gagal mempertahankan gelar, semangat juang mereka tetap menjadi cermin integritas otomotif bangsa.
Jepang
Ajang ini berlangsung di Jepang, tempat kelahiran teknologi presisi. Tapi resonansinya terasa sampai ke seluruh bengkel Isuzu di Indonesia.
Dari Jakarta hingga Makassar, dari Medan hingga Banjarmasin, kabar tentang prestasi ini menjadi bahan bakar moral bagi para mekanik muda yang bercita-cita menembus panggung dunia.
Seperti kata Rokky Irvayandi, Business Solution Director Isuzu Indonesia:
“Kemenangan bukan sekadar posisi di podium. Kemenangan sejati adalah ketika kemampuan mekanik kita diakui dan diandalkan secara global.”
Ajang Pembuktian
Di tengah derasnya arus digitalisasi otomotif dan peralihan menuju kendaraan elektrifikasi, kemampuan mekanik Indonesia sering kali diremehkan. Padahal, inilah garda terdepan layanan purna jual yang menentukan reputasi merek.
Kompetisi seperti I-1 Grand Prix adalah ajang pembuktian bahwa SDM otomotif Indonesia tak kalah adaptif dan tangguh.
Namun di sisi lain, ada catatan kritis: sudahkah industri otomotif Tanah Air memberikan cukup ruang dan dukungan untuk regenerasi mekanik berkualitas?

Partisipasi Isuzu Indonesia di Ajang I-1 Grand Prix 2025, Bukti Kualitas Mekanik Indonesia di Mata Dunia
Di era di mana servis mobil mulai beralih ke software, investasi pelatihan teknisi berorientasi digital menjadi keharusan, bukan sekadar prestise.
Isuzu, dengan ajang ini, seolah berkata: “Mekanik kami bukan hanya bisa memperbaiki mesin, tapi juga membaca masa depan.”
Seleksi Ketat Tingkat Nasional
Perjalanan menuju I-1 Grand Prix bukan hal instan. Setiap peserta harus melewati seleksi ketat di tingkat nasional, dilatih di pusat pelatihan Isuzu Indonesia, dan diuji dalam berbagai simulasi mulai dari mesin diesel konvensional hingga kendaraan berbasis common rail terbaru.
Mereka berlatih selama berbulan-bulan, menekuni skema pengujian yang melibatkan sistem injeksi, sensor, hingga komunikasi ECU.
Khusus tahun ini, Isuzu juga memperkenalkan modul baru untuk simulasi perbaikan kendaraan hybrid diesel, yang disiapkan sebagai bagian dari roadmap teknologi Isuzu ke arah efisiensi dan keberlanjutan.
Harga satu unit Isuzu D-Max 1.9L AT 4×4, kendaraan yang digunakan dalam beberapa simulasi, berada di kisaran Rp 510 juta, menandakan bahwa apa yang mereka sentuh bukan sekadar mesin, tapi simbol nilai dan kepercayaan.
Prestasi ini memang membanggakan. Tapi di sisi lain, dunia bengkel masih kerap dipandang sebelah mata. Gaji mekanik sering tak sebanding dengan tingkat kesulitan pekerjaan mereka.
Padahal, di balik setiap kendaraan yang kembali hidup, ada jam lembur, ada tangan berminyak, dan ada hati yang mencintai presisi.
Isuzu Indonesia telah membuka jalan, tapi semestinya langkah ini menjadi awal revolusi penghargaan terhadap profesi teknisi otomotif nasional.
Dari bengkel kecil di Jakarta hingga panggung dunia di Jepang, perjalanan mekanik Isuzu Indonesia adalah kisah tentang kesetiaan pada detail dan keberanian untuk bersaing di level global.
Mereka bukan hanya memperbaiki kendaraan mereka memperbaiki cara dunia memandang kualitas manusia Indonesia.
“Kunci sukses bukan di tangan, tapi di hati yang tak kenal menyerah.” pungkas Rakhmad Bastian, Mekanik Isuzu Indonesia, Finalis I-1 Grand Prix 2025.
- Penulis: dimas
- Editor: Dimas Lombardi
