BAIC buka City Store pertamanya di Gandaria City Jakarta dengan konsep showroom digital
- account_circle Pandito
- calendar_month Jumat, 18 Jul 2025
- visibility 186
- print Cetak

baic gandaria city
BAIC buka City Store pertamanya di Gandaria City Jakarta dengan konsep showroom digital
OTOExpo.com , Jakarta – Pasar otomotif Indonesia makin ramai dengan kehadiran merek-merek baru dari China, salah satunya BAIC.
Setelah meluncur beberapa waktu lalu, BAIC kini mencoba langkah ‘unik’ dengan membuka City Store pertamanya di Gandaria City Mall, Jakarta.
Sekilas terlihat keren dan modern, tapi muncul pertanyaan penting: Apakah ini strategi jitu atau sekadar gimmick marketing yang belum tentu efektif?
Dealer seluas 112 m² ini memang terlihat mewah dan berada di lokasi strategis. Tapi kalau dipikir-pikir, menjual mobil di mall yang biasanya jadi tempat belanja fashion dan makan bisa jadi seperti memaksa pasar untuk “melirik” tanpa benar-benar tertarik.
“Kami semakin optimis dengan hadirnya BAIC City Store Gandaria City ini,” ujar Dhani Yahya, Chief Operating Officer BAIC Indonesia.
“Lokasinya yang strategis akan sangat memudahkan akses konsumen, khususnya di area Jakarta yang rata-rata menguasai mayoritas penjualan kendaraan bermotor untuk brand-brand otomotif terkemuka di seluruh Indonesia. Ini adalah langkah penting dalam strategi kami untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan dinamis.” ujarnya lebih lanjut.
Apakah konsumen benar-benar akan memutuskan membeli mobil setelah lihat-lihat di sela belanja baju?

baic gandaria city
Konsep Digital, Cukup?
BAIC dan JHL Auto membanggakan bahwa City Store ini mengusung konsep digital. Brosur dan pricelist bisa di-scan lewat QR code.
Tidak ada lagi kertas-kertas menumpuk. Bahkan tersedia photo booth, mini games, dan lounge nyaman untuk pengunjung.
Tapi kalau boleh jujur, konsep digital semacam ini bukan hal baru di 2025. Brand-brand Jepang dan Korea bahkan sudah lama menerapkannya tanpa perlu banyak pamer.
Pertanyaannya, apakah benar fitur seperti mini games bisa mengubah calon pembeli jadi konsumen loyal? Atau justru hanya menarik keramaian sesaat tanpa dampak jangka panjang?
BJ40 Plus dan X55 II Dipajang, Tapi Masih Asing di Jalanan
Di dalam City Store ini, BAIC memajang dua produk andalannya: BJ40 Plus (SUV semi-off-road bergaya Jeep) dan X55 II (crossover futuristik bergaya coupe). Kedua mobil ini cukup menjanjikan dari sisi desain dan fitur.
Namun, kehadiran BAIC di jalanan Indonesia masih sangat terbatas. Tak seperti Wuling atau Chery yang mulai dikenal publik, mobil BAIC nyaris belum terlihat.
Ini menimbulkan pertanyaan: Apakah masyarakat siap menerima merek ini, atau hanya jadi “brand mampir sebentar” seperti banyak merek China lain yang gagal bertahan?
Promo dan Janji Menggiurkan
BAIC memang menawarkan berbagai promo, seperti DP mulai 15%, bunga 0%, dan hadiah voucher hotel mewah bagi pembeli pertama.
Bahkan, konsumen dijanjikan jadi Platinum Member di aplikasi MYJHL, bisa akses diskon dari jaringan JHL Group.
Namun, promosi agresif seperti ini juga pernah dilakukan merek China lain, dan tetap gagal menarik pembeli loyal.
Pasar Indonesia cenderung skeptis pada janji-janji awal, apalagi jika produk belum teruji di lapangan. Konsumen Indonesia ingin bukti nyata, bukan hanya gimmick hadiah dan lounge cozy.
BAIC menjanjikan layanan purna jual impresif, mulai dari free service hingga 80.000 km, garansi 5 tahun/150.000 km, hingga layanan Emergency Roadside Assistance (ERA) lengkap dari towing, jump-start, pengisian bensin, sampai ambulance.
Tapi ini juga jadi PR besar. Banyak brand otomotif gagal mewujudkan layanan ini secara konsisten, terutama di luar kota besar.
BAIC harus benar-benar menepati janji ini, jika tak mau kehilangan kepercayaan di awal langkahnya.
Target 25 Dealer di 2025, Tapi Apakah Terlalu Ambisius?
Dengan pembukaan ini, BAIC kini punya 12 dealer di Indonesia dan menargetkan total 25 dealer hingga akhir 2025.
Rencana ekspansi ke berbagai kota besar termasuk Yogyakarta, Lampung, Makassar hingga Batam memang terdengar ambisius.
Namun, memperbanyak dealer bukan jaminan keberhasilan, terutama kalau brand awareness-nya masih sangat rendah.
BAIC harus lebih dulu membangun reputasi, kualitas produk, dan layanan nyata, bukan sekadar jumlah dealer.
Inovatif, Ya. Tapi Realistis, Juga Perlu
Kehadiran BAIC City Store Gandaria City jelas menarik perhatian. Tapi jika dilihat dari kacamata kritis, ini lebih mirip upaya mencuri perhatian lewat gaya, bukan substansi.
Konsep showroom digital, lounge mewah, hingga mini games mungkin membuat pengunjung senang sejenak tapi belum tentu membeli.
Konsumen Indonesia makin pintar. Mereka tidak hanya cari yang baru atau keren, tapi juga yang bisa dipercaya, dirawat dengan mudah, dan punya nilai jual kembali yang jelas.
Kalau BAIC ingin benar-benar bertahan, mereka harus buktikan lebih dari sekadar tampilan—servis purna jual, keandalan produk, dan konsistensi adalah kunci.
Kalau tidak, City Store ini bisa saja hanya jadi ‘etalase cantik’ yang sepi pengunjung di tengah hiruk pikuk mal.
“Kami juga percaya bahwa kehadiran kami di pusat perbelanjaan akan memudahkan calon konsumen menjelajahi produk BAIC dalam suasana yang nyaman dan modern.” pungkas Johnnathan Salim, Direktur PT JHL Auto ***
.
.
.
- Penulis: Pandito
